Kekuatan Pemaknaan sebagai Spirit Pendekatan Apresiatif

Berbicara mengenai perubahan sosial, terdiri atas transformasi kolektif dan individual selalu tidak dapat dipisahkan dari bagaimana proses-proses yang sangat spesifik turut membentuknya. Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam setiap proses perubahan sosial entah yang diinisiasi oleh sipil atau pun Negara selain terletak pada situasi ekonomi-politik yang membentuknya, juga sangat dipengaruhi oleh model- model intervensi, peran agen, dan interpretasi atas tantangan yang tengah dihadapi. Sejumlah model-model yang berkaitan dengan upaya mendorong perubahan sosial selalu hadir sebagai respon atas model-model intervensi sebelumnya yang dianggap tidak berhasil menciptakan perubahan. Pendekatan Apresiatif yang dikenal dengan berbagai istilah berbeda, misalnya Penelusuran Apresiatif (David Cooperider), Psikologi Positif (Martin Seligman), Manajemen Berbasis Kekuatan/Aset (Marcus Buckingham), pernah menjadi salah satu pendekatan populer, digunakan di berbagai organisasi dan komunitas untuk mendorong perubahan-perubahan internal.

Sebelum masuk ke dalam pengertian Pendekatan Apresiatif, sangat baik jika mengetahui bahwa pendekatan apa pun yang digunakan oleh organisasi atau komunitas sangat bergantung dari seberapa siap mereka untuk mencoba berbagai hal dengan perspektif dan pemaknaan yang berbeda. Sangat penting bagi pegiat organisasi atau komunitas untuk tertarik mempelajari hal-hal lumrah dengan cara dan perspektif yang baru. Dorongan-dorongan, minat, dan ketertarikan terhadap cara-cara baru ini sangat penting melandasi proses perubahan itu sendiri. Dalam konteks spesifik, misalnya untuk perubahan spirit dan visi penggerak organisasi atau komunitas, mengubah perspektif dan keterbukaan menerima cara pandang baru akan sangat menentukan bagaimana perubahan dapat diwujudkan, minimal dari bagian inti organisasi atau komunitas itu sendiri. Hadirnya kesediaan untuk berinteraksi dengan topik-topik baru atau pun lama dengan cara berbeda sudah menunjukkan perubahan itu sendiri. Sedangkan dalam konteks besar, perubahan-perubahan internal tadi akan mendorong terbentuknya struktur dan kesadaran kolektif baru.

Ada banyak perubahan-perubahan sosial diawali oleh perubahan dari cara masyarakat itu sendiri bertindak. Ambil contoh sederhana dari mewabahnya kegiatan berkomunitas sebagai simbol dari identitas dan pernyataan aspirasi, serta sebagai bentuk baru keterlibatan sosial. Kegiatan berkomunitas awalnya terlihat sebagai aktivitas waktu luang, dan cara kelas menengah menikmati privilasi waktu luang di sela-sela sempitnya waktu beristirahat. Orang-orang berkumpul di ruang-ruang publik, taman kota, balai desa, lapangan kampung, atau di gang-gang kecil di kota-kota padat penduduk. Aktivitas-aktivitas bersama tadi telah menghimpun ribuan tindakan-tindakan yang berbeda, mendorong cepatnya hibriditas pengalaman dan kebudayaan. Orang-orang bertemu berinteraksi, mempercepat bertukarnya komentar-komentar sosial. Fenomena semacam ini telah mendorong di banyak tempat, apa yang kemudian disebut sebagai ruang publik. Perbincangan-perbincangan mempengaruhi perilaku dan tindakan setiap orang yang terlibat di dalam ruang publik. Ide-ide berkomunitas dengan cepat menyebar dan mempengaruhi kecenderungan orang-orang untuk memikirkan kembali makna berkumpul. Satu tindakan akan berpengaruh terhadap ekosistem ruang publik. Hanya diperlukan satu contoh baik dari ide berkomunitas maka proses hibriditas terjadi.

Pendekatan Apresiatif memahami secara berbeda bagaimana interaksi antara perilaku, tindakan, wacana, dan ekosistem saling berkaitan, dan sesungguhnya menyimpan potensi besar bagi perubahan sosial. Di posisi yang berbeda, Pendekatan Reduksionis atau seringkali disebut Pendekatan Defisit menempatkan perilaku, tindakan, wacana, dan ekosistem sebagai unsur-unsur yang terhubung dan cenderung konfliktual antara satu dengan yang lain, sehingga selalu berada di antara ketegangan- ketegangan. Bagi Pendekatan Apresiatif, jenis ketegangan dan disposisi konfliktual dalam Pendekatan Defisit menyatakan problem mendalam dari paradigma pendekatan itu sendiri. Dalam beberapa konteks, Pendekatan Apresiatif melihat disposisi konfliktual sebagai sesuatu yang jelas dan terang benderang, sebagaimana kekuatan-kekuatan harmonis itu sendiri. Pendekatan Defisit terlalu memberikan tempat istimewa bagi disposisi konfliktual atas relasi indvidu, wacana, dan ekosistem, sembari menganggap bahwa kekuatan-kekuatan setiap unsur cenderung problematis dan dilematis. Contoh sederhana, bagi pendekatan defisit keberhasilan organisasi atau komunitas itu selalu berada di bawah bayang-bayang problem dan dilema. Sedangkan bagi Pendekatan Apresiatif situasi dan kondisi apa pun yang dialami oleh organisasi atau komunitas selalu dibayang-bayangi oleh kekuatan dan solusinya sendiri. Jadi bagi Pendekatan Defisit, keberhasilan selalu terdefinisikan melalui apa itu kegagalan. Sedangkan bagi Pendekatan Apresiatif kegagalan dan keberhasilan adalah konsep dari kekuatan pemaknaan.

Kekuatan Pemaknaan

Instrumen utama Pendekatan Apresiatif adalah kekuatan pemaknaan. Jika kita melalui proses belajar dari banyak praktik-praktik baik organisasi dan komunitas secara sungguh-sungguh, kita akan menemukan apa arti penting pemaknaan. Pendekatan Apresiatif sebagai model alternatif sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pendekatan Defisit. Kedua pendekatan ini terdiri atas teori, konteks terapan, dan daya-tahannya masing-masing. Kendati demikian, satu hal penting dari Pendekatan Apresiatif terletak tepat pada instrumen penting pendekatan ini, yakni kemampuan memaknai. Bagi Pendekatan Apresiatif, manusia tidak dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan bagi nasib organisasi atau komunitas tidak dapat dihindari. Akan tetapi, cara manusia memaknai setiap kejadian akan menentukan bagaimana setiap kejadian mempengaruhi dan dipengaruhi olehnya. Ambil contoh kita menyaksikan suatu komunitas tumbuh dengan iklim penuh inovasi dan inisiasi sedangkan pada saat bersamaan kita juga menyaksikan suatu komunitas yang menua ide-idenya? Pertanyaan seriusnya adalah bagaimana kita meletakkan kedua realitas ini sebagai situasi yang sebenarnya serupa? Apakah bisa? Dengan pendekatan Defisit, hal itu mustahil dilakukan. Tetapi bagi Pendekatan Apresiatif sangat memungkinkan untuk meletakkan kedua situasi itu sebagai gambaran yang sepenuhnya identik. Kita sedang menguji bagaimana instrumen pemaknaan dapat berfungsi dengan seharusnya atau tidak.

Pendekatan Apresiatif bukan cara untuk menilai sesuatu yang dianggap berhasil sebagai berhasil, tetapi memaknai keberhasilan dengan cara yang lain. Pendekatan Apresiatif mempertanyakan kembali apa sesungguhnya makna keberhasilan. Apa yang dimaksud dengan Kekuatan Pemaknaan adalah kemampuan untuk mempertanyakan secara kritis apa itu keberhasilan di dalam kondisi-kondisi di mana suatu organisasi atau komunitas dianggap tidak berhasil. Bagaimana menemukan makna keberhasilan melalui hal-hal yang terus menerus terjadi, dan berperan penting bagi solidaritas, kerjasama, mimpi, serta harapan-harapan. Jika kita antusias memuji dan mengapresiasi organisasi atau komunitas, dan pesimis melihat organisasi dan komunitas yang kita kelola, maka kita sebenarnya belum menggunakan Kekuatan Pemaknaan untuk menemukan hal penting dan bermakna dari apa yang kita miliki. Kita tengah terjebak di dalam logika Binner, seolah-olah hanya ada berhasil-gagal sebagai hirarki yang eksis. Kekuatan Pemaknaan sangat penting dan baik untuk memfungsikan Pendekatan Apresiatif.

Pendekatan Apresiatif adalah model cara berpikir dan menentukan keputusan semacam apa yang akan diambil untuk meningkatkan kapasitas organisasi atau komunitas. Kekuatan Pemaknaan akan membantu dengan sangat cepat bagi seorang pegiat komunitas untuk mulai memperkuat hal-hal baik dari organisasi atau komunitas, sehingga juga mempercepat perubahan-perubahan.

Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Sehari hari sebagai kurator di Rumah Baca Komunitas dengan gelar Sunan Kalibedog. Mantranya yang paling menggetarkan adalah “membaca, menulis, dan menanam”. Itu sudah cukup perkenalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *