Pergulatan Idealisme Pasca Wisuda

“Apabila ia bekerja hanya bagi dirinya sendiri, bisa saja ia menjadi tersohor, seorang bijak bestari, sosok penyair yang utama-tetapi ia takkan pernah menjadi seorang yang sungguh besar dan sempurna. Sejarah memanggil orang-orang besar yang telah meluhurkan dirinya sendiri dengan bekerja bagi kebaikan umum. Pengalaman menunjukkan bahwa orang yang telah membuat sebanyak mungkin orang bahagia merupakan ia yang paling bahagia”. (Karl Marx, 1835: 7)

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh mahasiswa, itulah yang dikatakan Tan Malaka namun idealisme ini tidak semua mahasiswa memilikinya, penuh resiko dan jalur perjuangan yang amat keras untuk memegangnya tapi ia adalah prinsip hidup yang akan mengantarkan kita pada kebahagian. Idealisme adalah fitrah manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, yang diberikan oleh Tuhan amanah untuk menjaga keberlangsungan alam semesta.

Kata idealisme atau seorang idealis waktu SMA, saya sendiri tak mengerti apa itu seorang idealis, hijrah menuju Yogyakarta telah membuka wawasan yang amat luas dalam lautan ilmu pengetahuan, berjuang bersama kawan-kawan aktivis teriak dijalan walaupun dulu banyak yang gak mau. Hehe, sayapun termasuk menolak diawal, metode perjuangan demonstrasi, karena setelah ikut aksi bersama kawan aktivis tapi tujuan itu masih mandek. Walaupun begitu demonstrasi telah mengajarkan banyak hal tentang artikulasi politik dan solidaritas serta kekerasan aparat negara.

Kota pendidikan ini telah memberikan ruang pertumbuhan intelektul dan aktivisme sosialku yang amat besar, yang dalam bait bait puisiku tertulis:

Bumi Bangsaku

Bumi Jawa mengasah intelektualku dan aktivisme sosialku

Bumi Melayu rahim dimana aku dilahirkan,

Bumi Indonesia tanah kebangsaanku, tempat dimana aku harus mengabdi.

Sedangkan dunia yang maha luas ini adalah lautan perjuangan untuk menegakkan mutiara kemanusian.

Fie, 13 Juli 2017. Ps. Terusan

Belajar dan ikut terlibat dalam perjuangan kawan kawan aktivis dalam menyangkut banyak permasalahan sosial telah melatih diri menjadi siap menghadapi tantangan zaman, setidaknya merantau ke yogya telah banyak mengubah diri, mulai dari paradigma berfikir, pola-pola berorganisasi dan budaya. Selama jadi mahasiswa aku sangat senang pergi ke tokoh buku dari pada ke mal atau tempat hiburan, lebih asyik ikut diskusi malam minggu dari pada pacaran. Hehe. Akibatnya dulu pernah dibilang sama mbak-mbak senior organisasi di komap dipanggil Jomblo intelektual. kacau. Wkwkkw. Jadi beginilah kehidupan mahasiswa masaku, tiap orang memilih jalan perjuangannya masing-masing. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya bagiku, selama jadi mahasiswa inilah kemampuan menulis terasah dan selalu terdorong untuk menulis banyak hal. Apalagi di ruang kelas dulu banyak anak gerakan yang sering betarung dalam hal wacana keilmuwan sampe bikin doseng senang bahkan puyeng. Hehe, karena ada aktivis yang suka ngotot kalau berdebat. Baiklah kembali ke perkara idealisme.

Idealismeku tumbuh sepertinya sejak awal, karena internalisasi nilai-nilai keagamaan yang diberikan oleh orangtuku serta dunia kepelajaran dikala itu, namun pengujian dan penguatan nilai-nilai dan prinsip idealisme itu berada pada tahap ketika aku menjadi mahasiswa, karena di mahasiswa pertarungan politik serasa pilkada kadang-kadang. Hehe. Aku ingin mengatakan bahwa idealisme yang aku maksud bukan idealisme martir yang didefinisikan oleh Buya Syafii Maarif menyangkut tentang idealisme yang dimiliki oleh Masyumi, yang membuat Partai Islam itu terpental dalam politik, karena idealismenya. Bagiku seorang mahasiswa harus memiliki idealisme yang berpengetahuan sehingga tidak menjadi korban politik dan ketidaktahuan akan sesuatu persoalan untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur dan prinsipil.

Bambang Eka Cahya Widodo pernah mengatakan idealisme seorang mahasiswa ditentukan ketika ia memegang kekuasaan, hari ini kita para sarjana yang akan diwisuda bolehlah sebelumnya memiliki prinsip dalam perjuangan tapi ketika berkuasa nanti, apakah kita akan mengulang kesalahan yang sama dengan generasi pendahulu kita yang banyak korupsi ketika menduduki jabatan publik, tentu tidak, ujian idealisme terjadi dibanyak tempat, namun apa yang dikatakan oleh dosen aku ini, berangkat dari realitas sosial yang terjadi. Untuk mahasiswa politik dan yang akan menduduki jabatan publik maka camkan kata-kata itu baik-baik. Hehe.

Yang menjadi pertanyaan kita hari ini, bagaimana cara mempertahankan idealisme yang kita pegang pada saat kuliah sampai kerja?, karena idealisme mengalami kemunduran setelah seseorang selesai kuliah, hal ini dikatakan oleh Syakir (2017) bahwa rata-rata mahasiswa mencari yang realistis sehingga idealisme itu terpental, padahal idealisme itu bisa diterapkan ditempat kerja. Fauzan Anwar Sandiah seorang pegiat literasi mengatakan Idealisme akan berubah, komitmen yang penting bukan idelaismenya. Kita akan memakai metode yang revelan disemua tempat. Komitmen yang pernah kita pilih tetap pertahankan namun metodenya yang berubah. Kebanyakan Kesalahan berfikir antara idealisme dan metode. Idealisme yang tidak rasional adalah idealisme yang tidak muncul dari perenungan sendiri, komitmen harus dipertahankan. Gak ada idealisme tanpa perlawanan sehari-hari. Idealisme yang sebenarnya adalah idealisme keseharian. Yang ditempah melalui kegalauan, berbagi. Idealisme yang tidak dibangun serius, yang dimaksud itu adalah idealisme yang dibangun dengan doktrin. Orang idealisme menyerah karena merasa sendirian, seharusnya idealisme membuat orang sehat dan bahagia.[1]

Para aktivis sosial dan pejuang sosial seringkali merasakan kesepian, apa yang dikatakan oleh Fauzan setidaknya dapat dilihat dari potret Soe Hok Gie yang akhirnya mempertahankan idealismenya di jalan kesunyian tetapi itu merupakan resiko perjuangan yang harus ditempuh para kaum idealis namun yang menarik dari argumen aktivis literasi ini ketika berdiskusi bersama penulis ia mengatakan idealisme dalam perjuangan besar selalu melahirkan klaim padahal idealisme itu harus dilakukan dalam perlawanan sehari-hari sehingga kita tidak merasa putus asa untuk melakukan gempuran terhadap sistem kapitalisme yang ingin menguasai dunia.

Aku merasa bahwa idealisme dalam bentuk perlawanan sehari-hari, inilah yang diterapkan di Rumah Baca Komunitas, tempat aku belajar banyak hal, bagiku selama kuliah aktif di rbk dan merasakan budaya organisasi yang sangat apresiatif sekaligus transformatif, gerakan microba literasi telah menyebarkan virus virus perlawanan yang akan menjaga nilai-nilai luhur bangsa ini. Karena itu, aku menyakini bahwa perjuangan melalui literasi adalah perjuangan yang tiada batas demi membangun masyarakat ilmu untuk mengantarkan bangsa ini agar mampu bersaing dalam tingkat dunia sekaligus tidak kehilangan pijakan di konteks lokal.

Selain aktif di RBK, aku juga aktif di Ortom Muhammadiyah dan komunitas pelajar serta aku suka mengikuti lomba debat di Purwokerto, Yogyakarta, Bandung dan lain sebagainya. Bagiku lomba debat yang diselenggarakan di tingkat mahasiswa bisa menjadi pendorong agar mahasiswa melek dan peduli persoalan bangsa yang sedang terjadi. Selama kuliah banyak sekali hal-hal yang unik tapi itu adalah kenangan bagi setiap orang maka dari itu, kita para kaum intelegensia Indonesia peganglah prinsip dan nilai luhur untuk membangun bangsa, agar kelak kita menjadi sarjana yang bermanfaat untuk bangsa.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya bagi para sarjana, apakah kita akan mempertahankan idealisme kita.? Bagiku idealisme akan tetap dipertahankan dan taktik perjuanganlah yang harus beragam agar cita-cita itu bisa kita capai, dimanapun dan kerja apapun, prinsip luhur tak boleh dikalahkan syawat yang mendatangkan kehancuran bagi umat maka dari itu, wahai para sarjana, idealisme akan tetap ada walaupun kita akan diwisuda, idealisme akan tumbuh hingga akhir usia. Aku hanyalah seorang yang ingin belajar dan terus belajar. Sebelum tulisan ini diakhiri maka renungkanlah kata-kata seorang filsuf revolusioner, ini pesan untuk para sarjana pasca wisuda yang akan memilih profesi apa nanti.

Karl Marx mengatakan kita telah diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan, itu tanda keistimewaan yang dimiliki manusia diatas segala ciptaannya. Namun pilihan itu bisa menjadi bencana dan kebaikan, kalau kita memikirkannya dengan matang maka itulah tugas seorang pemuda yang hendak memulai karirnya, agar profesi yang kita jalani benar-benar dipilih secara matang bukan kebetulan saja sehingga profesi itu akan mendatangkan kebaikan untuk banyak orang, karena kita hendak bekerja untuk kemajuan umat manusia.[2]

[1]Diskusi Penulis dengan Abang Fauzan selaku pegiat literasi dan aktivis gerakan pelajar Muhammadiyah.

[2]Karl Marx, 2016. Teks-Teks Kunci Filsafat Marx. Penerjemah, Martin Suryajaya. Yogyakarta: Resist Book. hlm,. 1-2

Mahasiswa UMY, aktifis IMM dan peminat sastra yang bergiat di Rumah Baca Komunitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *