Equator Hidup: Sajak-sajak Surya Aqidah

I

Kau terenyuh dengan buaian melodi nan bijak
Khitahmu bagai terhempas ke dasar lautan kalam nan bengis

Mari tautkan jemarimu bersamaku
Kan ku gengam jemarimu bak rasi tak terlepas

Planet
Matahari

Tatanan tata surya yang melengkapi
Senantiasa berotasi untuk saling berbaur
Khatulistiwa ada karena bumi berporos

Ku ajak kau
melangkah
Berpijak
Menemukan ekuator hidup ini

Tersenyumlah wahai peramu urun nan elusif

Dan, teruslah tersenyum

II

Sang waktu tengah bersimpuh
diatas permadani merah
samar dan meredup
dalam gulungan senjakala

Angin berhembus
memecahkan kaca-kaca jingga
berderai jatuh kepingannya
kedalam hening jiwa

Tembang cinta mengalun pilu
menembus mega mega
mengoyak tirai langit
saat liriknya gelisah

Tergores sayatan sunyi
yang mendesah disemesta
ketika lagu rindu
semakin serak iramanya

III

Serak kudengar rintihan kata
memecah ketepian malam
pada jejak aksara
yang telah kabur dan memburam
ditengah kecamuk bait
yang mendesah kesakitan

Sumbang kulihat untaian kata
tertulis kusut dilembar malam
saat rangkaian hurup tak dapat lagi disatukan
ditengah sunyi jiwa
yang gelisah dikedalaman

Satu kalimat tanya
berhenti diantara tanda koma
ungkapan rindu serta cinta
terpisah dari makna
senandung merdu
bagai syair tanpa nyawa
aksara malam
kehilangan pesonanya

Geliat waktu memecah sepi
kedalam bilik aksara
Sekilas resah berjalan
menyusuri jendela jiwa
melirik masa silam
diatas lembaran penuh luka
terangkumlah kesimpulan
tentang hampa dalam rasa

IV

Ku ketuk serambi hatimu
Ada cela yang ku lihat di sudut tahtamu
Perlahan aku menepis semua kegundaanmu terhadap insani

Hikayat sebuah massa
Tak menyurut sebuah rasa
Untuk berlabu dalam aksara

Hidup bagai bara
Api bagai pembunuh
Air bagai penjinak
Akan ku genggam dalam perjanan

Bertaruh
Berperang
Melawan

Sampai ambang batas ekuator
Untuk menemukan sebuah garis lurus
Bersama cahaya dan tekat

Cahaya itu kamu,
Yah itu KAMU…..

V

Sekali ini aku kembali
Kembali berlari bersama mimpi
melaju di antara benang-benang sejarah yang kusut
kucoba menyulam hasrat

Satu persatu memori kusut
Terangkai rapih
Saat kau datang
Membawa setitik cahaya pelangi

Waktu yang dulu hanyut
Kini larut
Dalam biasan tahta diksimu
Tidak untuk menyusut

Setitik cahaya terakhir
Terpancar dari sejuta bahasamu
Perlukah kau, ku pertahankan?
Rasanya tidak!

Namun, sejuta narasi yang unik
Berpengaruh menghasut diriku yang terpengkal
Menyerah menghadapi hidup

Asal kau tahu!
Aku tak bermaksud untuk mencuri setiap bait dalam prosamu
Aku juga tak pernah berniat
menghapus jejak yang pernah membuat tawamu meluruh

Tapi….

Cukup waktuku
Membuka setiap lembaran syahdu dalam kalbumu

Sekarang ataupun nanti….
Aku ingin setiap rima yang kita toreh
Dihapus oleh hujan yang turun membawa luka kenangan kita.

Tersenyumlah
Wahai penata sajak dalam diksi kehidupanku.

VI

Hamparan langit maha sempurna
Bertahtakan bintang-bintang
Biaskan terang menyentuh alam

Kunang-kunang penyatuh jiwa
Bawakan aku malaikat tak bersayap
Dengan tutur kata penyentu jiwa

Namun
Siapakah dia

Entahlah
Hanya hatiku yang mampu menjawab

Aku merunduk
Aku terpukau akan hadirnya
Kuresapkan nilai penekan rasa

Ada damai yang kurasa
Kepedihan seakan terhapus
Alam raya seakan ikut tersenyum menyambutnya

Sekali lagi
Aku menekan rasa di hati
Kini pencarianku pun telah usai
Usai di dalam nirwana senyumanmu

KELAM

*****

Anai-anai berduyun-duyun bagaikan anabasis yang merobek jiwa
Reguk sang rembulan memporak-porandakan manifestasi kehidupan

Sunyi
Senyap
Hanyut
Terkungkung

Majasi paramasastra litelatur hidupku
Kapankah Imbuhan navigasi hidupku menuju alur maju

Oh rotasi balada hidup
Berikanku secarik kitab
Kitab elemen anasir yang membawa kelamku

Air
Api
Tanah
Hawa

Sungguh aku ingin menggegamnya
Dalam dimensi sajak hidupku

Sekarang dan nanti

****

Pegiat literasi di Rumah Baca Pelita. Suka menuliskan coretan-coretan isi kepala ihwal apa saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *