Gosip Perbukuan: Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia

“Pram tidak hadir di Bumi Manusia”, ini adalah kata yang paling tepat untuk menjelaskan kegelisahan Max Lane yang dituangkan dalam buku Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia mengenai sosok Pramoedya Ananta Toer, lebih tepatnya novel-novel (Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, (Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Hoakiao, Gadis Pantai, dan Nyanyian Seorang Bisu yang ditulis olehnya di kamp pembuangan Pulau Buru.

 

“Pram tidak hadir di Bumi Manusia”, ini adalah kata yang paling tepat untuk menjelaskan kegelisahan Max Lane yang dituangkan dalam buku Indonesia Tidak Hadir Di Bumi Manusia mengenai sosok Pramoedya Ananta Toer, lebih tepatnya novel-novel (Arok Dedes, Arus Balik, Mangir, (Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Hoakiao, Gadis Pantai, dan Nyanyian Seorang Bisu yang ditulis olehnya di kamp pembuangan Pulau Buru.Tiga puluh tahun lebih tepatnya karya ini sudah hadir ke tangan pembaca, mewarnai dan menjadi salah satu pembakar semangat reformasi dan penggulingan rezim Orde Baru untuk menciptakan “Revolusi yang belum selesai”, namun, belum mendapatkan pintu yang layak dalam kurikulum pendidikan dan kesusastraan Indonesia.

Max Lane, Indonesianis sekaligus penerjemah karya-karya Pram, yang telah lama mengenal sosok Pram mencoba menguraikan penyebab absennya karya-karya Pram tersebut.Tumbangnya rezim Soekarno menandakan babak sejarah baru, sejarah pemalsuan oleh rezim selanjutnya. Sejarah yang sebenarnya telah dihapus dari kesadaran kolektif negeri ini sebagai hasil militerisasi, pemalsuan, dan penghafalan sejarah palsu setelah 1965 (hlm 190). Adam Malik, seorang pejuang revolusi di masa mudanya dan seorang Wakil Presiden, mengundang Pramoedya dan kedua sahabat sekaligus penerbit dan editornya, Joesoef Isak dan Hasyim Rachman, untuk bertandang ke kantornya dan menyatakan bahwa novel itu sebaiknya jadi bacaan wajib buat semua siswa di sekolah. Sampai sekarang, lebih dari 30 tahun kemudian, hal ini belum terlaksana dan merupakan bukti nyata penindasan, pengendalian, dan hegemoni oleh kaum elit bobrok dan para pengikutnya di media dan sekolah-sekolah (hlm 151-152).

 

Peredaran yang sangat terbatas (dana yang minim karena dicetak oleh perusahaan keluarga (hlm 171) menjadi permasalahan tambahan mengapa buku ini belum juga mampu menjangkau penduduk Bumi Manusia yang berjumlah 250 juta jiwa padahal novel-novel itu selalu habis terjual baik versi asli maupun bajakan (pada 2014, tepatnya ketika menjadi mahasiswa semester dua di Yogyakarta, penulis mengalami kesulitan untuk membeli novel-novel ini, bahkan penulis hanya mendapatkan versi bajakan yang tidak lengkap dari Tetralogi Pulau Buru setelah berkeliling dan menunggu selama dua minggu).Lane tidak hanya menguraikan kegelisahannya terhadap karya Pram, tapi sebaliknya, mencoba melanjutkan dan menelaah secara mendalam karya Pram mengenai proses penciptaan apa yang disebut Indonesia yang sekarang sebagai suatu proses perubahan yang tak putus-putusnya yang didorong oleh dinamika pemberontakan, pembebasan, pertukaran internasional, pencarian untuk pencerahan humanis dan pembaharuan melawan kekalahan dan keterbelakangan (hlm 121).

 

Bagi Lane, karya Pram merupakan anti-tesis dan penjungkirbalikan versi sejarah kolonial dan pascakolonial yang menegaskan bahwa Indonesia hadir sebagai suatu kesinambungan dengan masa lampau. Dan yang paling revolusioner adalah pertentangan Pram yang mendalam dengan histiografi ideologis Orde Baru, yang menggabungkan penyucian sejarah Pra-Indonesia (yang terwujud di dalam kuil bagi pra-modernitas Taman Mini Indonesia Indah) dan dengan nasionalis Partai Komunis Indonesia yang melacak Indonesia kembali ke Sriwijaya dan Majapahit (hlm 169).

 

Sebagai seorang Indonesianis, Lane memberikan kritik yang sangat baik bagi generasi Bumi Manusia. Lane mencoba memahami karya-karya Pram yang merupakan penulusuran sejarah Nusantara selama 1000 tahun dimulai pada abad 11-19. Ini adalah kritik yang sangat membangun dimana seorang sarjana Australia menghabiskan waktunya untuk memahami perjalanan Revolusi Bumi Manusia dan mungkin menunggu dan terlibat dalam menyongsong Revolusi yang belum selesai itu.Dalam buku ini, Lane tidak memberikan komentar-komentar yang seimbang terhadap semua karya-karya Pram dan hanya memberikan tekanan yang besar pada beberapa novel seperti Arok Dedes dan Bumi Manusia.

 

Namun, buku ini mampu menghantarkan dan mengajak kita untuk memahami bahwa penelusuran karya-karya Pram yang merupakan bagian awal Revolusi, harus dilanjutkan oleh penduduk Bumi Manusia dan bukan sebalikya, mengulang-ulangi hal yang sama yang pada akhirnya memperlambat pembebasan dan keterbelakangan. Minke (Tirto Adhi Soerjo), yang digambarkan sebagai tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru telah kalah total dan lenyap dari sejarah Indonesia sebelum Pram menulis novel-novel ini (158). Apakah Pramoedya akan mengalami nasib yang sama, lenyap seperti tokoh-tokoh di dalam roman-romannya?

Kalibedog, 16 Oktober 2017

Mahasiswa UMY, aktifis pergerakan mahasiswa (HMI) dan juga bergiat di Rumah Baca Komunitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *