Komunitas Yang Memperluas Makna Membaca

 

Berdasarkan data bulan Juli 2017, terdapat sekitar 1052 komunitas literasi”—terhimpun sebagai pengguna program Free Cargo Literacy (FCL) Pos Indonesia. Terdapat dua hal penting yang perlu dicatat berkaitan dengan data jumlah komunitas literasi di Indonesia. Pertama, jumlah komunitas literasi sebanyak 1052 komunitas bersumber dari tiga himpunan sumber data yang berbeda. Data diperoleh dari tiga jenis kategori jejaring, yakni Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), Rumah Baca Asmanadia, dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM). Di luar tiga kategori jejaring ini sebenarnya terdapat banyak komunitas literasi lainnya yang tidak mengikutsertakan diri. Kedua, data jumlah komunitas literasi tampaknya akan terus bertambah setiap bulan sesuai dengan meningkatnya partisipasi komunitas literasi yang ikut mendaftar sebagai pengguna program FCL Pos Indonesia.

Di D.I.Yogyakarta misalnya, yang terdaftar sebagai pengguna FCL hanya berjumlah empat komunitas (data bulan Juli). Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan kenyataan bahwa untuk satu kabupaten saja seperti Bantul, Taman Baca Masyarakat (TBM) yang tergabung bersama Forum TBM Bantul berjumlah hingga 55 TBM. Dengan demikian kriteria pengguna program FCL memang tidak bisa menggambarkan jumlah komunitas literasi secara memadai, tetapi cukup representatif untuk membaca perkembangan gerakan literasi di Indonesia. Selama tiga tahun terakhir ini, jumlah komunitas literasi terus tumbuh. Tampaknya diskursus mengenai akses literasi, wahana ilmu pengetahuan, literasi media, dan minat baca direspon secara gembira oleh kelompok sipil.

Istilah komunitas literasi merujuk pada bentuk kelompok non-struktural dengan model pengelolaan aktivitas literasi secara sukarela, mandiri, berjejaring dan dinamis. Komunitas literasi ditopang oleh jenis politik partisipatif dan melibatkan jejaring untuk memperkuat gerakannya masing-masing. Hal ini memperlihatkan posisi komunitas literasi sebagai bagian dari partisipasi sipil atas penyediaan ruang pendidikan publik non-komersil yang berkaitan dengan advokasi akses pengetahuan, pendidikan, dan hak-hak asasi (buku, diskusi, praktik kreatif, apresiasi seni dan budaya, serta sarana penguatan aspirasi sipil). Komunitas literasi dengan demikian berkaitan dengan peran-peran agensi kebudayaan. Komunitas literasi seperti Rumah Baca Komunitas (Bantul), Komunitas Jelata Membaca (Banggai), Griya Baca (Metro Lampung), Lakoat Kujawas (Mollo), atau Literasi Jalanan (Ternate) memperkuat program dan aktivitas literasi secara sukarela, berjejaring, dan dinamis. Komunitas-komunitas ini melibatkan diri dengan minat-minat lokalnya masing-masing. Komunitas-komunitas semacam ini memproduksi, mereplikasi, dan mengapresiasi proses pengubahan yang terjadi sebagai konsekuensi atas pendidikan publik, sekaligus mendukung tumbuhnya aktivitas lain dari publik atas layanan sosial yang diberikan.
Komunitas literasi pada umumnya mengembangkan beberapa jenis aktivitas literasi semacam penguatan warga, advokasi pangan dan kuliner lokal, apresiasi kesenian, perpustakaan jalanan atau perpustakaan bebas akses 24 jam, wahana sains dan kebudayaan. Karakteristik komunitas literasi semacam ini menjadi model lain transformasi gerakan sosial baru. Perkembangan bentuk dan model pengelolaan komunitas literasi juga beragam.

Paling tidak terdapat tiga jenis model komunitas literasi. Pertama, komunitas literasi sebagai gerakan kolektif yang dikelola sepenuhnya sebagai komunitas literasi, misalnya Radiobuku (Bantul) yang mengelola pengarsipan dan kampanye “mendengarkan buku”; kemudian Rumah Baca Komunitas (Bantul) dengan perpustakaan 24 jam, perpustakaan jalanan, ekoliterasi dan kampanye literasi urban; Literasi Jalanan (Ternate) yang membuka perpustakaan dan pendidikan bersama anak-anak jalanan; dan Rumah Dunia (Banten) yang mengelola wahana literasi dan kampanye membaca. Jenis komunitas literasi yang pertama ini biasanya mengembangkan model aktivitas literasi, mulai dari advokasi dunia perbukuan, membuat penerbitan, mengelola media literasi, kegiatan ekoliterasi, sekolah literasi, seni, hibah buku, serta membentuk kegiatan kolaborasi pendirian gerakan literasi lain. Komunitas literasi jenis pertama ini terbentuk oleh praktik baru akvitisme tetapi bersifat non-LSM (lembaga swadaya masyarakat). Komunitas literasi semacam ini aktif memproduksi sendiri isu-isu literasi yang dianggapnya relevan sehingga tidak selalu bergerak berdasarkan isu-isu formal yang dikelola negara atau media massa.

Jenis komunitas literasi kedua terdiri atas lembaga baca masyarakat atau lembaga edukasi masyarakat, seringkali bersifat informal sekaligus non- formal, atau salah satunya. Jenis komunitas literasi kedua ini pada umumnya berbentuk Taman Baca Masyarakat (TBM) atau TBM sekaligus institusi penyelenggara pendidikan anak semacam PAUD atau TK. Jika komunitas literasi itu berbentuk TBM, maka termasuk ke dalam pendidikan informal, sedangkan jika digabung atau dikelola bersama dengan TK atau PAUD termasuk non-formal. Dengan demikian, komunitas literasi jenis kedua ini selain menyelenggarakan perpustakaan masyarakat, juga mengelola aktivitas pendidikan sebagai respon atas tersedianya kesempatan membangun institusi pendidikan non formal yang terbuka luas, dengan dukungan negara atas biaya penyelenggaraan pendidikan mencapai 20% dari total alokasi anggaran negara (APBN). Semakin kuatnya bentuk-bentuk hibah bahan bacaan dan sarana pendidikan juga turut menjadi faktor utama berkembangnya jenis komunitas literasi kedua ini. TBM yang mengelola perpustakaan masyarakat juga mempermudah mengakses bahan bacaan untuk perpustakaannya melalui program-program kerjasama dengan pihak swasta.

Komunitas literasi jenis kedua ini sebenarnya menarik untuk diperhatikan. Sekalipun beberapa komunitas ini bertautan dengan aktivitas pendidikan non-formal atau informal, beberapa di antaranya mengelola model pendidikan yang bisa saja di masa yang akan datang menjadi model alternatif lain. Misalnya, Rumah Baca Asmanadia dengan jumlah jejaring 229 komunitas se-Indonesia, mengelola aktivitas literasi berupa sarana pendidikan non-sekolah. Contoh lain adalah Teras Baca Guyub Rukun yang pada awalnya mengelola perpustakaan kampung, kemudian berkolaborasi dengan sekolah dasar untuk mengelola perpustakaan sekolah.

Jenis komunitas literasi ketiga terdiri dari beragam model inisiasi apresiasi literasi, dikelola secara individual atau berkelompok. Komunitas literasi semacam ini disebut sebagai model “apresiasi literasi” karena sangat fleksibel menunjukkan sikap partisipasinya atas literasi. Aktivitas literasi komunitas ketiga ini sangat fleksibel; warung makan yang membuka barter makanan dengan buku, pojok baca di tempat potong rambut, perpustakaan jalanan, apresiasi seni dan sastra, gerakan poster, layanan situs peminjaman buku antar pembaca, kegiatan diskusi di alun-alun, sanggar melukis, dan banyak lainnya.

Tiga jenis komunitas literasi yang dijelaskan singkat di atas sebenarnya hanya merupakan upaya awal untuk menggambarkan praktik-praktik inisiasi literasi yang sedang berkembang. Di luar tiga kategorisasi tersebut, praktik inisiasi pro-literasi sangat luas karena melibatkan minat, latar sosial-budaya, serta konteks geografis yang berbeda.

Memperluas Makna Literasi

Komunitas literasi secara luas bertujuan untuk mendorong munculnya akses atas ilmu pengetahuan dan informasi, serta menjadi wahana bagi tumbuhnya aktivitas pro-literasi. Komunitas literasi memperluas makna membaca, di mana kata “membaca” tidak lagi terkait dengan pengetahuan akan fungsi aksara dalam sistem simbol dan representasi, melainkan sebagai kumpulan aktivitas kritis dan penyadaran realitas. Dari berbagai variasi pengelolaan komunitas literasi, ditemukan beragam ide, nilai, dan tanggungjawab yang dipromosikan oleh setiap komunitas. Tampaknya makna membaca telah digeser menjadi sebuah proses emansipasi yang lebih dalam secara teoritis-ideologis dan praktik. Komunitas literasi, baik yang mengambil bentuk sebagai gerakan sosial atau taman baca masyarakat, memperluas makna membaca sekaligus merevitalisasi fungsi buku dan bahan literasi apa pun (internet, majalah, laboratorium, fotografi). Literasi juga bergeser dari aktivitas “menambah informasi” menjadi “melek informasi”, yang memuat unsur berpikir kritis dan praktik kehidupan berkelanjutan.

Konsekuensi pergeseran makna literasi semacam itu dengan mudah memperoleh representasinya dari berkembangnya fungsi buku atau bahan literasi menjadi sumber pengetahuan bersama sekaligus menjadi alat bagi pendidikan publik, dan bukan sekedar kepentingan masyarakat universitas. Selain itu, komunitas literasi mengubah peran utama arsitektural wahana buku menjadi sekedar perspektif atas penggunaan ruang. Berkembangnya komunitas literasi yang membuka lapak buku di trotoar dan taman kota memberi petunjuk bagaimana wahana buku yang sesungguhnya terletak pada perebutan ruang publik. Komunitas literasi berupaya mengubah ruang publik dari penggunaan komersil menjadi ruang pendidikan publik. Hal ini sekaligus mengemukakan dugaan awal mengenai kemunculan komunitas literasi sebagai hilangnya fungsi perpustakaan formal sebagai tempat akses pengetahuan yang egaliter. Berbeda dari negara-negara di belahan Barat, di Indonesia, perpustakaan formal belum banyak yang memberikan kesempatan bagi tumbuhnya aktivitas komunitas. Perpustakaan tidak sekedar menyediakan buku, tetapi menjadi sumber bagi penemuan dan pembentukan jejaring baru. Hal itu juga membantu dugaan mengapa upaya industri pengetahuan seperti penerbitan dan produksi media pendidikan publik cukup antusias direspon oleh komunitas literasi.

Komunitas literasi menjadi wahana penghubung antara berbagai kerja-kerja literasi, dengan menyediakan pendidikan publik, layanan sosial, perluasan penggunaan dan fungsi bahan literasi serta industri dan apresiasi kepentingan lokal. Komunitas literasi membawa literasi menjadi mengakar dengan orientasi aktivitas berkelanjutan, dengan memperkuat kapasitas literasi publik. Komunitas literasi berperan sebagai fasilitator pengetahuan yang mengembalikan fokus penguatan kekuatan publik melalui apa yang dapat mereka peroleh dengan pengetahuan dan berbagai wahana pendidikan.

Mahasiswa Pasca sarjana UIN Sunan Kali Jaga. Sehari hari sebagai kurator di Rumah Baca Komunitas dengan gelar Sunan Kalibedog. Mantranya yang paling menggetarkan adalah “membaca, menulis, dan menanam”. Itu sudah cukup perkenalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *