Pengumuman: Perpustakaan Jalanan RBK Ditutup 31 Desember 2017

Setelah empat tahun bergerak (sejak Juni 2014) di jalanan sebagai upaya mendemokratisasikan pengetahuan, menahan ruang publik agar tetap untuk publik, dan akhirnya kami menyerah dan menyatakan berhenti dari aktifitas perpustakaan jalanan ini tepat pada tanggal 31 Des 2017 di alun alun kidul, Yogyakarta.

Sebagai ummat kecil yang terserak dan terseoak di buritan zaman pembangunan, kami menutup praktik literasi ini karena beberapa ‘jenis kekecewaan’ akan keadaan di luar. Pertama, Narkoba miras masih berkembang leluasa meracuni anak bangsa. Kedua, Air di Kota Kota maupun di desa tetap dijarah dan dirampok investor dengan nafsu lebih keji dari binatang paling buas. Ketiga, hanya sedikit sekali orang berhenti merokok, dan bangsa ini dibuat pesakitan oleh industri asap. Keempat, jumlah Pesepeda pejalan kaki terus terancam oleh banalnya penggandara mesin berBBM. Kelima, dunia Difabel nyaris tak punya akses di jalanan terutama di perkotaan. Selain itu, menurut rilis Rumah Baca Komunitas kekecewaan juga disebabkan oleh kondisi persampahan yang mana pemerintah dan manusia hanya diangkut tapi persoalan mendasar persampahan tak pernah membaik. “Banyak perusahaan tidak bertanggungjawab terhadap sampah yang dihasilkan dan hanya peduli pada upaya melipatgandakan keuntungannya”, tambah Alhafiz Atsari. 

Soal lain yang seringkali disuarakan pegiat ROTS adalah mengenai korupsi dimana beberapa tahun lalu RBK pernah menggelar aksi damai berantas korupsi di NOL KM Malioboro. Namun keadaan tidak sedikitpun membaik tetapi koruptor semakin terang dan penuh kepercayaan diri. “Korupsi tetap merajelala Dan ekonomi Tak membaik. Kalau pun membaik hanya dalam angka statistik.”, sergah Mia Miasih di sela-sela penutupan perpustakaan Jalanan tadi siang di Alun-alun kidul Yogyakarta.

Faktor lainya yang paling menjadi concern pegiat RBK adalah situasi dan keadaan sistem ekologi hancur lebur di republik ini dan nyaris sedikit sekali orang yang meneriakkan hal ini. Ditambah lagi, cermin buruk dunia literasi kita. “…buku Tak terjangkau walau Punya mendikbud, harga buku hanya bisa diperoleh atas belas kasih Tuhan. Betapa buruk negeri ini rupanya. Orang wakaf tanah air sawah lebih untuk membangun gedung masjid yang udah baik yang dibongkarulang bangun. Wakaf buku seolah Tak Ada hubungan dengan surga yang didambah.”, pungkas Fauzan A Sandiah.

Jika direnungkan, berbagai urusan urusan pegiat literasi jauh lebih susah ketimbang urusan presiden karena APBN tidak menanggungnya. Karenanya kami berhenti mandeg jegrek Hari ini tanggal 31 bulan duabelas tahun ayam api dan tikus kantor. Kita semua tentu bagus untuk mendoakan: “Semoga tuhan mengirim Bala bantuan tentara gajah atau burung ababil, agar bulan Januari 2018 kami bisa Bergerak ke jalanan lagi. Lestarilah Alam Raya!”

Dilaporkan langsung dari alun2 kidul Jogjakarta istimewa tanpa penggusuran. Kami bersama Sultan yang menolak setiap bentuk dan jenis penggusuran sampai hari qiamat tiba.

Ketua serikat Taman Pustaka, salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *