Takziah

Untuk menyatakan kakiku dekil, nenek mengatakan kakiku bisa ditanami jagung. Dikatakan begitu ketika aku menggaruk-garuk kudis, sebelum dan sesudah disuruhnya aku tidur siang. Bila kuturutkan masuk kamar kemudian tidak bisa tidur, diam-diam kusepakati kakiku memang bisa ditanami jagung. Sendiri, berlinang airmata, kubayangkan kakiku dicangkuli petani dan kemudian tumbuh jagung; Kupetik jagung itu dan kuberikan ibu, paman, dan nenek. Juga kupetik untuk kujual untuk uang jajanku sendiri, dengan begitu uang jajanku sama besar dengan uang jajan anak bibi yang seumur denganku.

Kugaruk-garuk kudisku. Bagaimana aku bisa tidur kalau kulitku gatal dan airmataku mengalir. Kalau kakiku bisa ditanami jagung, tentu lenganku juga bisa. Tetapi bagaimana jagung bisa tumbuh di kaki dan lenganku tanpa lebih dulu kakiku dicangkul dan ditugal. Dan aku tidak sanggup membayangkan kakiku ditugal seperti tanah sawah untuk lubang benih. Namun seandainya kakiku benar bisa ditanami jagung, bolehlah asalkan kakiku seluas sawah, biar hasil kakiku bisa membantu ibu dan ayah yang ditinggalkan ibu di desa kelahiranku. Dan, bila kemudian aku kembali ke teras dan menggaruk-garuk kudis, nenek kembali menyuruhku tidur ditambah olok-olok bahwa diriku seperti anak orang Budug. Budug, desa tanpa salah apapun padaku, tak sekalipun pernah kukunjungi, mendadak kuanggap penduduknya orang-orang buruk. Dan, bila aku tetap di teras menggaruk-garuk kudis, nenek tidak mengubah kata-katanya, misalnya dengan mengatakan kakiku bisa ditanami tomat, terong, atau pare yang pahit. Tetap saja dikatakan kakiku bisa ditanami jagung. Seakan telingaku hendak dikebalkan akan bunyi-bunyian pedas dari kata-kata yang sama. Seakan kakiku tanah ingkar yang hanya bersedia menumbuhkan jagung. Bahan nasi di masa paceklik.

Kalau saja nenek mengatakan kakiku bisa ditanami wijen atau kenikir, mungkin aku bisa geli dan tersenyum sendiri seraya menggaruk kudis. Aku akan berbangga pada kaki sendiri dan menganggap kakiku subur di tangan petani saleh yang tidak hanya mengandalkan syukur dari tanaman jagung.

Hamparan bintang di langit cerah menyergap kami. Hati kami mengempis dan menciut. Serasa lepas dari perkabungan menuju pengaguman pada semesta kasat mata namun gaib.
Kurasakan dengan utuh perasaan Yu Roch saat bertasbih. Kecuali sebab adik kandung, aku duduk sebecak dengan Yu Roch dan terpukau oleh langit yang sama. Langit maha luas dan maha inggi itu. Bebintang menghampar. Tak terhitung. Yang terang berpendar tenang, dan himpunan bintang maha banyak dan maha jauh tampak melembut serupa kabut cahaya, serupa tumpahan susu kedelai di sekitar ceruk-ceruk hitam serupa olesan jelaga. Makin menciut hati kami oleh tujuan kepergian ini, takziah untuk nenek yang dipanggil sang pencipta angkasa raya itu. Ke sela kabut cahaya itu ruh nenek telah dibawa, siapa tahu begitu, dipertemukan dengan ibu yang telah dipanggil lebih dulu.

Becak yang kami tumpangi tak berlampu, melaju di aspal nan mulus, di jalan tak berpenerangan pula.
Mataku belum beradaptasi dari sorotan lampu kendaraan di jalan raya provinsi seturun dari bus, sampai di atas becak di kegelapan jalan ini. Kami berserah pada mata tukang becak dalam menerobos kegelapan yang suara napasnya berdesis halus di belakang telinga kami. Lalu, ketika becak sampai di ruas jalan yang diapit persawahan, kepalaku mendongak. Astagfirullah.
“Lihat langit itu, Yu Roch!” pintaku.
Dan kami berdua menatap langit.
Terkesiap hati kami. Tak henti-henti Yu Roch berucap “Subhanallah,” ada atau tiada meteor melesat.
Kurasakan perasaan di balik suara Yu Roch. Itu suara terkombinasi dari ketakjuban atas keagungan semesta raya dan kesadaran seorang hamba yang seolah debu berpikir dan merasa terkucil. Debu yang menggetar oleh rasa terpencil dan ingin menagis.
Lalu pandangan kami ke langit sesaat terhalang rindang pohon pinggir jalan.
Tetapi rasa ciut dan kempis terlanjur mencekam hati kami.

Mataku mulai melihat samar-samar aspal jalan yang mesti dilintasi roda becak dan tepi jalan yang tidak boleh ditabrak. Namun, sebab gelap, pohon tepi jalan tidak bisa dikenali dari bentuk daun.
Tak terhitung berapa kali saya melintasi jalan ini.
Aku pernah melintas dengan dibonceng motor BSA oleh paman. Pernah dengan dibonceng sepeda kayuh jenis jengki. Pernah dengan naik dokar. Pernah juga dengan berjalan kaki dalam gandengan tangan ibu yang melelahkan.
Berjalan kaki bersama ibu, menempuh jarah terjauh dan penuh keterpaksaan seorang anak di usia emasku.
Ketika itu ibu berulang-ulang berpesan agar kalau sampai di rumah nenek kemudian ditanya dengan apa kami datang, oleh siapapun pertanyaan itu, harus kukatakan datang dengan naik becak. Kenyataannya ibu dan aku berjalan kaki dari rumah kami di suatu desa dan baru naik becak menjelang tiba di rumah nenek malam hari. Saat itu aku belum memahami kata minggat.

Sekarang saya dan Ru Roch di atas becak melaju malam hari, tentu, bukan sebab minggat.
Aku larut pada pikiran masa itu dengan telinga mendengar Yu Roch bertasbih.
Masa itu, sebab tidak tidak terurus dan nir gizi, aku jadi mejan dan kudisan.
Setiap makan siang bersama keluarga paman, aku selalu mengawas kiri kanan. Ketika merasa tak ada yang memperhatikan, kutumpahkan isi piring ke kolong dipan dapur. Aku tidak sanggup makan nasi dengan lauk gimbal teri yang digoreng dengan minyak goreng bercampur minyak tanah, setiap hari. Perutku mual sejak mencium aroma gimbal teri digoreng.

Tentang minyak goreng bercampur minyak tanah di rumah paman, begini ceritanya: Pamanku yang tentara berteman dengan keluarga pemilik toko kelontong yang Tionghua. Entah bagaimana ceritanya di toko itu sampai satu kaleng besar minyak goreng tercampur minyak tanah. Yang pasti minyak itu tidak laku dijual dan kemudian diberikan kepada paman.

Maka, selama bibi memasak dengan minyak itu, selama itu pula ayam-ayam piaraan bibi menerima limpahan jatah makanku di kolong dipan dapur.

Kesal sebagai orang tidak makan di tengah keluarga yang tengah makan, saya menyendiri dan menggaruk kudis. Di teras, rasa gatal dan enaknya digaruk untuk sementara mengalihkan dari rasa iri dan lapar. Namun ketika nenek mengatakan lagi kakiku bisa ditanami jagung, aku jadi ingin makan dadar jagung yang kupetik dari kakiku sendiri. Dadar jagung yang digoreng dengan minyak kelapa tulen, bukan minyak goreng tercemar minyak tanah.
Dan, sebab tak sampai hati menutup telinga dengan kedua telapak dari celaan nenek, kakiku membawa tubuhku menghampiri pohon sawo tua yang tumbuh dengan batang hampir merangkak di halaman rumah di sebelah rumah nenek. Saya menunggang batang sawo itu dan telungkup, menggaruk kudis. Ternyata, tubuh kudisanku lebih bisa teridur di batang sawo daripada di rumah nenek dan atau rumah paman. Tubuh kudisanku lebih suka tidur sebab kantuk dan malah kehilangan kantuk manakala disuruh-suruh tidur.

Tubuh berkudis yang lain daripada yang lain ini. Tubuh yang di dalamnya berada hati yang lebih menerima mejan dan kudisan daripada olok-olok.

Aku masih telungkup, memeluk dan menguping batang pohon sawo.
Pohon Sawo, saran apa yang ingin kau bisikkan di kupingku? Aku mejan dan kudisan. Ibuku memanggul pintalalan kain dan mengelilingkannya dari rumah ke rumah, dari desa ke desa, dan tidak akan pulang sampai petang hilang. Jika ibu menyeberang sungai berarus deras, Sawo, bantulah aku doa agar ibuku lebih berhati-hati dalam menyeberang, menyeberang dengan perlahan-lahan tidak mengapa, agar tidak sampai terpeleset dan hanyut terseret arus kencang, agar ibu bisa pulang ke rumah nenek, tak apa terlalu malam.
Sawo, nenekku mengata-kataiku kakiku bisa ditanami jagung. Mengapa tidak dikatakan kakiku bisa ditanami sawo, Sawo? Akankah terlalu memberatkan langkahku jika kakiku membawa pohon sawo? Mengapa pula tidak dikatakan kakiku bisa ditanami rumput, yang itu ringan dan menjadikan kakiku tampak hijau. Yang itu mendatangkan kekaguman orang, dan orang-orang akan memuji kakiku sambil membelai-belai kakiku. Mengapa yang begitu tidak terjadi pada kakiku, Sawo?

Apa yang ingin kau sarankan atas kakiku, Sawo.
Kakiku hitam dan tidak menjadi lebih menarik dengan putihnya sisik kudis. Bukankah itu tak seberapa parah dibandingkan dengan kulit batangmu yang retak-retak dan menua, Sawo, semisal dirimu manusia?
Semisal dirimu manusia, saran apa yang bisa kudengar darimu mengenai ayahku?
Ayahku mungkin menebang tangkai tandan pisang yang masih mentah, untuk dikukus dan dimakan. Besuknya ayahku mungkin menggali tanah untuk mengambil umbi uwi, untuk dikukus dan dimakan. Sebab ibuku di sini, Sawo, dan tidak ada yang menanakkan nasi untuk ayahku.
Apa yang engkau sarankan padaku, Sawo, seandainya kamu manusia dan tahu aku kangen ayah?
Di desa nenek ini aku tidak bisa ke sawah, untuk menangkap ikan di got atau mengetapel burung emprit yang makan padi. Setiap siang hanya menggaruk kudis, memeluk dan menguping batangmu yang katanya hidup tapi mengapa hanya diam, Sawo?
Kau dengar kata-kataku?
Kau pasti tahu nenekku, Sawo. Nenekku gemuk, besar, dan berambut putih berkilau. Aroma tubuh nenek amat kukenali dan membekas kuat dalam ingatan, khas, tak terdapat padanan aroma itu pada buah asam atau pisang ranum.

Setiap subuh nenek melantunkan puji-pujian yang menyebut Syeh Kadir Jaelani. Puji-pujian yang kerap membangunkan tidurku dan amat kurindukan bila bangunku mendahului nenek dan tergesa bertemu pagi.
Suara puji-pujian nenek lamban dan tanpa ketegangan, seperti ocehan bayi berlatih pelafalan.
Pasti suara nenek sampai di sini, Sawo, sebab subuh yang hening suka mengantar suara lirih ke tempat jauh.

Becak yang kami tumpangi sampai di Masjid Lor. Dor! Roda depan sisi kiri becak bocor. Astagfirullah. Pertanda apa ini.
Apakah ini berarti saran agar kami menziarahi makam nenek di makam keluarga di kompleks masjid itu, malam buta ini juga? Kukira ya, asal kami benar-benar mabuk perkabungan. Kurasa tak cukup gelaran bintang-bintang di angkasa raya menciutkan hati kami, masih harus dimakinciutkan lagi dengan sihir makam baru di kegelapan kuburan?
Kukira juga tidak. Dalam keadaan hidup dan mati tak seorang nenek menginginkan cucu tersandung-sandung nisan kuburan.
Lantas mengapa ban becak bocor tepat di Masjid Lor?
Yang pasti kami, Yu Roch dan aku, sepasang kakak beradik yatim piatu ini, harus berjalan kaki ke rumah paman yang tinggal beberapa ratus meter saja. Lantas, kalau sampai di rumah paman ada yang bertanya dengan naik apa kami datang, aku mesti menjawab bagaimana? Dadaku bergetar.
Dulu, waktu berjalan kaki bersama ibu dari desa tempat ayah ditinggalkan, di dekat Masjid Lor ini kami baru naik becak ke rumah nenek, dan ibu terus berpesan agar kukatakan datang dari rumah dengan dokar atau becak. Sekarang aku, bersama Yu Roch yang menggantikan fungsi ibu, seolah menuntaskan jalan kaki bersama ibu saat itu.

Seorang guru di SMK dan SMA. Ia aktif menulis cerpen sejak SMA. Cerpen pertama dimuat di Surabaya Post tahun 1982. Lulus pendidikan bahasa dan sastra indonesia universitas Muhammadiyah surabaya. Pegiat sastra di beberapa komunitas di Surabaya, khusunya sekolah. Beberapa karya cerpen terantologikan di beberapa buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *