Ramadan dan Daya Literasi

Ibnu sina meninggal di bulan Ramadhan tahun 428 H bertepatan dengan bulan Juli tahun 1037 M dalam usia 57 tahun.  Bila al farabi telah meninggalkan pusaka teramat berharga dalam bidang fislafat dan musik, maka Ibnu Sina atau bernama lengkap Abu Ali Husein bin Abdullah Bin Sina ini telah mewariskan kedalaman falsafah dan ilmu tabib (kedokteran).

Kalimat di atas sengaja dibuat untuk menghubungkan bagaimana tradisi literasi itu cukup kuat dimiliki oleh hasanah islam di masa itu. Hari ini elan vital tradisi literasi itu sedang dicari dan revitalisasi dengan segala upaya untuk membongkar kejumudan pikiran dan sepak terjang ummat islam dalam sumbangsihnya terhadap pengetahuan khususnya dan dalam bidang kebudayaan pada umumnya. Tahun 1912 Kiai Dahlan memulai menggugah ummat islam untuk memajuak perikehidupannya dengan memperbarui (tajdid) di dalam islam. Terobosan pendiri Muhammadiyah dalam pemikiran dan praktik Islam berkemadjoean di zaman itu kini digairahkan kembali dalam konteks Indonesia dan Islam berkemajuan. Di Muhammadiyah sendiri, mewujudkan masyarakat ilmu adalah salah satu upayanya  yang serius dengan dibuktikan amal usaha di bidang pendidikan.  Perguruan tinggi islam (Muhammadiyah) didesain untuk menjadi center of excellent konstribusi islam untuk memajukan bangsanya. Tradisi literasi dan tradisi ilmu pengetahuan adalah kembar siam di dalam hasanah dan era kejayaan peradaban islam.

Spirit literasi itulah telah membuktikan bagaimana peran islam dalam kebudayaan yang kemudian M Natsir, Ketua Umum Masyumi,  menamainya sebagai ‘kebudayaan Islam.’ Dalih ini telah diakui juga oleh seorang ahli sejarah bernama Prof H.A.R Gibb dalam bukunya Whither Islam. Dia mengatakan bahwa, ‘ islam is indeed much more than a system of theology, if is complete civilization.” Bahwa islam kemudian dikenal  dunia internasional sebagai sebuah peradaban unggul sejatinya telah muncul tanda (signal) itu pada saat turunya ayat pertama kepada nabi Muhammad di bulan Ramadan yaitu ayat literasi: iqro’ (bacalah)! Yang kemudian ini menyaratkan perilaku hidup ummat islam sebagai perilaku hidup yang diselimuti pengetahuan dan mental berkemajuan.

Spirit iqra/spirit literasi yang menggemah pertama kali di bulan ramadan dapat dibaca dalam peran historisnya setidaknya terdapat dua hal pokok. Pertama adalah peran peran memproduksi  dan memproduksi pengetahuan (science). Kedua, adalah peran menjembatani proses transformasi dan hubungan antar peradaban, dan terakhir, adalah dari kesemua itu adalah peran-peran literasi untuk memuliakan kehidupan semua bangsa.

Pertama, dalam peran produksi pengetahuan. Spirit bulan ramadan adalah kekuatan literasi untuk mengubah dari tuna pengetahuan menjadi berpengetahuan yang maju dan diperhitungkan—inilah makna transformasi yang juga dibawa oleh bulan puasa yaitu Minadzulumatit illan Nur, dari yang tidak mempercayai pengetahuan menjadi lebih percaya atau dari yang fakir pengetahuan menjadi produsen pengetahuan yang dibalut dengan ketaqwaan otentik. Sehubungan dengan ini, patut kiranya kita merenungkan butir-butir ringkasan M Natsirdalam buku Kapita Selecta (1955)  mengenai bagaimana islam sebagai peradaban atau sebagai kebudayaan.  Pertama, agama islam menghormati akal dan agar dipergunakan untuk menyelidiki keadaan alam. Kedua, agama islam mewajibkan pemeluknya menuntut ilmu. Ketiga, agama islam melarang bertaklid buta—menerima sesuatu sebelum diperiksa sehingga sangat diwajibkan  setiap pemeluknya mencari kebenaran. Terakhir, adalah mewajibkan berhajji bagi yang mampu untuk menghubungkan persaudaraan dirinya dengan kebudayaan bangsa lainnya.

Point-point penting tersebut di atas sangat merepresentasikan daya literasi dan tradisi ilmu di dalam sejarah islam. Akhir-akhir ini dirasakan ada kemandegan (involusi) di dalam diri pemeluk islam yang tidak lagi tertantang untuk mengembangkan pengetahuan  sehingga kekuatan mayoritas islam hanya menjadi data statistik yang tidak diperhitungkan di jagat pengetahuan—b ahkan ironisnya terjadi konservatisme berlebihan (inward looking) sehingga enggan bersentuhan dengan kebudayaan lain dan sebagai akibatnya kelompok silent mayority ini hanya menjadi konsumen dari hingar-bingar pertumbuhan teknologi. Barangkali kisah Khalifah Ja’far al-Mansur (754-775M) di Bagdad patut kita jadikan uswah untuk kita bersama.  Khalifah al Mansur ini pernah mengundang ahli obat, Georgy Bachtisju. Ia seorang kristen. Karena kegigigan khalifah ini, ketika beliau meninggal, di Bagdad sudah dapat menghasilkan peninggalan yang spektakuler di bidang ilmu astronomi, ilmu tabib, dan ilmu hitung. Sikap inklusivitas yang demikian inilah yang layak direplikasi dalam kehidupan kontemporer hari ini dimana tantangan zaman semakin berat. Khalifah lainnya, seperti Harun al Rasyid, Al Ma’mun juga menaruh perhatian sangat besar pada ilmu alam, agama, dan filsafat.

Setiap bulan ramadan seharusnya menjadi pengingat sangat serius bagi ummat islam untuk membangun tradisi literasi termasuk hari ini adalah literasi media. Sejarah cemerlang islam telah menunjukkan bahwa tingkat  melek pengetahuan, tradisi membaca dan menulis telah mengubah ajaran islam keluar dari dogma dan sekadar urusan teologi tetapi menjadi praksis yang menjawab persoalan-persoalan aktual manausia dan kehidupan itu sendiri. Daya literasi pemimpin islam zaman dahulu telah menjembatani hubungan antar peradaban misalnya bagaimana islam juga menerjemahkan dan mempelajari warisan-warisan pengetahuan ketatanegaraan dari Plato, kitab hitung dari Euclydes, dan kitab-kitab astronomi dari Ptolemeus. Daya literasi islam sangat menghargai capaian-capaian peradaban di sepanjang sejarah manusia. Pun  sebaliknya, karya-karya dari hasanah islam diterjemahkan ke berbagai bahasa dan diambil intisarinya untuk kemajuan bangsa-bangsa lain di dunia.

Kekuatan penghubung ini juga sangat kuat diperankan oleh Ibnu Sina dan Ibnu Rusd yang diakui oleh seorang filosof Barat, Robet Bacon. Peran kedua tokoh Islam tersebut dihargai telah memberikan keterangan dan penerangan sangat luas dan gamblang akan warisan pemikiran Aristoteles yang tersembunyi sekian lama. Inilah yang dimaksudkan islam sebagai pengamban misi penghubung antar peradaban.

Terakhir, bahwa berbagai capaian kebudayaan islam di atas adalah utama dan terutama adalah dalam rangkah membangun kehidupan manusia di muka bumi sebagai khalifah—untuk memastikan semua bagian alam semesta terjaga dan dirawat untuk keseimbangan hidup dan tata kehidupan. Misi universalisme islam ini juga menjadi manifesto bahwa islam adalah agama yang selamat dan menyelamatkan, damai dan mendamaikan, serta kehadiranya diharapkan menjadi rahmatan lil alamien.

Hanya jika ummat dengan daya literasi tinggilah yang mampu membaca dan merasakan suara dan semangat zaman orang-orang terdahulu, mereprodkksi kekuatan kelompok pemula kaum cerdik cendekia yang dilahirkan dari rahiem al-qur-an  dan dari peradaban islam pada umumnya. Para as shabiqun al awwalun, pelopor pencipta pengetahuan  inilah yang menjadikan kita hidup dalam terang benerang di dalam sebuah peradaban ilmu—tanpa mereka, atau tanpa kekuatan literasi yang kita semai dalam kehidupan sehari-hari khususnya bulan ramadan ini, warisan berharga kaum intelektual-ulama hanyalah menjadi modal kehidupan yang mati (dead capital).

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dihuni oleh manusia dengan daya literasi aktual, kekuatannya terbarui, dan didorong oleh kekuatan teologi yang memadai sehingga orientasinya tidak terjebak pada materi tetapi melampaui materi. Bulan puasa melatih bukan hanya peduli kepada sesama, sholeh sosial, dan spiritual, tetapi bulan puasa juga melatih banyak orang untuk menghargai pengetahuan, mencintai ilmu, dan mendorong lebih produktif di dalam pencapaian derajat kemuliaan di hadapan tuha karena ketinggian ilmunya dan kemanfaatannya.  Sebagai penutup saya mengutip seorang sastwaran asal Amerika Latin, Carlos Maria Domingues,  bahwa “buku-buku mengubah takdir orang-orang dan pada akhirnya juga orang-orang mengubah takdir buku-buku” dan saya berkayakinan  pada peristiwa berikutnya adalah orang-orang ini mengubah takdir bangsa-bangsanya. Selamat menyemai karya dengan daya literasi ramadan.

Salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *