Nirwan, Pustaka Bergerak dan Geliat Literasi (2 Dari 2 Tulisan-Habis)

 

“Sinergi dalam gerakan, Semangat dalam kebersamaan” Setidaknya itu menjadi poin pengantar dalam sambutan pria lajang yang pengabdiannya pada masyarakat dan negara ini nyaris melupakan kepentingan paling hakiki dalam kehidupannya (hehe jomblo keren). Thamrin seorang pemuda literat (nama akun Fb Thamrin Uwai Randang) kelahiran 1 Januari 1984.

Penganggurankah dia? Tidak. Ia bahkan bisa digolongkan sebagai manusia super sibuk. Ia abdi negara di Unsulbar dan tenaga pengajar di perguruan tinggi di Kota Pendidikan Majene. Selain itu, ia kerap menjadi pemandu dan peramu wisata sejarah di Museum Mandar Majene.

Itulah dunia pengabdian yang diretas Penggagas Museum Naskah dan Rumah Baca I Manggewilu dan untuk pertama kalinya disambangi oleh Nirwan Arsuka pada siang bolong di penanggalan 15 November 2017. Personil Rumah Bacanya yang terdiri dari Subhan, M. Rijal, Musa, Asbianto, Mukhlis dan Jamidin adalah kelompok pemuda langka yang mesti kita apresiasi kendati tidak semuanya bisa hadir saat Presiden Pustaka Bergerak Indonesia ini kunjungan. Sebagian teman terpaksa tak bisa hadir sebab sebagian adalah tukang bangunan dan selebihnya guru dan mahasiswa. Pungkasnya, saat mengantar diskusi literasi di hadapan Nirwan, Ridwan Alimuddin, dan para penggiat literasi di Polman dan Majene serta siswa-siswi MTs. Al-Qalam Teppo.

Komunitasnya ini, lanjut Tamrin, mengambil nama besar I Manggewilu, sosok Towaine Mandar lampau yang ditakdirkan menjadi Istri Daengta Melanto. Dari rahimnyalah lahir manusia luar biasa I Muru Daetta Di Masighi yang mendirikan Masjid Salabose dan Masjid Pambo’borang.

I Muru Daetta Di Masighi lah yang datang membawa Syekh Abdul Mannan. Syekh Abdul Mannan berada di tanah Mandar atas peran beliau dalam pengembaraannya ke Malaka, Gresik,dan benerapa pulau di Nusantara saat itu. Selain Daetta di Masoghi, ada Tuan Daeng yang eksist meyebarkan Islam ke daerah Camba, Teppo, Pambo’borang dan sekitarnya. Sementara Syekh Abdul Mannan, lebih konsentrasi di wilayah Salabose, Tande dan sekitarnya.

Latar sejarah itulah yang membuat Thamrin memaket rumah bacanya dengan museum naskah I Manggewilu. Penulis kerap menjadi bagian dalam berbagai kegiatan literasinya yang sejak satu tahun lalu ia bentuk. Hal menarik dari Rumah Baca I Manggewilu ini adalah kerelaan mereka menyambangi berbagai pelosok di wilayah Majene disamping setiap malam rumahnya selalu ramai dengan anak-anak dan warga Teppo.

Nirwan Arsuka tertegun dan menggeleng pertanda sebuah rasa yang menyeruak yang mungkin tak semuanya bisa terbahasakan dalam pebahasannya terkait program untuk membantu teman-teman penggiat literasinya di Mandar. Setidaknya itu tergambar ketika ia memberi sambutan. Nirwan justru menganggap bahwa pengalaman berliterasi di Mandar ini penting terus di publish guna memberi contoh pada penggiat yang lain. Kagum pada sebuah konsep rumah panggung yang terintegrasi dengan Rumah Baca umum disamping keliling naik bentor antar buku. Inikan sebuah hal yang gila, dan kegilaan itu justru membuat Nirwan bahagia.

Nirwan tak banyak komentar selain menutupnya dengan sebuah harapan yang realistis, buku dan moda pustaka seperti motor bahkan mobil akan ia usahakan demi terus hidup dan tumbuhnya gerakan ini di masyarakat Mandar. Itu dari Nirwan. Lalu dengan cara apa kita mengambil peran dalam ikut berkontribusi terhadap upaya penyelamatan generasi Majene kedepan? Tak perlu transferan jika itu tak memungkinkan dalam kas keluarga kita. Tak perlu merogoh kocek negara untuk ikut meringankan beban mereka, sebab 1 buku bacaan bagi mereka lebih bermanfaat ketimbang uang kertas 50-an ribu. 1 buku untuk mereka adalah modal untuk menentukan kemana arah kota pendidikan mau diarahkan.

Sebuah upaya, Nuraidah Paselleri, orang dalam Perpustakaan Daerah yang tak ingin ketinggalan momentum berdikusi dengan Nirwan. Masyarakat Majene, bahkan Unsur pemerintahan sedikit dmi sedikit ikut terseret dalam arus lautan buku yang kerap dialirkan oleh penggiat dari arus kecil bernama Rumah Baca, Ontel dan bentor yang dipenuhi dengan beban buku untuk dibaca.

Lapak Baca di Stadion adalah samudera yang terbentuk dari sebuah pergerakan pustaka. Ia menganak sungai di setiap minggu sore di depan stadion. Spektrumnya jelas, buku gratis untuk dibaca yang meang disediakan oleh puluhan komunitas. Medium pergerakan yang motoriknya dikendalikan oleh Educare cukup membuat Bupati, Wakil Bupati, Kapolres dan wakil rakyat kepincut. Termasuk Nuraidah dan Ka. Perpus ikut tergelitik dan terseret arus dalam riuh gelombang yang keluar dari ruas dan lembar halaman buku di Lapak.

Demikianlah, Nirwan,Ridwan, Nuraida, dan semua yang hadir semakin maksyuk dengan sajian kuliner Mandar ala Teppo. Bikang, demikian nama lokal yang diluar mungkin bisa jadi bernama surabi, atau apalah apalah. Nama tak jadi soal, sebab rasa manisnya begitu dalam dan menciptakan sensasi yang tak bisa dibahasakan disiang bolong yang juga tersulut oleh rasa lapar sebab belum sempat makan siang. Bikang, selain punya rasa khas, juga mengenyangkan. Terlebih tuan rumah menutup menu pisang goreng dengan madu asli. Ah sudahlah, tidak elok kita terbuai dengan rasa manis bikang, sebab rakyat lagi kuran minat bacanya, terlebih lagi kurangnya bacaan. Tentu saja, harapannya adalah untuk pemerintah agar sedikit punya kepedulian dengan menyumbang satu buah buku per kepala dinas yang melakukan perjalanan keluar kota. (Maaf, kanda Suraidah).

Tapi andaikan ini dilakukan oleh Pemerintah Majene, Gorontalo bahkan sudah lama menerapkan itu. Kabupaten Gorontalo mengharuskan SKPD yang keluar kota untuk membeli buku minimal 2 eks dan membuat resensi minimal 2 hlaman tentang buku yang dibeli. Dan bagi SKPD Majene, cukup yang praktis sajalah. Beli buku sja, tak pelu buat resensi, bukunya cukp dibawa ke Lapak Baca Majene, pusat wisata buku minggu sore di Stadion Prasamya atau Stadion Mandar. Bagaimana mungkin masyarakat bisa membaca kalau ownernya sendiri tidak punya komitmen untuk itu.

Kepada pembaca sekalian, mari kita ringankan hati, fikiran dan tangan kita untuk memesrai mereka lewat buku. Jadilah bagian dari solusi untuk mewujudkan kota Majene sebagai lumbung ilmu pengetahuan, KOTA PENDIDIKAN. Jadikan Rumah Baca dan Museum Naskah I Manggewilu sebagai ladang amal buat siapa saja yang punya kepedulian.

Pukul 14.30 Safari Literasi Nirwan Arsuka di Kota Pendidikan Majene selesai. Tapi agenda di Polewali Mandar telah menanti. Nun jauh dipelosok sana, Hutan Bambu Alu telah menanti Nirwan Arsuka untuk menghadiri acara WISATA BUKU RUMPITA dan CAKRAWALA BUDAYA bersama Uwake’ Cultur Fondation dan FKPA. Uwake’ adalah lembaga yang intens melakukan berbagatan seni budaya, dan sekolah sungai di Polman. FKPA sendiri adalah Forum Komunikasi Pemuda Alu yang cukup gencar memberdayakan potensi SDM dan SDA di Alu, termasuk Hutan Bambu.

Wisata Buku yang digelar di kawasan hutan bambu ini harus melibatkan s personil motor dan Satu jasa Ojek dalam mengangkut buku. Pilihan hanya ojek, sebab mobil angkutan umum jarang beroperasi pada sore hari. Buku dari Rumpita memang sudah akrab dengan Tukang Ojek dan Sopir Pete-pete dalam setiap kegiatannya. Wisata Buku yang kerap diadakan di berbagai tempat itu selalu menggunakan jasa ojek dan pete-pete, sebab sejauh ini armada angkut peribadi belum ada. Secara umum kendala sekaligus kebutuhan mendesak komunitas penggiat literasi ada di armada angkutan.

Kegiatan Rumpita sendiri ada yang sudah terjadwal secara permanen setiap minggu sore di Stadion Majene, Selasa sore di Rutan Majene, Sabtu sore di Alun-alun kota Wonomulyo dan di Area Sport Center setiap tanggal 5 dan 25 setiap bulan. Kegiatan tentu akan sangat mudah dijadwalkan jika armada angkutan buku sudah ada yang representatif untuk segala medan. Terlebih relawan sudah sangat memadai dalam mengemban misi mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Tapi tentu hal ini tak mudah untuk diwujudkan, karena sangat terkait dengan budgeting. Rumah Kopi dan Perpustakaan atau Rumpita, salah satu dari simpul Pustaka Bergerak Indonesia adalah sebuah perwujudan dari ekspektasi masyarakat kita terhadap literasi. Gerakan ini bisa menjadi kuat karna dilakukan dari bawah dengan semangat untuk menggiatkan literasi dari masyarakat untuk masyarakat. Relawan Rumpita memang terdiri dari masyarakat dan mahasiswa. Setiap berkegiatan ia selalu ditopang dengan relawan.

Demikian pula pada Wisata Buku di Alu. Teman teman dari Majene dan Polman menjadi barisan terdepan dalam mobilisasi buku ke daerah-daerah terpencil Dalam setiap daerah kunjungan, selalu melahirkan pustakawan baru dengan fasilitas 100 buku disetiap daerah kunjungan. Mesti ada kesan, virus tertular dengan terbentuknya cabang pada setiap titik untuk ikut menularkan kegiatan literasi ini.

Setidaknya itu yang menjadi poin penting yang terbaca dan tersampaikan kepada Nirwan Arsuka di acara Wisata Buku dan Cakrawala Budaya di kawasan Hutan Bambu Kec. Alu. Kawasan Hutan bambu ini mempunyai hamparan sekitar 30 hektar. Sebagian besar tanah di kawasan ini adalah tanah ulayat sehingga memungkinkan untuk bisa diproteksi dan dijadikan destinasi wisata bambu.

Menurut Nirwan, Kawasan Hutan Bambu ini mesti digarap secara profesional dan dibuatkan aturan yang mengikat, jangan sampai kemudian sudah dipromosikan sebagai obyek wisata, lantas kawasan ini seenaknya ditebang. Jadi mesti ada upaya agar pengelola dan masyarakat bisa sinergi dalam proses pengembangan.

Ridwan Alimuddin yang juga hadir dalam acara teersebut menyarankan supaya Alu bisa menjadi museum bambu atau minimal jadi pusat studi tentang bambu. Untuk itu, penting agar pengelola mendeteksi dan menventarisir semua jenis bambu di daera ini. Kedepan kita harapkan ini menjadi pusat wisata sekaligus pusat studi. Hal senada juga disampaikan oleh Thamrin, dosen dan penggiat literasi bahwa selama ini belum ada ruang khusus untuk kajian tentang bambu, sehingga kedepan ia akan mengajak mahasiswanya untuk belajar dan meneliti tentang bambu.

Hal menarik terlontar dari Sekretaris Desa Alu yang secara teknis siap menganggarkan kegiatan pembangunan Wisata Hutan Bambu ini. Begitu pun Rahmat Muchtar, Ia yang sejak awal intens berkolaborasi dengan generasi muda FKPA agar program ini diseriusi. Rahmat juga meminta ke pihak Manajemen Rumpita untuk bisa berkonstribusi dalam pembangunan kawasan wisata Hitan Bambu ini lewat pengadaan Rumah Baca dan enguatan literasi di kawasan ini.

Diskusi yang sungguh masih dibutuhkan waktu lebih panjang lagi, namun karna waktu magrib sudah tiba sehingga semua harus disudahi. Komunitas yang hadirr dalam acara di Hutan Bambu ini antara lain Nusa Pustaka, Rumpita, Sapo Baca Todakka, GPS Polman, Agent Of Sharing, I Manggewilu, Topaduli dll. Rangkaian acara pada Safari Literasi Nirwan di Mandar ini berakhir sudah, sebab kemudian ia tak lagi punya waktu untuk bisa berlama-lama di Mandar. Masih cukup banyak yang harus ia sambangi untuk memberi semangat pada para penggiat literasi Pustaka Bergerak. Satu hal yang pasti, bahwa Nirwan telah memberikan sebuah arti dan nilai paling hakiki pada generasi literat di Mandar.

Dewasa ini, bukan hanya krisis minat baca yang melanda negeri ini. Ada sebuah malapetaka besar yang mengintai generasi kita. AUSAID pernah merilis sebuah hasil survey bahwa orang Indonesia menggunakan waktunya 300 menit setiap hari untuk menonton TV. Sementara di negara-negara maju, waktu nonton hanya 60 menit setiap hari.

Kita tentu tak harus mengutuk, apalagi menyerapahi mereka dengan sederet makian. Tapi kegiatan literasi ini mesti dilakukan lebih modern dan masiv. Pustaka Bergerak telah melakukan itu, masyarakat pun telah ikut mengambil bagian dalam gerakan ini. Tinggal menunggu pemerintah hadir untuk bisa terlibat secara jelas. Kenapa harus pemerintah? Sebab kondisi minat baca masyarakat kita sangat memprihatinkan. Satu kasus yang bisa dijadikan rujukan, Survey FLP dari 250 responden, hanya 2 orang yang membaca buku sampai 20 dalam setahun. Padahal idealnya itu 30 buku dalam setahun. Sejarah mencatat Soekarno, Syahrir, Hatta itu membaca 1 buku dalam satu minggu. Jika pemerintah ikut berperan, tentu akan sangat mudah sebab melalui kebijakan mereka bisa meinterfensi ke bawah untuk bisa melakukan hal yang sama. Selain pemerintah, guru juga diharapkan perannya untuk membuka akses kepada masyarakat supaya tersugesti untuk membaca.

Dalam hal penguatan dan pengembangan tradisi literasi, pemerintah daerah maupun maupun provinsi
mesti punya rancangan aksi daerah, dengan memberi semangat, bukan menyuguhi aturan macam-macam. Pemerintah juga dituntut untuk bisa menhadi personal garansi agar gerakan ini bisa bertumbuh dan survive. Sekedar diketahui, di Surabaya, pemerintah daerah mampu menyantuni para pelaku TBM dan Komunitas Literasi diberikan tunjangan yang sesuai dengan standar UMR.

Akhirnya, Terima Kasih Kanda Nirwan. Terima kasih semua teman-teman penggiat. Semoga kedepan, Pustaka Bergerak semakin gencar dan memberi roh pada geliat literasi di tanah Mandar. Terlebih pada Pemerintah, semoga diberikan kesadaran bahwa membaca adalah salah satu kebudayaan yang harus diberi ruang untuk mendapatkan haknya. Budaya Membaca tidak harus didiskriminasi kehadirannya, sebab ia adalah penentu masa depan pada 10,20 bahkan 50 tahun selanjutnya.

Penggiat Literasi dan Pendiri Rumah Kopi dan Perpustakaan (Rumpita) Tinambung Kab. Polewali Mandar Prov. Sulawesi Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *