Menjalani Sabtu Spesial Bersama Ebes, Mempelajari Ayah

Giles, T 080918#2, 9/18/08, 12:38 PM, 8C, 7690x9375 (331+862), 138%, PAT OTE, 1/8 s, R21.0, G0.0, B21.0

Memahami Ayah. Saya menyebutnya sebagai Abah, adalah hal yang sulit. Menjadi yatim di usia 12 tahun. Saya membayangkan jika usia Abah lebih panjang maka keinginan terhadap anaknya adalah matematika. Ilmu sosial humaniora adalan nonsens. Sedangkan Ibu sebaliknya, bisa berbahasa Prancis, penyiar radio, pemain drama/teater, kuliah di Psikologi UI.

Saya ingin membicarakan Abah. Karena anak saya bicara tentang ayah tetangga dan saya mulai diperbandingkan. Tentang hapalan surat/ayat, tentang ketekunan mengaji, tentang keterampilan memanjat pohon, tentang memelihara ayam atau burung, tentang keinginan membeli mobil, tentang keterampilan mengendarai motor atau sepeda gunung, tentang mengatur buku-buku sampai anak saya melarang untuk membeli buku baru, tentang kedekatan saya dengan ustad di masjid, tentang hobi saya yang seharian tidur Sabtu-Minggu, tentang hobi saya lainnya menonton film, tentang rambut gondrong, tentamg supernova, tentang edotensei, tentang lagu rock n roll, tentang Jim Morrisson yang bernyanyi merem-melek, tentang kekasaran saya jika marah. Masih banyak sederet tentang, hal ihwal.

Menjadi Ayah (mungkin) sama sulitnya menjadi ibu. Saya mengenal Abah lewat diary atau buku harian yang setiap tahun penuh dengan tulisan dan bukti pembayaran (nota/bon). Beliau sangat rapih administrasi jika dilihat dari tulisan dan pendokumentasian. Hal pertama yang diajarkan kepada saya adalah membuat kliping, cerita bersambung di harian Kompas dan mingguan Buana Minggu. Saya membaca Musashi, Api di Bukit Menoreh, cerita wayang di Buana Minggu, dan strip komik Garth. Berbeda dengan saya yang bisa kehilangan boarding pass sesaat menjelang berangkat.

Mempelajari filosofi dan gerak Abah lewat buku harian. Bagaimana menghadapi rekan bisnis, negosiasi, dan saya rasa Abah romantis dalam pikirannya, Walaupun pada akhir 1990-an saya menemukan sosok Abah pada Romo Alex Lanur, agak berbahaya dan menyeramkan menurut saya, karena ketika anak saya suka dengan film Harry Potter saya justru mengkhayal ruang baca Abah seperti perpustakaan di film tersebut dengan wajah misterius Abah dibalik tumpukkan buku atau skripsi mahasiswa.

Saya menganggap Abah sukses dalam hidup. Walaupun saya tidak ingat apakah saya sepenasaran anak saya dalam bertanya, dengan menghujani saya dengan peluru sayang dan lucu. Menurut saya pertanyaan anak-anak adalah pertanyaan filsafat. Saya agak berhati-hati dalam menjawab, bahkan menyempatkan membeli buku-buku parenting per periode usia anak. Cara mengasuh anak Islami, cara mendidik anak gaya Cina, dan buku parenting atau pengasuhan dari Eropa atau Amerika.

Pengasuhan keluarga penting, sangat penting. Jika menjadi Ayah harus belajar, menjadi Ibu harus belajar, maka menjadi orangtua, mengharmonisasikan dan mengorganisasikan ide sebagai ‘orangtua’ lebih gawat lagi. Kami kemudian diasuh oleh Ibu, setelah Abah meninggal. Saya merasakan cara berpikir yang intuitif, emosional, visioner – Sehingga jika Abah tetap hadir saya membayangkan pekerjaan saya sekarang adalah membelah kodok atau melakukan tes pada transistor.

Sebagai Ebes, saya berpikir bahwa anak saya memiliki keinginan yang mampu mengubah jalan hidup saya. Keinginan tersebut seumpama doa, mengadung energi yang kuat dan terhubung dengan hati dan pikiran saya. Saya terkadang sangat takut, kebenaran seperti apa yang saya bawa untuk anak saya. Bahkan cerita tentang pulau-di luar Jawa, membuat anak saya berdecak kagum dan ingin ikut bekerja bersama saya. Kadang ketika anak saya tidak menghabiskan susu atau makanan saya langsung menjelajah di internet, menunjukkan gambar orang kelaparan. Cerita tentang pengasuhan anak di panti asuhan yang kebetulan ada di dekat tempat tinggal saya membuat anak-anak merasakan syukur.

Sehari Bersama Ebes bukanlah program serius, walau saya memikirkannya dengan serius. Dan kejadian sebenarnya adalah saya belajar kepada anak, tentang impian, tentang hidup yang telah dijalani, tentang obsesi saya yang belum tercapai, dan semua itu mendorong saya mempromosikan setiap keinginan anak saya yang begitu dipenuhi oleh hasrat keingintahuan dan pencapaian.

Giles, T 080918#2, 9/18/08, 12:38 PM, 8C, 7690×9375 (331+862), 138%, PAT OTE, 1/8 s, R21.0, G0.0, B21.0

Saya mulai berpikir bahwa dunia pikiran itu kecil, sederhana, dan terbatas – sekaligus mampu mengembang, seluas gugusan bintang, dan tak terbatas. Pengetahuan kita yang terbatas akan ditelusuri oleh anak, semua labirin kehidupan akan diimajikan selesai oleh mereka dengan berbagai spekulasi atas imaji.

Dan Sabtu spesial itu menjadi menu rebutan, tentu yang sering (di) menang (kan) si bungsu Adriana. Hal lain dalam kebersamaan bersama anak adalah sebagai Ayah kita tidak punya ketakutan untuk mengatakan kejujuran bahwa kita tidak mengetahui sesuatu, sekaligus bangga mengatakan sesuatu pengetahuan dan pengalaman, entah kebenaran spiritual seperti momen puncak kita dalam ibadah atau karir/bekerja. Atau kebenaran teknis seperti mengajarkan anak bersepeda, mengecat dinding rumah, membuat gradasi warna, cara menanam dan membuat kompos, cara memperbaiki punggung buku yang rusak, cara menggaris dan mengukur, dan tentu saja membuat kliping koran (Satir masih disuruh gu guru membuat kliping berita, ketika PON di Bandung). Dan banyak hal paling busyet atau anjay kata anak saya.

Berbagi energi lewat rekreasi dan berteman dengan anak saya, membuat saya merasa beruntung dan sempurna. Mungkin juga Abah berpikir seperti pikiran saya sekarang, menjadi apapun asal sanggup berhitung risiko dan konsekuensinya.

Dulu saya sering menuliskan rendevous with destiny, sebuah kata yang lumrah di kalung atau zippo tentara Amerika di film serial Tour of Duty. Sebuah kata yang artinya berkencan dengan maut. Saya berusaha merasa dipertemukan dengan anak saya dalam suasana love at the first sight setiap harinya. Berkencan dengan takdir. Menjadi Ebes bukan warisan, juga menjalankan keyakinan kita. Juga menjadi anak. Sebuah pilihan untuk peradaban yang lebih baik. Pertanyaan anak jangan diabaikan, sebagai pertanyaan filsafat tentang ada dan mengada dalam dunia, pertanyaan tentang empirisme. Dan bagian tersulit adalah memberikan teladan, Ayah dan Anak adalah sebuah perjumpaan, sebuah percakapan.

Fasilitator dan Peneliti; aktif di Akademi Sinau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *