Merayakan Kesunyian, Memuliakan Pengetahuan

 

Perjalanan Rumah Baca Komunitas, 2012-2018

Buntut dari kebutaan panjang adalah ketidaktahuan akan pentingnya gerakan literasi. Gerakan literasi dikenal secara anakromisme dalam narasi jauh dari kesan emansipatif. Bahkan hal itu perlahan tapi pasti nyaris menjangkiti gerakan literasi bahkan yang dikelola independen/otonom. Di luar itu, beberapa gerakan literasi dengan makna meluaskan “gerakan membaca” atau “gerakan pemberantasan buta huruf” tumbuh segar di tangan pegiat-pegiat yang acuh dengan popularitas. Sekalipun begitu, akhir-akhir ini gerakan literasi semakin kuat dengan kehadiran komunitas di berbagai sudut republik, mereka saling terhubung. Jangan kaget, jika gerakan literasi tak hanya terhubung dengan media sebagai bentuk publikasi diri, tetapi masuk sebagai gerakan sosial terpenting awal abad 21, bentuk transformasi yang tak terrimajinasikan oleh negara maju. Gerakan literasi di Indonesia, dalam hal ini dari beberapa sisi banyak dipengaruhi oleh Brazil ketimbang Eropa atau Amerika.

Pada 2 Mei 2012, dalam rumah kontrakan seadanya di Onggobayan, Bantul berdiri Rumah Baca Komunitas. Tuntutan dan tanggungjawab sebagai anak bangsa untuk segera mengambil peran kecil untuk menahan laju kerusakan. Identitas kebangsaan terkoyak, keretakan relasi sosial, eksploitasi berkepanjangan dan tak rasional, kekerasan, hingga kemiskinan, selalu menjadi tantangan bangsa.Tidak ada cara selain terus bergerak. Harus ada manusia berkomitmen membangun kekuatan bersama, dan saling memperkuat. Musuh nyata adalah “Kebodohan”  yang jadi biang keladi kemelaratan. Di tengah kondisi tersebut, RBK lahir sebagai gerakan literasi.

Gebrakan awal yang dilakukan dengan menyediakan sebanyak mungkin bahan bacaan yang dapat diakses 24 jam. Rumah kontrakan tempat RBK bermukim sudah didaulat sebagai perpustakaan kecil. Pegiat RBK menghubungi teman dekat yang bersedia menyumbangkan atau sekedar menitipkan bukunya. Langkah ini ternyata disambut dengan antusias oleh mahasiswa, dosen, hingga Ibu rumah tangga. Alhasil sebulan bergerak, buku-buku mulai membanjiri secretariat RBK. RBK menawarkan gagasan bahwa gerakan literasi merupakan salah-satu ujud dari keinginan untuk “segera berbuat”. Selain buku, bahan bacaan lain seperti majalah, tabloid, koran, jurnal, dan lain sebagainya. Proses pengumpulan bahan bacaan tersebut berlangsung setiap waktu. Setelah bahan bacaan terkumpul seribuan, proses distribusi kepada komunitas literasi lainnya diselenggarakan.

Kegiatan yang diusung RBK bukan hanya perjuangan literasi dalam arti sempit, segala urusan senafas dengan semangat anti kebodohan. Selain perpustakaan, markas RBK juga dijadikan sarana belajar masyarakat baik anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Sejumlah aktivitas seperti perpustakaan jalanan, ekoliterasi, diskusi reboan, dejure, kursus komputer gratis, bioskop edukasi, penerbitan majalah dan buku, sekolah penelitian, sekolah literasi dan lain sebagainya. Upaya-upaya ini diharapkan menjadi gerbong pemberkuasaan rakyat.

RBK bergerak berdasarkan epos yang diyakini. Tahun 2013, RBK dengan berbagai kondisi sulit, RBK hanya dikelola oleh empat sampai enam orang saja. Pertemuan rutin pegiat RBK dilakukan mingguan. setiap minggu kami mengadakan diskusi yang kadang-kadang terdiri dari dua atau tiga orang. Maka, mengawalinya dengan bertekad tanpa padam adalah satu-satunya cara. Proses itu membawa pegiat RBK ke dalam kesadaran untuk selalu bergembira untuk setiap langkahnya.

RBK adalah komunitas literasi yang sedang belajar mengamalkan praktik-praktik berkomunitas, menciptakan rumah untuk semua manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *