Ganesha Pergi Makan Siang; Kisah-Kisah dari India

 

Buku Ganesha Pergi Makan Siang; Kisah Klasik dari India (2018), merupakan karya Kamla K. Kapur yang diterjemahkan oleh Danto, seorang aktivis sosial dan pegiat perbukuan di Yogyakarta. Karya ini sesungguhnya merupakan karya pertama Kapur yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kapur adalah penulis drama, puisi, dan cerita-cerita klasik, yang berasal dari India. Kapur juga seorang spiritualis, penganut ajaran Sikh, dan telah menulis dua buku popular lainnya tentang filsafat hidup yakni; Rumi’s Tales from the Silk Road: A Pilgrimage to Paradise (2009), dan The Singing Guru: Legends and Adventures of Guru Nanak, the First Sikh (2015). Seluruh karya Kapur merepresentasikan upaya pencarian kebenaran, sebagaimana disajikannya dengan kisah-kisah tentang para pertapa, manusia, dewa-dewa, dan setan.

 

Kisah-kisah klasik dalam Ganesha Pergi Makan Siang merupakan kumpulan teks dan dongeng tentang Tuhan (Wishnu, Siwa, dan Brahma), dewa-dewa (misalnya dewa Indra, Parwati, dan Ganesha), orang-orang suci dan pertapa (misalnya Naradha), dan manusia (misalnya Rama dan Shinta dalam epos Ramayana). Buku ini berupaya untuk menyajikan kembali kisah-kisah klasik yang hidup di masyarakat India Kuno hingga abad pertengahan, diceritakan turun temurun sebagai bagian dari kisah spiritual. Buku ini memuat enam kisah. Pertama adalah cerita mengenai Wishnu. Kedua, kisah tentang Brahma. Ketiga, cerita tentang Siwa, Parwati, dan Ganesha. Keempat, cerita tentang Krishna dan Beberapa Perumpamaan. Kelima dan keenam adalah kisah dari Ramayana dan Mahabarata.

Ganesha Pergi Makan Siang merupakan buku yang berisi perenungan sekaligus bentuk dari kritik spiritual terhadap kecenderungan hidup masyarakat patrimornial abad Pertengahan, dan menjadi penanda bagi era keserakahan yang telah tumbuh sebelum era Industrial. Kisah-kisah klasik India mempertentangkan antara kecenderungan pemuasan kehidupan ragawi yang berhadap-hadapan dengan tuntutan penyucian diri. Kisah klasik India yang diangkat Kapur menggambarkan ide filsafat yang lazim di abad pertengahan dengan pengaruh ide-ide filsafat Platonisme, dan ide umum tentang spiritual agama-agama Barat Tengah seperti Islam. Tidak heran jika kisah klasik India ini juga berhubungan dengan aktivitas spiritual penganut Sikhisme abad ke-15. Orang-orang Sikh dikenal sangat asertif secara spiritual untuk mengadopsi kisah-kisah tertentu mengenai cara hidup manusia keluar dari keterkungkungan hidup ragawi dari berbagai ajaran agama lainnya. Kisah-kisah dalam Ganesha Pergi Makan Siang memaparkan bagaimana ide-ide spiritual mencoba untuk meredam keserakahan, kecemburuan, kesombongan, dan nafsu seksual, sebagai bagian dari praktik hidup ragawi.

Salah satu kisah yang menjadi judul dari buku ini bercerita tentang Kubera, seorang raja yang tamak, perusak hutan, sungai, dan gunung, yang secara tidak langsung dihukum oleh semangat ketamakannya sendiri. Kubera, sang raja kaya raya itu pada suatu ketika bernafsu untuk memperistri dewi Parwati (istri Dewa Siwa, sekaligus Ibunda dari Ganesha sang dewa ilmu pengetahuan). Kubera mengundang Parwati untuk makan siang di istananya. Parwati menolak, kemudian mengutus Ganesha untuk pergi menemui Kubera. Dalam kisah mitologi, Ganesha dikenal mampu memakan apa pun, termasuk Wishnu, Laksmi, Naga Sesha, Brahma, dan Indra. Kedatangan Ganesha membuat Kubera kaget, sekaligus menaruh hormat karena menganggapnya sebagai pertanda baik. Ganesha melahap semua hidangan yang disajikan oleh Kubera tanpa sisa. Tapi Ganesha masih lapar, nafsu makannya tumbuh semakin besar dan tak tertahankan. Perabotan makan, emas, dan benda-benda berharga Kubera juga turut dilahap tanpa sisa, termasuk hewan kendaraan kesayangan Kubera, Pushpaka. Kubera menangis ketakutan dan meminta ampun pada Siwa dan Parwati, serta memohon supaya Ganesha tidak ikut memakan dirinya. Parwati memberi Kubera kue poding dari tepung beras yang dibuatnya sendiri. Kubera menerimanya dan menyuapkannya ke Ganesa. Seketika, nafsu makan Ganesha menghilang, menjadi tenang, dan terkendali.

Kisah mengenai Ganesha, Kubera, dan Parwati adalah representasi penting tentang kekuasaan patrimonial yang banyak menjadi dasar ide-ide dari kisah-kisah ketamakan. Raja-raja yang tamak seringkali menjadi cara untuk mengembangkan ide spiritual tentang apa itu perjuangan menuju keugaharian. Raja-raja tamak, pertapa suci yang pencemburu, dan siasat-siasat dewi-dewa berhadapan dengan kronik kehidupan manusia menjadi sarana untuk mengemukakan pertentangan-pertentangan sepanjang hayat yang lahir dari kontradiksi kehidupan. Spiritualisme India Kuno dan abad Pertengahan pada umumnya berkaitan dengan gagasan bahwa manusia dapat mencapai tingkat tertinggi, kemuliaan, dan kesalehan dengan menghilangkan tabir ilusif dunia yang dihasilkan dari Maya. Keberhasilan manusia menyingkap tabir ilusif kenikmatan dunia akan membawa manusia menemukan cinta sesungguhnya. Gagasan dasar dari spiritualisme India Kuno dan abad Pertengahan juga berkaitan dengan cara memahami waktu dan bagaimana kejadian-kejadian duniawi berhubungan dengan konteks temporalitas yang sangat dependen dengan Kemahakuasaan Wishnu, sang Tuhan yang Esa. Semua kisah dari Ganesha Pergi Makan Siang berupaya untuk menggambarkan perjalanan spiritualitas dan gesekannya dengan kehidupan sehari-hari. Filosofi hidup abad pertengahan mirip dengan ide filsafat Yunani, di mana filsafat adalah praktik hidup ugahari, dan bukan kumpulan serta konsep-konsep teoritis. Filsafat adalah praktik. Kisah-kisah klasik dari India ini adalah sebuah oase tentang praktik-praktik itu.

Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Sehari hari sebagai kurator di Rumah Baca Komunitas dengan gelar Sunan Kalibedog. Mantranya yang paling menggetarkan adalah “membaca, menulis, dan menanam”. Itu sudah cukup perkenalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *