Mini Fiksi Macam apa Kau ini

Apa yang paling sering dilakukan oleh seseorang yang sedang sakit? Bagaimana para nabi waktu sakit? Bagaimana para filosof ketika sakit? Kak Ozan pasti tahu apa yang dilakukan Marx saat sakit. Sakit adalah bagian tak terpisahkan dari setiap yang bernyawa. Melepas sakit adalah satu hal dan menyimpan atau bertahan sakit adalah hal lain. Semua orang sedang sakit, tak ada orang seratus persen sehat. Orang paling sehat adalah orang lain yang hidup dalam alam pikir atau alam bathin. Semua rasa sakit sering harus kita lupakan agar kita bisa menjalani waktu dengan bebas.

II

Sunyi adalah tempat mudik paling autentik semua yang hidup. Bukan hanya khalifah butuh gua hira, atau tempat ibadah paling sahdu. Bukan hanya kamu seorang, borjuis. Pohon pohon, daun daun, dan bahkan makluk melata paling ringkih di permukaan dan di bawah permukaan bumi butih ruang sunyi. Altar pengetahuan adalah rumah sunyi keberadaban sekaligus menyimpan bara kebanalan. Pengetahuan adalah mimpi baik dan buruk di tangan manusia. Homo homoni lupus. Perkara paling haram adalah perkara paling halal. Itulah yang dibandrol orang orang sebagai kebenaran scientifik. Kembali kepada sunyi, di bawah altar ilmu gaib dan terang. Ialah panas, ialah awan, ialah petir, ialah lilin, ialah sayap, ialah juru selamat. Orang orang tengah membangunkan imannya. Sungguhkah pengetahuan akan menjadi tempat berpulangnya?

III

Orang orang tidak selalu tampil dalam kekonyolan. Tapi perlu kamu tahu, dalam hidup kita harus pernah bertindak konyol, bento, dan tak tahu diri. Sekumpulan primata bertingka pola warna warna. Seperti orkesta. Jika tak sependapat, mereka pegang hidung, mulet, menguap, mendehem, meludah, melakukan berbagai ekspresi tak perlu. Primata paripurna juga bisa tidur saat terlibat diskusi paling anarkis sekalipun. Matahari telah tinggi, segerombolan harimau datang mengagetkan mimpi para pecinta banana. Daun daun tergeragap lalu mengulurkan tangannya tapi tak lagi mereka miliki tangan tangan dan dawai dawai akarnya. Hendak menolong, apalah daya primata itu harus menemui takdir kemusnahannya.

IV

Seperti pilihan ideologi bangun tidur CEO LZK atau Dolah, aku tahu rifki selalu bangun pagi entah apa yang menari di kepalanya. Dia keracunan nasi padang. Ah itu rumor yang landai seperti orang berkisah soal hantu laut. Tak ada yang mewah. Bener bangun pagi hanya untuk menuliskan kisah cinta, kadang artikel, kadang melayani para pencari payung teduh yang galau akan semua semua persoalan hidup. Ia bukan rahib atau kurator perpustakaan, tapi dia melayani istri istri calon suami lebih baik dari rahib manapun, lebih dari sinterklas dari kisah yang paling tak masuk akal. Ada banyak alasan bangun pagi anak muda, tapi tak banyak orang bangun pagi untuk menjajakan dunianya untuk orang orang lain.

V

Apa yang dimakan kaum muda pembaca pikiran sindikalis dan posmo sehari hari? Dari dapurnya sendiri tanpa MSG? Mendiskusikan masakan dan resep sendiri di zaman milenial? Itu kegilaan terselubung tapi nyatanya oleh Don Solomon itu adalah pertanda orang gila palinf waras. Malam berganti siang dan siang berganti malam, kaum muda tak pernah mati dimakan rumor atau sejenis hoaxs pembangunan. Ya, beberapa membusuk harus dinyatakan. Orang orang menyerbu kuburan dan menggotong jasad yang masih renyah. Untuk apa bangkai dipanggul pulang ke rumah komunitas? Untuk mendapati bukti bagaimana orang mati mempertahankan kebenaran dan bagaimana nasehat mereka tentang keadilan. Suasana kampung sunyi kembali, orang diam diam murtad dari iman ekologis. Dimakan oleh ketakutan akan banjir bandang di halaman. Sementara akal sehat telah raib dirampok pasar.

VI

Orang orang misuh sering tanpa maksud marah. Orang orang membaca aksara, tak peduli gelapnya malam. Cacing mengais rizki dengan nalurinya tanpa diajari. Orang orang tersesat tak marah jika orang yang bejo itu menertawakan. Kepandiran jelas bukan soal definisi benar salah. Ada kala, untuk eksis haruz menjadi bego maksimal sampai pada kisah bahwa kegelapan tak butuh lampu seterang stadion di Madrid.

VII

 

Ketua serikat Taman Pustaka, salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *