MEMBACA PERADABAN LAMPAU, DI LITA’ BOCCO TALLU

Dulu Allu atau Alu adalah merupakan salah satu wilayah geografis dari Kecamatan Tutallu (Tubbi, Taramanu dan Allu) sekarang menjadi Kecamatan Alu. Daerah ini pertama saya jejaki pada tahun 1997 lalu. Saat itu saya dkk. dari Satuan Karya (Saka Bhayangkara Polres Polmas) sepakat untuk menyelenggarakan perjalanan “Jalan kaki dari Tinambung ke Panyingkul Desa Baru Kec. Luyo selama 4 hari 4 malam. Kegiatan dilakukan untuk pencapaian SKU Penegak Bantara saat itu sehingga harus rela menempuh route Tinambung, Paropo, Petoosang, Alu, Pao-Pao mendaki gunung dan buttu asu-asu.

Buttu Asu-Asu adalah batas antara Alu dengan Tubbi Taramanu, sebab setelah Buttu Asu-Asu kita memasuki Pombijagi, Poda dan Lombang untuk selanjutnya menyeberang sungai ke Padang Mawalle (Ibu Kota Tutar saat ini). Dari Padang Mawalle menyusuri lereng gunung ke Lullung, Ro’boang Tembus ke Patulang, Ambo Padang, Batupanga Daala, Kel. Batupanga, Mambu, Luyo, Puccadi, Mapill Barat dan Finish di Panyingkul Desa Baru’ Kec. Luyo.

Setelah 20 tahun kemudian, wilayah Bocco Tallu ini kembali saya jejaki lewat sebuah kegiatan literasi dari Komunitas Rumah Kopi dan Perpustakaan. Selama September-Oktober-November 2017 ini. Beberapa Desa telah kami jejaki dengan cara mendekatkan akses bacaan ke masyarakat disamping mendata cagar budaya dan menggali sejarah awal terbentuknya Kerajaan Alu. Desa Mombi, Desa Sayoang, Desa Alu, Desa Saragiang, Desa Pao-Pao telah kami sasar untuk menebarkan virus literasi.

Kec. Alu dahulu adalah pusat pemerintahan Kerajaan Alu. Saat itu, semua kerajaan yang ada di Mandar belum terjalin dalam satu persekutuan atau kerjasama antar kerajaan. Masing-masing kerajaan memerintah serta berdaulat penuh diwilayah kerajaannya sendiri tanpa ada hubungan kerjasama dengan kerajaan lain, baik yang ada di kawasan Mandar, terlebih kerajaan yang ada di luar wilayah Mandar .

Masing-masing kerajaan berusaha memperluas wilayah kekuasaan, sehingga sering terjadi perselisihan yang berlanjut pada perang antara kerajaan. Upaya menghancurkan kerajaan lain dengan tujuan menjadi terkuat dan terbesar adalah kejadian rutin di Mandar pada saat itu. Puncak kekacauan terjadi ketika munculnya Kerajaan Passokkorang yang berkeinginan untuk menguasai semua kerajaan yang ada di Mandar saat itu. Politik adu domba ikut terlakonkan sebagai upaya untuk mengikis kekuatan dan pertahanan kerajaan.

Keadaan ini membuat Puatta Saragiang, Mara’dia Alu sangat khawatir, mengingat dua orang putranya masing-masing Puatta I Galu-Galung dan Puatta I Lepong sudah menjadi Raja. Puatta I Galu-Galung menjadi Raja Alu dan Puatta I Lepong menjadi Raja di Taramanu’. Puatta I Saragiang khawatir kedua putranya menjadi korban situasi yang bisa memicu terjadinya perang saudara.
Sekelumit kisah sejarah tersebut menjadi sebuah spirit untuk kemudian mencoba membentang nalar kepada semua elemen masyarakat Alu untuk beranjak dari budaya lisan ke tulisan.

Inilah esensi dari sebuah pustaka bergerak yang berlindung dibawah bayung literasi. Literasi memang harus menyentuh segala aspek keaksaraan, bukan hanya aspek bacaan atau minat bacanya, melainkan secara utuh bagaimana membuka peluang untuk mrekonstruksi sejarah sebuah daerah yang menjadi obyek gerakan pustaka bergerak. Buku atau gelar buku hanyalah stimulan atau semacam kampanye buku agar masyarakat bisa terbuka ruang kesadarannya untuk membuka cakrawala berfikirnya melalui buku. Inti dari gerakan literasi ini sesungguhnya adalah bagaimana memunculkan generasi literat di setiap lapisan masyarakat dan wilayah untuk bisa meliterasikan kampung dimana ia lahir dan dibesarkan.

Bentuk gerakan seperti inilah yang harus difaktualkan. Bukan menjadikan gerakan sebagai ajang gagah-gagahan, sebab justru pendahulu kita telah memulai tradisi dan budaya literasi ini lebih dahulu. Gerakan ini harusnya orientasi menjalankan perintah agama dan tugas kemanusiaan sekaligus menjadi bagian dari proses mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.

Respon masyarakat terhadap gerakan literasi ala Rumpita sungguh membanggakan. Keberadaan Komunitas Bestem Mombi dan Generasi Muda di Saragian dan Desa Alu patut menjadi alasan untuk bersama-sama menyuplai bacaan ke daerah pelosok Polman yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Majene ini.

Gerakan Donasi 100 Buku Perdesa adalah stimulan untuk mensugesti generasi Peradaban Bocco Tallu ini yang sekaligus jadi ladang amal buat siapa saja yang peduli dengan masa depan bangsa ini. Mari mengambil bagian dari gerakan ini. Perubahan harus dimulai dengan mengenalkan semakin banyak buku ke Alu. Selain Lampu jalan dan akses jalan, Buku sudah harus jadi kebtuhan mendasar bagi masyarakat kita !

Penggiat Literasi dan Pendiri Rumah Kopi dan Perpustakaan (Rumpita) Tinambung Kab. Polewali Mandar Prov. Sulawesi Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *