Hikayat Kalibedog: Pengetahuan, Ekosistem, dan Daya-Tahan

 

Rumah Baca Komunitas (RBK), perkumpulan yang akan dibicarakan ini berdiri pada bulan Mei tahun 2012, masa-masa di mana pelarangan buku, pembubaran diskusi, dan suatu masa di mana berbagai bentuk predator politik tak bisa dibendung. Di situasi semacam itu, mendirikan dan menghidupkan komunitas literasi bukanlah pekerjaan tanpa refleksi. Berbagai tempat sudah dilewati RBK sebagai komunitas, membangun perpustakaannya mulai dari menyewa rumah di kampung Onggobayan (tahun 2012), pindah ke Jl. Parangtritis (tahun 2013), kemudian ke Kalibedog atau Sidorejo (tahun 2014), dan sekarang menempati untuk sementara waktu suatu ruang di asrama bangka (wijilan, tahun 2018). Seperti pada umumnya sejarah komunitas, berpindahnya tempat berhubungan dengan pergulatan–apa yang disebut dalam bahasa Jawa sebagai–“roso”. Perpindahan RBK dari Kalibedog menuju asrama bangka adalah suatu suasana batin yang perlu untuk dikemukakan secara khusus karena situasi ini masih terasa begitu baru, dan ambigu terutama jika dikaitkan dengan tantangan eksperimentasi ekologis yang berusaha dijiwai oleh setiap pegiatnya.

*RBK Kalibedog*
RBK Kalibedog berarti ungkapan yang menunjukkan lokasi di mana RBK membangun perpustakaan komunitasnya. Kalibedog adalah nama sungai yang mengalir sekitar beberapa puluh meter di belakang perpustakaan rbk, membuat nama “Kalibedog” terasa lebih kuat untuk digunakan sebagai frasa tambahan bagi “RBK” daripada nama resmi kampung ini, Sidorejo. Secara sepintas kampung ini terlihat seperti kampung pada umumnya di pinggiran kota Yogyakarta, yang berfungsi sebagai kantong suara politik, dan tempat kombatan-kombatan berbayar lahir, elit politik konvensional memang memelihara kondisi semacam ini. Kampung Kalibedog terdiri dari berbagai orang dengan latar ekonomi yang berbeda-beda, pengrajin, borongan, penyedia jasa transportasi, pedagang kuliner, berhadapan dengan warga perumahan yang tinggal dengan mobil urban dan rumah yang tertutup pagar. Kampung Kalibedog pada akhirnya semakin tampak serupa dengan berbagai kampung lain yang beralas semen dan tanpa ruang ekologis sama sekali. Di sini, seorang pegiat kesenian bekerja setiap hari membersihkan kampung, menanam rumput untuk penghijauan, dan seringkali menjadi penghubung sosial yang signifikan. Sempat juga beliau membangun perpustakaan umum dengan dasar infrastruktur bambu, roboh pada tahun 2016 akibat tiupan angin kencang dan hujan badai berbulan-bulan. Kalibedog adalah tempat penuh misteri, berbagai kesungguhan tanpa pamrih, perebutan kekuasaan, hingga kerjasama bisa ditemukan dalam satu waktu bersamaan, dengan aktor yang saling mempertahankan keberlangsungannya masing-masing. Perpuskaan RBK berjumpa dengan situasi penuh harapan, ambigu, dan absurd di Kalibedog, memungkinkan banyak wacana diproduksi setiap hari melalui humor, tulisan reflektif, aktivitas berkebun, makan di angkringan, atau saat menyantap bakmie di ruang publik. Suasana yang terasa begitu bergairah lahir dari konteks yang melebur dengan renungan keseharian mengenai apa itu pengetahuan, bagaimana membuat pengetahuan menjadi demikian emansipatif, atau bagaimana membuat pengetahuan menjadi khazanah bersama dan alat keadilan.

*Daya-tahan Terus Maju*
Pengetahuan yang membebaskan membawa pegiat dan komunitasnya menemukan strategi untuk bertahan hidup. Setidaknya itu pernah dialami oleh komunitas ini yang nyaris (atau sudah?) “bubar” pada tahun 2013, karena persoalan kepindahan. Daya-tahan pegiat dan komunitas pada tahun ini memang banyak diuji pada ambiguitas problem ekologis daripada sekedar problem yang terlalu kronik. Beberapa waktu sebelum pindah, pohon murbei ditebang oleh orang yang tidak dikenal. Begitu juga dengan pohon markissa di bagian belakang rumah yang di kontrak RBK sebagai perpustakaan. Kemudian ide dari salah seorang warga untuk membabat kebun RBK dan membuatnya menjadi parkiran motor. Daya-tahan komunitas ini diuji dengan persoalan refleksi ekologi, apalagi sebelumnya seorang RBK gagal menyewa tanah karena ada pelbagai persoalan pertanahan yang lazim ditemukan di DIY. Pertanahan adalah pukulan ekologis pertama, dan membuka kekagetan yang lain.

 

Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Sehari hari sebagai kurator di Rumah Baca Komunitas dengan gelar Sunan Kalibedog. Mantranya yang paling menggetarkan adalah “membaca, menulis, dan menanam”. Itu sudah cukup perkenalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *