Puisi-Puisi Adlun Fikri Sang Penjaga Kebun

I

Merawat Bunga dalam Temaram

 

Kisah guritan berjibun pada meja pintu belakang
Saksi bisu sang pujangga muda merana
karena sajak tak kunjung sampai pada pujaan

lambat lawang
akhir jawaban
angan atas kahyangan
hanya khayalan dari bualan
sang pujaan yang melenyapkan

Sio nyong jang minta ampong
Lebebae beristianah pada tuan kampong

biarkan saja sang pujaan terbang
bebaskan ia berenang-renang
jangan biarkan ia tenggelam dalam kelam, kalau memang bunga telah tertanam
Tetap rawat senangnya, walau pujangga tenggelam dalam temaram

Dufa-dufa, 19 Juni 2017.

II

Bunga itu Gugur

 

Bunga bunga itu berguguran
diiringi tetesan hujan
janji setia tinggal kenangan
tertimbun gundukan rerumputan

sayang
Ia tak main-main dengan perjuangan
karena sakral akan janji yang diucapkan
resiko atas kekalahan
walau terlunta di jalanan
sampai titik darah penghabisan
asal janji bunga tetap dalam genggaman

pada akhir riwayat kehidupan
bersetia atau ada membelot

sayang
pilihan akhir didapatkan
saat masih setengah jalan
bunga bunga itu berguguran
diiringi tetesan hujan

Koloncucu, 19 Juni 17.

III

lunglai oleh si nyamo marabahaya
tra bisa lagi beta bersafari
serasa di kutub utara
lantaran meriang terus menghantui

tidak hanya itu
tidak hanya itu
siooo eee

asam menghantam hingga rongga dada
beta berteriak adodooo astagaaaa
kata tabib : nyong kurang makan
memang betul, ada makanan cuma kadang-kadang
sebab beta tinggal menumpang

jouuu
beta minta mimpi mama datang sayang-sayang
bawa minya taong deng sagu tumang
dan kalau bisa, bawa beta pulang ka Halmahera

Ternate, 11/6.

IV

Terhunus oleh rindu yang membuncah
Pemula muda tersesat dalam hujan
Ia berkaca pada serakan daun gugur
Lalu berimaji obat pelipur lara

Kampus, 4 Juni 2017.

V

melaju pada gelombang pagi
menuju tanah penyimpan cerita
kupecah lautan bekas pertempuran
bersama perahu menyaing kora-kora

Tidak kubawa pilu
apalagi geram
Sio
sebab pulang atas panggilan rindu
makan ketupa deng minun kelapa
dari keluarga di tanah halmahera

Laut Halmahera, 3 juli 2016 (ditulis ulang pada 4 Juni 2017).

VI

Malam pada Aku

malam mengisahkan
tentang kata seorang kawan
saat meniti trotoar jalan
menerka jaman
kita bahas asal muasal larangan
demi mulus menuju kahyangan

malam lalu menuliskan
kawan akan jadi lawan
membangkang atas larangan
jadi jumawa
menyimpan tangan
ia menerkam
merajam
menghantam
Dari dalam
tanpa bayangan, walau nyata
tanpa pandang, pernah berkawan
asal kahyangan bisa digenggam
karena Tuhan sudah bertitah : diantara kalian akan bertarung

malam menetes batin
setan bagian dari hakikat
rupa-rupa adalah sareat

Menuju malam Jumat
Ternate, 1 Juni 2017.

VII

Ini hari bukan main-main
Tujuh pul dua tahun bukan sekedar hari
Tapi akar api revolusi

Ini barang bukan bermain
Karena ini soal ideologi
Jadi jalan dalam duniawi
ambil bagian hakekat manusiawi

Ini kalimat bukan sekedar kata
Bukan pula euforia belaka
Apalagi jadi mantra berita

Adodooo kona e

Ini kata berisi makna
Bawa pesan dari bapak bangsa
Jangan torang paka dada
apalagi mengaku kuasa

Ini kata berisi makna
Paling perlu hayati bersama
segenap sampe mendalam
Agar torang jadi dewasa

Ini kata berisi makna
Membentuk mental, menuju jalan haluan arah
agar hilang yang jadi perkara, pembikin binasa

Ini kata berisi makan
Bapak bangsa nanti marah
kalo cuma jadi kenangan
Apalagi sekadar harapan

Ini hari bukan main-main
Tujuh pul dua tahun bukan sekedar hari
Tapi akar api revolusi

Selamat Satu Juni
Selamat Hari Pancasila
Tte, 1/6.

VIII

Teruntuk kawan di tanah Jawa :

Angin so batiop ka arah barat
baiko rindu dari para-para

Parahu deng panggayung so tra jadi masalah
Cuma sayang bolom ada layar

Beta tako karam di laut Banda

Maluku Utara, 30/5/17.

IX

Sajak Pada Jarak

(I)

pada jarak
aku belajar
tak pernah bohong
selalu menukil rasa : rindu

pada jarak
aku berharap
penuh sabar
terus merangkak : agar bertemu

pada jarak
aku terpatri
senantiasa menjaga rasa : rindu

 

(II)

pada jarak
aku belajar
selalu menukil rasa, mencipta karya

pada jarak
aku sabar
terus merangkak, makin mengakar

pada jarak
aku berkata
terima Kasih

Ternate (Rumah AMAN), 28 Mei 2017 (07.30 & 07.49)

X

Asmara Pantai Selatan

suatu malam di pantai selatan
tanpa purnama
kita memadu asmara

derai pasir mengalir menutup mata kaki
diantara hasrat dan mimpi
membuka mata hati
lalu .. mengungkapkan nurani

suatu malam di pantai selatan
tanpa purnama
kita memadu asmara

gemuruh ombak menjadi saksi
memohon ridha berbelas kasih
menyatukan cita teguhkan hati
harapan qalbu bersama tasbih
membalut sanubari

suatu malam di pantai selatan
tanpa purnama
kita memadu asmara
qalbu mencipta cahaya
memancar cakrawala

sililoa pada pemilik pantai yang gaib
menyertakan mantra-mantra cinta
agar langit tak lagi kelam
bintang-bintang menemani
hingga raib oleh fajar pagi

suatu malam di pantai selatan
tanpa purnama
kita memadu asmara
Rabb ..
berkati kami menuju singgasana

Ternate (Rumah AMAN, Tanah Raja), 28 Mei 2017 (5.20 AM).

 

XI

Di persimpangan jalan
Bersama sebuah lampu
Aku menerawang

Di persimpangan jalan
Sendal jepit mulai berdebu
Aku coba tenang

Di persimpangan jalan
Kugenggam setumpuk buku
Cerita mereka yang tidak menang

Di persimpangan jalan
Menanti datang seorang kawan
Membawa kabar semoga menawan
Untuk kita genggam bulan menggapai kemenangan

Di persimpangan jalan

Ternate ( persimpangan Koloncucu Gypsy), 27 Mei 2017 (00.09 am).

II

Lalu aku terhanyut lewat muara
Dijemput laut bersama angin selatan

Ombak menghantam
menghempasku pada karang-karang

Hingga terdampar diantara soki-soki
Tercampur lumpur dan bia boki
Menusuk-nusuk

Datanglah si Kum-kum lalu berbisik : Seperti Badai Asmara, Sobat.

Koloncucu, 11/5.

I

Di pantai berpasir
Kutemui katang-katang
Ia menjalar membuatku terbantai

kuberlari melewati alang-alang
Daunnya tajam
Makin mengiris aku yang lebam

Aku meloncat ke seberang
Berembunyi di balik pohon sagu
Tapi duri menusuk hingga kalbu

Kucoba sebrangi sungai
Riam dan arus membuatku terluntai

Hanyutlah aku mendekati hilir
Mencoba bangkit menatap langit

Baikole mendekat lalu berbisik : SEPERTI MERINDU

Ternate, 10 Mei 2017.

Penanam bunga di kebun siksakampus.com; bergiat literasi di Ternate dan beredar kemana-mana; seorang seniman muda. Pegiat literasi Jalanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *