Khutbah di Atas Tembok Facebook

Inilah butir-butir tidak pokok dan tidak penting yang seharusnya tidak pernah mengisi sejarah hidup anda, pembaca semua:

1.Bergerak sepertinya menjadi salah satu penanda penting dalam gerakan literasi kontemporer.

2.”Public Library off”, ada ratusan pustaka bergerak ON!

3. Menyumbangkan nafas pada geliat komunitas pustaka bergerak, rumpun Taman Pustaka semoga kian tumbuh, subur, memberi makna.

4. Indonesia adalah endemik komunitas literasi, mata batin yang jernih akan melihatnya dengan penuh kegembiraan.

5. Perlu lebih banyak lagi kebijakan atau politik etis perbukuan: bebas ongkos kirim buku, buku gratis, murah, buku berkualitas, dll.

6. ‘Politik etis’ untuk literasi juga harus lebih dimunculkan dalam pelaksanaan UU Desa

7. Undang-Undang Perbukuan saya masih melihatnya masih belum satu nafas dengan geliat zaman pustaka bergerak.

8. Pernah, sy chat via WA dg anggota DPR yg urus RUU Perbukuan. Kejar setoran,nampak UU tdk senafas dg zaman pustaka bergerak

9. ada 60 motor pustaka keliling dibagikan perpusnas bulan ini, semoga zaman maju benar-benar bergerak!.

10. Menemukan anak anak muda yang mewakafkan jiwa raganya untuk menggerakkan pengetahuan melalui komunitas literasi itu anugerah hebat.

11. benarkah?: semakin maju pendidikan seseorang semakin memarjinalkan urgensi gerakan literasi?

12. benarkah?: semakin menghebat titel pendidikan seseorang semakin rabun untuk mengapresiasi gerakan literasi berbasis komunitas?

13. Tradisi literasi di ujung benua lain kelihatan, geliat komunitas literasi di depan halaman rumahnya tak mampu dilihatnya

14. anak-anak muda tak boleh rabun zaman, bergeraklah! membacalah! itulah semangat zaman yang ditakdirkan! Jemput takdirmu.

15. anak-anak muda penggiat literasi juga tak boleh jadi generasi yang mengapung tak punya pendirian tentang arah bangsa ini kemana.

16. sepertinya, zaman ini akan kembali bergerak dengan kekuatan melek baca-nya. Tanda tanda zaman yang kian benderang.

17. Dengan rezim yang bisa melakukan banyak hal seperti hari ini, ada ancaman dan bahaya besar bagi nalar kritis golongan muda!
18. seorang pegiat literasi militan adalah anda mewakafkan keringat, airmata, bahkan darah dan itu tidak dinilai penting bagi dunia.
19. akhir-akhir ini banyak sekali Japri WA masuk menanyakan prosedur mendirikan komunitas literasi dan cara dapat buku

20. pertanyaan yang teramat sayang untuk dilewatkan begitu saja dan aku mencoba merespon cepat dengan koneksikan WA ke Laptop.

21. Sebenarnya, mendirikan komunitas literasi adalah ruang bebas yang tak boleh diatur dengan prosedur orang/lembaga lain. Itu mutlak!

22. komunitas literasi, apa pun namanya adalah seperti orang melahirkan anak baru. Sepenuh-penuhnya ruhaninya tanggungjawab ortunya.

23. komunitas literasi, apa pun namanya adalah seperti orang melahirkan anak baru. Seluruhnya menjadi tugas orang tua asuhnya mau bagaimana dan seperti apa.

24. Jika komunitas literasi yg dilahirkan lalu byk orang rela ikut mengasuh, merawat, membesarkan, mengilmukan, itu ‘bonus demografi’.

25. Jika komunitas literasi yg dilahirkan lalu byk orang rela ikut mengasuh, merawat, membesarkan, mengilmukan, itu ‘bonus revolusi’

26. Jika komunitas literasi lahir, lalu byk orang ikut mengasuh, merawat, membesarkan, mengembangkan, itu namanya takdir literasi.

27. Komunitas literasi haruslah gampang ditiru pergerakannya dan urusan-urusan yang diupayakan mudah dilakukan.

28. Jika komunitas literasi itu sangat rumit, birokratis, sebenarnya itu bukan komunitas. Itu negara namanya.

29. Kini, Perpustakaan Nasional & Kantor pos benar-benar telah menjadi penolong kesengsaraan umum komunitas literasi seluruh Indonesia.

30. saya, kita, semua barangkali harus berterima kasih kepada Perpustakaan Nasional & PT Pos. Walaupun itu, tugas negara Nawacita.

30. Negara hadir dalam urusan literasi itu adalah nawacita yang penting. Tapi kehadirannya harus menjadi lebih bermakna.

31. Kehadiran negara ini baru 0,001 % dari minimal kehadiran negara dalam urusan literasi 70%.

32. Kini gerakan literasi benar-benar di tangan anak muda. Seperti pemuda Pesindo: terorganisir, militan, membesar, dan mewarnai.

…dan akhirnya mati untuk lahir kembali. Demikian khuutbah di atas tembok facebook semoga berguna untuk hati yang gelisah.

 

 

Ketua serikat Taman Pustaka, salah seorang pegiat Rumah Baca Komunitas (gerakan literasi). Pegiat Urban Literacy Campaign untuk komunitas. Belum lama ini membuat “huru hara” di Yogja dengan hastag #gerakanmembunuhjogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *