Nirwan, Pustaka Bergerak dan Geliat Literasi (1 dari 2 tulisan)

 

Nirwan Ahmad Arsuka I, demikian nama lengkap yang pertama saya kenal tahun 2015 pada acara Cakrawala Budaya besutan Uwake’ Culture Fondation. Kedatangannya ke Mandar saat itu pun saya tak tahu apa tujuannya, yang saya tau dia menunggangi kuda dan menyusuri rute Pambusuang, Tinambung, Limboro, Alu, Padang Mawalle Kel. Taramanu (Ibukota Kec. Tutar), Patulang, Ambo Padang, situs Allamungan Batu, dan finish di Lapeo Ba’batoa. Menunggangi kuda selama berhari-hari yang diantar oleh Muhammad Ridwan Alimuddin dkk.

Rupanya, kedatangan Nirwan ke Mandar membawa sebuah misi kemanusiaan, mencerdaskan kehidupan bangsa. Betapa tidak, sebab ternyata kemudian Perahu Pustaka Pattingalloang dan Bendi Pustaka menjadi artepak untuk jejak awalnya di Mandar. Bukan hanya itu, demam pustaka melanda negeri Mandar, tak terkecuali saya. Dengan modal buku pribadi, saya dkk mengambil bagian meski tak menggunakan moda pustaka yang unik, tapi ikut bergerak memesrai anak-anak pelosok Alu, Tutar, Bulo, Tapango, Anreapi.

Tak berhenti sampai disitu. Nirwan menelorkan sebuah kegilaan dengan menggagas Jaringan Pustaka Bergerak Indonesia. Jaringan PBI ini ternyata lebih mewabah. Jumlah seratusan Pustaka bergerak termasuk di Mandar menjadi viral ketika putra Mandar Muhammad Ridwan Alimuddin ini dipanggil mengisi acara Mata Najwa. Nirwan Arsuka dan jaringan Pustaka Bergeraknya semakin viral ketika Jokowi menyatakan cintanya pada manusia-manusia gila tingkat tinggi ini.

Cinta Jokowi tentu bukan PHP, sebab kemudian tanggal 20 Mei 2017 ia membuktikan langsung dengan menggratiskan pengiriman buku via PT. Pos Indonesia kepada seluruh alamat yang terdaftar dalam jaringan Pustaka Bergerak. Hanya berselang beberapa bulan, dari jumlah 100an simpul pustaka bergerak bertumbuh sampai pada angka 600 pustaka bergerak di Indonesia.
Dari sejak bulan Mei 2017, buku-buku yang terkirim ke Simpul Pustaka Bergerak di seluruh Indonesia menurut laporan PT. Pos mencapai angka 50 ton, belum yang berbayar melalui JNE, Tiki dll. Sungguh fantastis.

Buku-buku tersebut jika dikirim via Pos secara normal biaya pengiriman saja diperkirakan sekira 3 Miliar. Itu tentu bukan nilai biasa, sebab kemudian yang dibantu adalah gerakan yang tidak mau tahu dengan sejumlah nomenklatur dan prosedur yang berbelit. Jaringan Pustaka bergerak memang bukan sejenis Taman Bacaan Masyarakat ataupun program Pendidikan Luar Sekolah. Ia adalah sekumpulan yang menata hidup dan manajemen yang serampangan bergerak tanpa agenda, tanpa jadwal, tanpa anggaran. Namun gerakannya terukur dan multiflier effectnya jelas ke masyarakat.

Dan yang mencengangkan adalah, sebagian besar penyumbang buku-buku tersebut ternyata (maaf) mereka yang dari golongan non muslim, katolik kristen dan Chines. Tentu saja ini menjadi tamparan bagi mayoritas Islam di negeri ini sekaligus menjadi pukulan telat bagi pemerintah, wabilkhusus Perpustakaan di Seluruh Indonesia. Dimana peran dan kontribusi mereka terhadap gerakan literasi yang menjamur dan bertumbuh di negeri ini.

Tanggal 12 November, sebait kalimat dalam bentuk Sort Massage masuk via inboks. “Selasa, 14 November lusa saya ke Mandar”. Tulis Kak Nirwan. Langsung saya hubungi kak Rahmat Muchtar untuk persiapan acara buat Kak Nirwan Arsuka di Mandar. Maka dibuatlah pamflet Wisata Buku dan Cakrawala Budaya di Hutan Bambu Kec. Alu.

“Ke Mandar enaknya naik apa yah?” Tanya Kak Nirwan. Lalu saya jawab jika malam, sebaiknya naik bus, tapi jika siang biar nanti saya usahakan jemputan untuk ke Mandar. Begitu janjiku setelah dapat kepastian jadwal beliau ke Mandar. Selanjutnya saya hubungi Ilman, Educare Majene agar mempersiapkan acara buat Kak Nirwan bersama teman-teman penggiat lainnya. “Saya di Makassar kanda, ada urusan penting tapi saya usahakan pulang segera kanda”. Jawab Ilman via WA. Mengetahui Ilman di Makassar, saya lalu minta sekalian pulang ke Mandar bersama Kak Nirwan. Aman. Nirwan sisa di tunggu di Mandar.

Arifin Nejaz tiba-tiba mengirim desain baligho Diskusi Literasi bersama Nirwan Arsuka. Jam 11.00
Yang dirangkaikan dengan Lauching Gubuk Baca Sentosa Bersama di simpang tiga sebelum Taman Makam Pahlawan Majene. Untuk Nirwan sudah dua titik. Titik ketiga adalah Rumah Baca I Manggewilu Teppo. Maka, disusunlah agenda Safari Literasi Nirwan Arsuka di Mandar. Mengacu pada shedule yang disusun oleh Muhammad Riwan Alimuddin. Mulai dari Nusa Pustaka, Ziarah makam tukang Perahu Pustaka, Antrabez Rutan Kelas II B Majene, Ontel Pustaka di Galung, Gubuk Baca, I Maggewilu kemudian lanjut ke Hutan Bambu Alu dan terakhir di Nusa Pustaka kembali sekaligus menjadi agenda akhir sebelum Kak Nirwan kembali ke Makassar.

Demikianlah. Nirwan akhirnya tiba di Nusa Pustaka 14 November malam sekira pukul 24.00. Paginya Ziarah Makam lalu ke Rutan mengunjungi Antrabez Pustaka. Selesai di Rutan, lanjut ke Basecamp Onthel Pustaka. Selanjutnya masuk ke Gubuk Baca besutan Arifin Nejaz. Padat dan melelahkan berkeliling dari tempat ke tempat. Tapi tidak bagi Nirwan yang memang semangatnya mengatasi krisis minat baca di Indonesia. Krisis tersebut tidak harus membuat kita mengutuk, tapi lebih pada bagaimana upaya menebarkan virus literasi ini. Komunitas Literasi yang ada dan menjamur di Mandar telah menjadikan lelah dan letihnya hilang.

Pustaka bergerak harus tampil dan unik. Kendati orientasinya bukan untuk diliput media, namun media menjadi satu-satunya pilihan untuk lebih membumikan gerakan ini. Selain unik, para penggiat harus fokus dengan mengangkat kearifan dan karakter lokal dalam interaksi kebudayaan. Ilmu dan cerita itulah yang mesti dibagi ke seluruh simpul-simpul jaringan pustaka bergerak. Jadi kreatiflah memanfaatkan media apa saja untuk memotivasi dan menjadikan donatur tertarik dengan gerakan kita. Demikian paparan Nirwan saat mengantar Diskusi Literasi sekaligus sambutan dalam launching Gubuk Baca Sentosa Bersama.

Satu jejak Nirwan kembali tertorehkan dengan membubuhkan tanda tangannya di Spanduk Diskusi Literasi. Nirwan didapuk sebagi orang yang tepat untuk meresmikan rumah bekas bengkel ini menjadi Rumah Baca kesekian di Majene. Jejak-jejak yang akan trus abadi seiring budaya literasi yang semakin menhuat. Ini sungguh akan menjadi sejarah seirng upaya Verbavolen Scriptamanen atau pengekalan tergadap sebuah obyek yang tadinya sebatas tardisi lisan menjadi tulisan. Itulah esensi dari dunia literasi.

Nirwan Arsuka, sebagai penggagas Pustaka Bergerak tentu kunjungannya ke Mandar ini harus bisa memberi spirit bagi pemerintah untuk terlibat secara jelas dan nyata. Terlebih gerakan literasi ini sesungguhnya adalah gerakan bersama. Permen 23 Tahun 2015 jelas mengadung sebuah amanat tentang penumbuhan budi pekerti.
Salah satu poinnya adalah kewajiban membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Kesimpulan diskusi di Gubuk Baca Arifin Nejaz itu adalah, bisa jadi masyarakat minat bacanya tinggi tapi fasilitas buku yang kurang dekat kepada mereka. Akses pendekatan bacaan kepada masyarakat itulah mengapa Pustaka Bergerak ini lahir, yaitu untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, selebihnya aspek keliterasian bisa sedikit menguat di masyarakat Mandar.

Penggiat Literasi dan Pendiri Rumah Kopi dan Perpustakaan (Rumpita) Tinambung Kab. Polewali Mandar Prov. Sulawesi Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *