Pemuda dan Takdir Pengetahuan

 

Tulisan ini pertama dan utama untuk pegiat literasi di jalanan. Pegiat literasi yang memilih jalan terjal dan bergerak tak kenal padam. Khususnya, tulisan ini untuk kawan kawan di Rots, RBK on the street. Pagi pagi yang menyalakan api revolusi, kepada mereka tulisan ini dipersembahkan. ROTS yang dibesut anak anak muda sejak Juni 2014 ini telah bergenerasi secara menggembirakan seperti sebuah revolusi senyap. Tindakan tindakan kecil kreatif terus disemai menjawab distribusi pengetahuan yang semakin bergaya neolib.

Aku ingin sekali menukiskan esai singkat tentang kaum muda yang menggerakkan buku. Orang orang yang penuh keyakinan dan idealisme di jaman serba sulit mereka jumlahnya ribuan di seluruh pelosok negeri. Ideologi kerelawanan, teologi berbagi, dan kegembiraan untuk memperlakukan buku sebagai kebutuhan masyarakat nampaknya masih dapat dibilang menggembirakan di tengah kegalauan arah pembangunan bangsa. Mereka bukan sinterclass, ya pustakawan amatir atau para pustakawan untuk menyebutnya karena tindakan yang penuh militansi. Seolah mereka ini para milisi dalam sebuah gerakan menciptakan alternatif kekuatan.

Ada banyak pengorbanan yang dilakukan demi memuliakan pengetahuan, demi melawan mitos bahwa era pengetahuan telah mati dan digantikan era informasi atau era disinformasi yang mencipta problem asimetris dalam berbagai bidang. Beberapa pengorbanan kaun muda pelapak buku jalanan dapat saya sebutkan. Pertama, waktu tidur dipangkas untuk bangun pagi. Bahkan mimpi juga mereka kurangi dan memilih bergerak menyajikan surga surga kecil di dunia. Pepatah arab pernah bilang, satu satunya jalan menggapai kemuliaan adalah mengurangi jam tidur, dan berbuat kebajikan. Memberikan akses buku, adalah menanam biji amalan sustainable alias amal jariyah tiada tara. Kaum muda yang anarko atau semi anarko memperlakukan tindakan ini sebagai kerja otonom dan menjaga akal bahwa negara itu ada di sebrang lain.

Kedua, pengorbanan waktu bersenang senang digantikan waktu yang menjadi altruis—mengorbankan kesenangan personal dan menstransformasikan kesenangan untuk orang lain, untuk dunia entah dan imajinasi apa saja yang terkembang yang menjadi guru kearifan. Kaum muda tipologi begini relatif anak muda aneh dan semi gila. Aku pun senang bergaul dengan anak anak muda gila yang paling waras ini. Zaman neoliberal membuat orang berfikir materi sebagai orientasi dengan segala macam jalan yang dihalalkan. Era kompetisi ini membuat hubungan sosial renggang, modal sosial babak belur, dan kehidupan seperti egois lalu manusia di mata tuhan adalah anai anai yang tak tahu arah pulang dan rabun berbuat kebijakan.

Selain itu, banyak hal dikorbankan oleh para pengantar pengetahuan menemui takdirnya di jalanan. Mereka korban pikiran, tenaga, karier, kesenangan, uang, dan sebagainya. Karena anak muda adalah agen pembawa api revolusi maka gerakan pengilmuwan masyarakat ini cocok di tangan anak muda sehingga gerakan literasi menjadi gerakan radikal dan transformatif. Inilah revolusi harapan yang dapat kita pertahankan di zaman tunggang langgang ini. Selamat melapakkan buku, menggerakkan pengetahuan semoga kaum muda tetap menjadi api revolusi.

Tuhan pasti bersama pegiat literasi, dan semua pegiat literasi di muka bumi bersaudara.

Ketua serikat Taman Pustaka, salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *