Inilah Cara Pekerja Literasi Ucapkan “Selamat Ulang Tahun”

Selalu banyak cara bagaimana menunjukkan rasa gembira ketika teman sedang berulang tahun di komunitas. Inilah cara pegiat Rumah Baca Komunitas mengungkapkannya ketika salah satu dari pegiat, Rifki Sanahdi, berulang tahun. Selamat menyimak semoga menghibur (Rifki, 2017).

Lutfi Z Kurniawan, CEO Pilar Jaya Ins:

Membaca refleksi-refleksi yang dituliskan untuk seorang sahabat yang berulang bulan dan tanggal memberikan makna tersendiri bagi saya. Tulisan itu tak hanya bermakna bagi seseorang yang sedang berulang bulan dan tanggal. Melainkan bagi siapa saja yang membacanya, menyerap nilai-nilainya. Seperti refleksi yang dituliskan Cak Alfa – panggilan akrab lelaki bernama Fauzan Anwar Sandyah semenjak gemar mengkonsumsi telor asin – untuk Rifky Sanahdi.

Refleksi Cak Alfa berhasil membawa saya pada perenungan arti menjadi pegiat literasi. Seorang pegiat literasi adalah seorang manusia biasa. Seorang yang bisa galau dengan kondisi hidupnya namun menyerah untuk larut. Seseorang yang juga bisa tertawa oleh guyonan sejauh hal itu menurutnya tidak menabrak nilai-nilai yang diyakininya. Cak Alfa sering menyebutnya tidak mengandung disposisi kekerasan. Ia menjalani hari dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya seperti orang pada umumnya. Bedanya, dalam setiap fragmen aktivitas, dia selalu membangun dialog dengan diri dan sekitarnya, lalu memperkaya pengalaman dan pengetahuannya. Dari pengetahuan yang sedemikian kaya itu, ia menyarikan beberapa kembang dan buah pemikiran, yang kemudian dinikmati orang banyak.

Amat jarang kita menemukan catatan seorang pegiat literasi tentang dirinya. Tentang keberadaannya di mall A, cafe B, lokasi wisata C, sambil tertawa penuh keceriaan yang lebih sering dibuat-buat dan dipaksakan. Walaupun bukan berarti pegiat literasi anti mall, cafe, dan tempat wisata. Yang lebih sering kita temui adalah hasil amatan realitas di sekelilingnya, penjelajahan ke berbagai lapis realitas dengan menggunakan alat bor ilmu metodologi dan hasil pergulatannya dengan buku. Lalu penemuan berbagai danau-danau indah ilmu pengetahuan di kedalaman realitas. Sehingga ia mampu melihat realitas yang banyak orang lain tidak melihatnya.

Hal itu yang kuat saya rasakan dari refleksi jujur Cak Alfa tentang Rifky Sanahdi. Sebagai pegiat literasi, Cak Alfa mampu merefleksikan sesuatu yang tidak dilihat banyak orang tentang nalar pertahanan Rifky Sanahdi. Melalui refleksinya, nalar pertahanan sekaligus perlawanan yang selama ini dihidupi Rifky Sanahdi mengemuka menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai.

Dalam refleksi itu Cak Alfa mengungkapkan alasan sederhananya kenapa harus menuliskan kisah Rifky Sanahdi. “Dalam diri RS saya melihat sebuah bentuk pertahanan anak muda menghadapi globalisasi”. Kemudian ia menceritakan bagaimana bentuk pertahanan itu. “Rifky Sanahdi ini juga seorang penikmat kuliner lokal. Dalam hal yang terakhir ini, tak pernah saya lihat dia begitu terpengaruh oleh industri kuliner global–sebuah ciri dari pertahanan yang saya kira sulit untuk dibayangkan masa ini. Alih-alih mengonsumsi air mineral (yang kerap membuat susah dan tersiksa jika dibuang sembarangan di rumah komunitas, maaf curhat–red), menikmati minum koka-koala, tergila-gila dengan donut berjejaring multinasional, atau ngopi di warung internasional, dia justru makan pakis, masin, dan kombucha”.

Apa yang membuat pertahanan diri sekaligus perlawanan yang dilakukan Rifky Sanahdi terasa lebih berharga? Persis dikatakan oleh Cak Alfa, pertahananan itu ia lakukan di tengah kepungan hasrat Will to Modern, Pengen Gaul Dab. Di saat berbelanja ke mall maupun ritel modern menjanjikan kenyamanan, pemuda Rifky memilih belanja di pasar. Memenuhi kebutuhan vitamin serta mineral, ia lebih memilih menyusuri pinggiran Sungai Bedog bersama kawan duetnya AKBP Agus Andika.

Sebagai seseorang yang lebih banyak menghabiskan hidup di wilayah yang secara geografis jauh dari wilayah urban. Saya menganggap apa yang dilakukan teman-teman di Rumah Baca sebagai hal yang biasa saja. Sebab saya kerap mendapati hal itu biasa dilakukan oleh warga di sekitar saya. Belanja di pasar, menanam sayur di halaman, memetiknya kemudian memasaknya sendiri bagi mereka yang hidup jauh dari wilayah urban terasa biasa saja dan menjadi kewajaran. Sebab hal itu sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun sesuatu yang menjadi kewajaran dan keseharian itu jika direfleksikan ternyata mampu mengungkap nalar perlawanan dan pertahanan diri untuk mandiri. Memenuhi kebutuhan sendiri tanpa melakukan kekerasan pada alam dan manusia lain.

 

Fauzan A Sandiah, Pecinta Telor Asin dan Kurator Wedang Fermentasi:

Entah mengapa saya harus menuliskan sebuah cerita mengenai Rifky Sanahdi (selanjutnya akan disebut RS, 22 Tahun). Alasannya mungkin sangat sederhana, dalam diri RS saya melihat sebuah bentuk pertahanan anak muda menghadapi globalisasi. Potret anak dataran tinggi, dari keluarga petani-atas. Figur yang pas untuk melihat bagaimana gegar budaya menganggit imajinasi anak-anak dataran tinggi kota-desa. “Aku kaget banget bang pas pertama ke Jogja” ungkap dia suatu ketika. Alasan itu bagi saya adalah sebaik-baik alasan.

Baiklah, saya kira nyaris pantas untuk menceritakan kesan saya terhadap RS ini dalam pertemuan kami yang belum begitu panjang. Saya mengenal RS ini sebagai mahasiswa UMY, bergiat di beberapa organisasi, dan juga seorang penikmat kuliner lokal. Dalam hal yang terakhir ini, tak pernah saya lihat dia begitu terpengaruh oleh industri kuliner global–sebuah ciri dari pertahanan yang saya kira sulit untuk dibayangkan masa ini. Alih-alih mengonsumsi air mineral (yang kerap membuat susah dan tersiksa jika dibuang sembarangan di rumah komunitas, maaf curhat–red), menikmati minum koka-koala, tergila-gila dengan donut berjejaring multinasional, atau ngopi di warung internasional, dia justru makan pakis, masin, dan kombucha (yang dibuat oleh Junjungan Arifudin, MM, *maaf jika terjadi kesalahan menyebut nama dan gelar–red). Saya jarang bertemu sosok anak muda begini.

Apakah memang sesulit itu? dalam beberapa konteks saya kira iya. Soalnya jarang ada anak muda yang tak punya hasrat mendekatkan diri dengan apa yang disebut oleh Hanafi Prawiranegara, S.IP dengan will to modern. Tapi saya harus adil membeberkan kriterianya bukan? Kriterianya sederhana, lihat bagaimana seseorang memperlakukan alam dan buku. Kemanusiaan kita diukur dari seberapa sensitif kita terhadap perubahan-perubahan kontur di alam. Bisa membuang sampah sembarangan, berarti kita bisa dengan mudah mendiskriminasi atau memarjinalkan manusia. Terbiasa meminum air minum kemasan (produk Danono, misalnya) berarti kita punya potensi “mencuri tulang manusia”. Tak bisa menamam, berarti kita punya potensi tak adil dalam pikiran. Kriteria ini memang rigor, tapi dalam pembayangan saya yang generalis, itu tidak bisa dibilang tak mungkin. Tentu saja dengan mendefinisikan terlebih dahulu apa itu substansi “kekerasan”. Dalam contoh, dan kriteria semacam itulah saya melihat RS tengah mengasah dirinya. Saya berharap dia terus melakukan itu. Tentu saja karena ketika dia melakukan hal-hal semacam itu, bagi manusia relatif semacam saya bisa bertambah dan memperoleh kekuatan serta kesabaran.

Saya tak pernah berharap memperoleh inspirasi dan kekuatan dari orang-orang yang harus memperoleh kekuatannya dengan kompetisi. Saya butuh orang-orang semacam RS, dengan segala sifat fragmentatifnya memberi penguatan dalam konteks-konteks yang tak diduga. Saya kira tak ada orang yang benar-benar mampu menjadi contoh ideal. Mereka selalu bertindak terpecah, tapi pasti ada dalam bagian itu yang menyimpan daya besar bagi orang-orang.

Selamat milad RS jadilah manusia pembelajar, yang selalu ingin melampaui godaan destruktif dalam diri. Makan terus pakis, karena pakis punya filosofi hidup yang kuat. Hidup dari aliran air yang mengalir, tumbuh bersama belukar, kadang-kadang sulit dibedakan dari kebanyakan pakis-belukar lainnya, tapi tak pernah sedikitpun eksistensinya terganggu. Tak pedulis sesulit apapun dia tumbuh dalam kubangan limbah industri, dia terus hidup memperbaharui caranya mempertahankan diri, dan berlipat-diri.

Agus Andika P, sindikat The Young Sardiman:

Hari ini Tuhan menurunkan salah satu saudara terbaik dalam hidupku

Adakalanya Tuhan menciptakan saudara tidak harus serahim dan sedarah
Tapi persaudaraan itu melebihi apapun
Dipertemukan denganmu pun tak disangka dan dinyana
Waktu itu, mustahil tanpa campur tangan sang kuasa menpertemukan kita dalam satu forum organisasi yg kita geluti bersama
Saat itu kekonyolanmu memikat hati ini, gelak tawa kau buat tak henti hentinya, disisi kekonyolanmu kumenukan pathner diskusi yg berwawasan luas, penuh semangat dan berapi api
Bagaimana kau tak membuat konyol malam itu, hp mu tercanggih dan terhits waktu itu, tapi kau tak bisa mnghidupkan kamera hpmu sendiri.
Perkenalan kitaberlanjut, kekonyolan terus berlanjut, nenemukanmu di kampus rupanya sangat mudah, jas santrimu itu lho, iya jas santri yg slalu melekat di setiap harinya memudahkanku mencarimu. Heh
Dan mulailah dirimu menebar php untukku, 😀
Tiba tiba suatu hari dia mengajak main kekontraknya untuk dimasakkan ikan khas sumbawa, tapi janji hanya sekedar janji, sampai kontrkannya dibobol maling ikanpun tak kunjung dimasak.
Setelah kontrakan dibobol maling persaudaraan kami makin terpupuk, beberapa lama dia bermalam dikosanku yg sempit dan pengap. Kami kesana kemari melakukan banyak hal.
Suatu saat dia kuajak ke RBK tak mudah mengajaknya berkali kali dia menolak, dengan berbagai alasan, maklum waktu itu saudara ini belum menyukai bertemu orang orang banyak.
Hari pertama kuajak kerbk apa yg terjadi, dia tidur dibelakang rak buku saudara, baru jam 7 sore hahha. Memang dlu saudara satu ini tidurnya dibawah jam 8 malam.
Persahabatan kamipun tak lepas dari ujian karena pada satu masa dia mulai banyak teman, dan dsitu aku mulai merasa kehilangan, dia sibuk kesana kemari membantu orang, gara gara kebaikan dan kegemarannya menolong orang sampai sampai dia sering sekali dimanfaatin teman teman sebaya kami. Yg tak jarang org itu saya tlp dan saya marah marahi, tentu tanpa sepengetahuan dia, hehe
So sweet kan aku..
(Mungkin kalau kuceritakan semua bisa jd buku)
Kekonyolan berlanjut, mulai tragedi maling di rbk, tragedi talok, sampai drama ala ala detektif saat kehilangan motor madan membuat kami semakin erat.
Dan di hari ulang tahunnya hari ini, tak banyak yg bisa kuberikan
Hanya doa doa saja, semoga engkau selalu diberi kesehatan agar kebaikan kebaikan bisa kau tebarkan setiap harinya, semoga cita citamu memajukan daerah bisa terwujud
Dibanyakkan rejekinya, dimudahkan membeli buku, teruslah menulis saya adalah penggemar beratmu saudaraku

Semoga kita bisa satu jurusan dan satu kampus di tahun ini..Jangan dulu ke luar negri ya, setidaknya setahun dlu stay djogja untuk menguatkan hatiku untuk berpisah. Aku akan selalu merindukanmu jika kita sudah berjanjak dari jogja, kuyakin kebaikan akan selalu menyertaimu karena ku tau kau org yg sangat baik. Terimakasih telah menjadi saudaraku, sahabatku, pathnerku, motivatorku. Semoga Aallah melimpahkan semua karunia untukmu. Selamat ulang tahun rifki sanahdi.
Teruslah berkarya dan menginspirasi
(Jangan lupa karokean)

Pegiat gerakan Belanja Di Warung Tetangga. Ia tinggal di Kedubes Young Sardiman, Yogyakarta dan bisa ditemui di Facebook: Agus Andika Putra Kombes Suraji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *