Sepatu: pergi liburan dan selfielah

Puisi-Puisi dan Post Puisi Karya Widhiyanto Muttaqien

I

Sepatu: pergi liburan dan selfielah

Dua tokoh bersenda gurau dalam tweet war, tokoh lain berhalusinasi menulis biografi dirinya : surat dari penjara atau surat ke penjara, seorang imam sibuk bicara rasis dan PKI dikembalikan dari mimpi dan musium memori, sarjana yang baru saja kenal dunia dengan bangga mengutip syair Internasionale dan bungabunga akan mekar, perang berkecamuk di berbagai media, satu peluru ditukar satu barrel minyak, nyawa tidak lagi statistika – satu atau sejuta cuma alat tukar untuk dusta yang begitu terbuka. Di semua negara ahli ekonomi berlomba untuk membayar buruh serendah-rendahnya dan terus mengotori udara. Saat lebaran di kampung keluar pujian, negara kita maju, kita sekarang mudah membeli sepatu dan baju bertuliskan revolusi, kekuatan sudah di tangan rakyat, lihatlah spanduk perubahan di semua kantor pemerintahan. Free Shipping, sepatu ini sanggup menyeberang selat Malaka, ke China, Afrika, Eropa, Amerika: sama saja, asal uangnya diputar di Indonesia, untuk beli media, demonstrasi, regulasi, politisi. Baju palu arit ini membuatmu gagah karena dikejar orang bodoh.

Hidup tentram dan damai, pergi liburan dan selfie-lah kawan, sebuah lagu besutan Ki Hadjar Dewantara diterjemahkan dari Internasionale menemani perjalanan, mengenang masa muda yang menyerempet bahaya.

Bangunlah kaum jang terhina,
bangunlah kaum jang lapar!
Kehendak jang mulja dalam dunia,
senantiasa tambah besar.
Lenjapkan adat dan paham tua,
kita rakjat sadar-sadar.
Dunia sudah berganti rupa,
untuk kemenangan kita.

REFRAIN (2×):
Perdjoangan penghabisan,
kumpullah melawan.
Dan Internasionale,
pastilah didunia!

II

hari ini, dua tahun lalu. nama-nama yang membuat kita begitu kaya

sebuah juli selalu tua, warnanya selalu sephia, hari ini sebuah kereta mogok di depok, tepat hari pertama kerja dan hari kedua dalam kalender, ahad yang berarti pertama, bisa juga diartikan satu, temanku bertanya kenapa mesti ada minggu yang artinya berdoa – aku menunggu hari ketujuh, untuk bangkit, menuju tanggal 1717 besok, mengganti warna pada sampul buku, gagang sikat gigi, wadah kopi – bulan juli kali ini aku memilih warna kelabu perak, kereta sudah berlari kembali. pengelola meminta maaf, suasana masih lebaran ketupat, aku tidak berharap bertemu dengan orang gila di kereta yang memiliki ilusi pada sangkurnya yang berdarah, aku tidak melihat sangkur, sebuah pisau komando tergeletak di tubuh yang berdarah, bening mata pisau merobek cerita, sebuah cerita bisa salah, namun bulan juli tidak, selain selalu tua, pilihannya tidak begitu banyak sephia atau kelabu perak, juli kali ini begitu manis, dan aku merasa begitu bodoh, mendengarkan sunyi besi yang terus berderak, seperti dua kebenaran yang terus bergesek membuat bunga api – berloncatan di bawah laut 

Sudah, nak! Terkadang apa yang tidak kau bicarakan lebih bernilai daripada yang kau bicarakan: Sponge Bob

III

Pada tubuhmu plastik

Dadamu yang plastik, berwarna pelangi
Kucium di semua titik akupunktur
Lengkung elastik, pekik erotik
Bunyi dentur, di semua fraktur
Kontur badanmu, warnawarni luntur
Tetap kucari tekstur pada setiap kata
Melantur pada semua tutur – membanjur
Menjelujur semua bujur, semua busur
Yang terlanjur – tercabik – tak balik 

2017

IV

percakapan tentang kemungkinan kesekian

aku mencari saman, dalam jaman yang kecil, diantara kita mungkin hanya jeda, kosong atau permainan sembunyi, di antara tulisan atau lisan yang kita bincangkan

seringkali hanya cerita – tentang lawan atau bungkam, aku sempat mencarimu di kusam buku-buku yang terasa asam, tentang kesanggrahan

di dinding malam, yang lapar akan tulisan – yang menjadi batu di wajahmu, padahal dari ribuan manusia yang kukenal, aku mengharapkan satu kata saja menjelma sebutir telur

kita akan memeramnya bersama – hingga menjadi ayam jantan, melepasnya pergi untuk berburu dan berkelahi, mengejar semua betina untuk ditidurinya

atau kita pecahkan, mengaduknya dengan konstan – hingga berbusa, kita bisa membandingkannya dengan semua percakapan kita, tentang ekonomi yang penuh represi

aku tidak bisa membayangkan perang atau kesanggrahan di dalamnya, hidup terlalu singkat, kasar, dan Yoko Ono telanjang bersamanya berimajinasi tentang dunia tanpa agama

di tahun-tahun itu kita lahir, jaraknya hanya sepersekian detik dari tulisan ini, entah mengapa waktu selalu bolak-balik di kepala, atau kata-kata hanya berisi waktu

aku membaca mazmur, dalam gerejamu, menunggu waktu berbuka, dengan menu a la Amerika, sebuah waffle dan secangkir kopi, di sebuah kedai filosofi di tempat dimana masa lalu berdentang

tak tahu harus bergembira atau bersedih, kisah sedih seringkali memicuku untuk bahagia, tuhan selalu memberkati semua orang, pengampun, sederhana

aku menunggu undangan, sebuah perdebatan-kesanggrahan dalam nyanyian yang keluar dari perut bumi yang penuh lubang, kita ingin berbuat apa

di depan mata, satu-satu ayat kering dan luruh, ayat yang hidup dari bumi, ayat-ayat induktif katamu, bergantian tumbuh, walau bom juga tumbuh dimana-mana, menggantikan akal sehat

yang masih libur atau kena phk, ekonomi itu efisien juga seperti Hiroshima tahun 1945, ekonomi bisa juga membuat cendawan dari air mata atau keringat, radiasi yang sempurna hingga tiga generasi terlunta

kita bisa apa, bercakap-cakap sambil menonton Al Jazeera, berdebat seperti orang tolol tentang siapa selanjutnya yang menjadi peran pendamai, di kawasan yang terus panas

tempat kopi dan mazmur dirayakan pertama kali, aku dan teman-teman, kau dan teman-teman, membaca akhir kalimat Adam dan para penemu, Hawa dan benda-benda yang ditemukan, Qabil

yang mendengarkan musik Grunge, mungkin memilih menjadi vokalis utama dibandingkan membunuh, atau bunuh diri sebelum usia 27, jadi legenda yang dibincangkan setiap remaja yang bolos sekolah

atau orang biasa, yang bertani di tengah hutan, tak pusing soal perebutan mentri dalam negeri, mentri pendidikan, mentri agama, tak peduli presiden siapa, bersama empat atau sembilan istri, atau satu istri dengan 20 selir seperti kaisar Cina atau raja Jawa

berpindah-pindah tempat, dari ladang satu ke ladang lain, beranak-pinak, tak risau dengan perubahan iklim dan gas rumah kaca, hanya risau pada pertanyaan istrinya

tentang suara pesawat yang sebelumnya delay enam jam, selain itu modern seperti kegilaan permanen, yang terus membuat rumah menjadi gudang, dan hari-hari penuh dengan lubang jebakan utang

kau akan mendengar takbir, itu hanya sebaris kata, yang membuatku menangis begitu rupa, sebuah malam akan penuh dengan nyanyian, mungkin ada hujan dan jamuan

aku akan membaca setiap kilau cahaya, dari semua kata, seperti yang kukatakan, semua kata mungkin hanya berisi waktu

mungkin berisi hujan dan jamuan

2017

Fasilitator dan Peneliti; aktif di Akademi Sinau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *