Perpustakaan Dauzan

Karena MPI Ngagel, awal Februari 2018 saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke SD Muhammadiyah 4 Surabaya atau yang orang lebih mengenalnya sebagai SD Muhammadiyah Pucang. Salah satu SD unggul yang sangat tenar di Indonesia, setidaknya, sejak beberapa tahun yang lalu. Saya sudah sangat familiar dengan sekolah ini karena seringkali dijadikan bahan pembicaraan di berbagai forum dan media. Sekolah ini sangat luar biasa hebat dimulai dari bangunan dan pelayanan pendidikan, dan pasti saja karena prestasi guru dan murid-muridnya. Selain majalah sekolah yang bagus dan juara di SD Muhammadiyah Pucang ini, satu hal yang membuat saya terpanah dan terkesan berat adalah nama perpustakaan yang terletak di lantai dua sekolah ini dengan nama “Dauzan Libarary.”

Tidak lain dan tidak bukan, Dauzan yang disematkan dalam perpustakaan tersebut adalah Dauzan Farook yang lahir di Kauman, anak seorang pengurus Taman Pustaka Muhammadiyah, dan seorang tentara zaman revolusi, yang setelah pensiun kemudian membangun kerajaan pengetahuan yang dinamakan “Mabulir” (Majalah Buku Bergilir). Beliau kemudian kerap dinamai dalam berbagai kesempatan dan desain visual sebagai Pejuang Literasi. Beliau juga dapat dikatakan sebagai sang pemula perpustakaan bergerak. Menurutnya, bukti pengembalian kebaikan negara dari uang pensiun adalah perpustakaan yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Inisiasi peprustakaan ini sebagai bentuk terobosan di saat negara masih belum stabil. ‘Pro aktif, gratis dan tanpa birokrasi’ adalah tiga pilar penting dari gerakan literasi Dauzan Farook ini. Ini juga telah menginspirasi banyak orang sampai dengan hari ini.

Dauzan Farook (wafat pada 6 Oktober 2007), adalah pejuang literasi yang tangguh. Ia teladan kaum muda. Pada waktu perang kemerdekaan di Yogyakarta, 1946 – 1949, Dauzan adalah pemanggul tandu Panglima Jenderal Sudirman. Namun tentara resmi yang berpangkat Letnan Dua ini, setahun setelah Serangan Oemoem 1 Maret 1949, mengundurkan diri dari dinas ketentaraan. Ia memilih berdagang, meneruskan usaha ibunya, berdagang batik dan emas yang kemudian menjadi korban resesi global (tidak bisa dilanjutkan usahanya). Namun kecintaannya sejak kecil pada buku (orang tua memiliki banyak buku yang kerap menarik perhatian), hal ini juga membuatnya memilih bekerja menjadi distributor buku, hingga akhirnya terus berjuang agar masyarakat menjadi reading society. Ketika banyak orang mengembangkan multi level marketing, ia mengembangkan multi level reading yaitu dengan mabulirnya.

Dalam perjuangan literasinya, ia mendatangi orang-orang di pasar, para kuli gendong, juga para tukang becak, anak-anak kampung, narapidana di penjarah, dan ia sodorkan buku-buku dan majalah tremasuk majalah Suara Muhammadiyah yang dibandel dengan majalah lain. Buku yang dibawah diedarkan tersebut sudah dipilih. Setelah semakin udzur beliau tidak kuat lagi naik sepeda onthel seorang diri, lalu ia menyewa sepeda motor harian (1000/hari) untuk perpustakaan keliling dengan dibonceng karyawannya.

Menurut salah satu sumber, ada kurang lebih sepuluh ribu buku digerakkan oleh Dauzan selama berpuluh tahun hingga ia meninggal di usia 81 tahun. Terdengar kabar bahwa rumah peprustakaan Dauzan telah rata oleh tanah dan banyak orang bertanya-tanya bagaimana bukunya, mengapa itu terjadi menjadi pertanyaan yang saya tidak bisa menemukan jawaban yang pas. Tahun 2014 seorang Tokoh besar Kauman, Ketua Takmir Masjid gede menyampaikan kepada saya agar saya menemui ahli waris Pak Dauzan untuk menanyakan buku-buku dan mengelolanya jika memungkinkan. Saya pun belum punya kesempatan menemui keluarga tersebut namuns spirit Dauzan telah bergaung kemana-mana di saat 2014 dimana saya dan teman-teman di Rumah Baca Komunitas memutuskan membuka perpustakaan jalanan di alun-alun kidul Jogjakarta dengan konsep yang serupa dengan mabulirnya Dauzan. “Siapa saja dapat menjadi penggerakliterasi”, itu salah satu mantra Dauzan yang kami maknai dalam pertempuran sehari-hari pegiat literasi.

“Bubar di Jogja, lahir di Surabaya.” Itu salah satu kalimat yang sempat keluar dari mulut saya ketika berbicara dengan kepala sekolah SD Muhammadiyah Pucang yang menemani saya melihat perpustakaan SD ini. Peprustakana yang didesain dengan nyaman, tata ruang yang efektif, dilengkapi multimedia dan panggung mini yang menjadikan perpustakaan ini memiliki daya Tarik tersendiri. Untuk ukuran SD, perpustakaan ini tidak kalah dengan kid corner peprustakan kota yang pernah saya kunjungi baik di Malang maupun kota Yogyakarta. Saya sekilas melihat koleksi buku-buku berkualitas dan beberapa anak-anak asik melihat buku-buku dan juga berdiskusi. Ya, saya setuju sekali peprustakaan itu tidak harus besar dan megah tetapi prinsip dasarnya adalah bagaimana menjadikan orang-orang terpaut hatinya dan betah untuk menjalani aktifitas di rumah pengetahuan ini.

Pengakuan Pak Eddy Susanto, kepala sekolah SD Muhammadiyah 4 Pucang ini, Sosok Pak Dauzan tersebut didapatkan dari membaca dan menelusuri secara serius di internet akan sosok ini. Perjuangannya sangat cocok dan inspiratif sehingga saya memutuskan untuk memberikan nama perpustakaan ini dengan nama ‘Dauzan Library’ dengan harapan peprustakaan ini juga akan menginspirasi anak-anak didik serta guru untuk menghargai pengetahuan dan menyebarluaskan sebagai penguat bangsa. Penamaan ini tentu saja sangat menarik karena beberapa alasan yang saya ajukan.

Pertama, tidak semua sekolah di republic ini memiliki nama khusus untuk perpustakaan sekolah. Pemberiaan nama yang mengandung unsur filosofis dan penokohan adalah suatu hal yang sangat perlu dicatat dalam hasanah lembaga pendidikan di Indonesia. Kedua, tak kalah menariknya dengan penamaan Dauzan ini adalah karena disaat jejak perjuangannya di kampong Kauman lenyap karena secara fisik bangunan dah rata dengan tanah dan ternyata nama ini berdiri kokoh di sebuah sekolah Muhammadiyah yang maju, unggul dan juara.

Gerakan literasi di sekolah ini juga cukup menggembirakan. Sudah ada program 15 menit membaca, mendorong guru menulis, mengikutkan guru-guru dan pustakawan meningkatkan kapasitasnya dengan mengeikuti beragam training. Majalah sekolah dengan nama majalah ARBA’A yang terbit setahun tiga edisi. Dalam majalah ini terlihat antusiasme berkarya baik siswa maupun gurunya. Ada juga beberapa buku termasuk novel telah terbit dari sekolah ini.

Selain itu, perpustakaan mini di ruang-ruang kelas juga dibangun dan dihidupkan siswa siswinya ‘perpustakaan mini’ ini dikelola siswa dan bukunya berasal dari penggalangan oleh siswa dan orang tua siswa. Ada beragam buku yang menarik di luar buku mata pelajaran yang terpajang di tiga almari rak buku di salah satu ruang yang sempat saya kunjungi. Gerakan literasi ini rupanya telah banyak mewarani kehidupan sekolah dan rupanya telah menentukan takdir bagi keteladanan sekolah hebat ini.

Semoga pilihan sadar ini benar-benar memberikan makna dan spirit pencerahan yang luar biasa bagi anak didik khususnya di sekolah Muhammadiyah Surabaya, juga bagi keluarga besar Muhammadiyah. Sosok Dauzan adalah pejuang perdamaian dan kemanusiaan melalui pembumian pengetahuan yang sangat perlu dan layak ditauladani oleh semua anak bangsa.

Akhirnya, selamat untuk SD Muhammadiyah Pucang yang telah memilih nama besar dan legendaris. Semoga dakwah berkemajuan senantiasa mengiringi setiap langkah perjuangan pendidik Muhammadiyah.[]

Ketua serikat Taman Pustaka, salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *