Doa-Doa: Puisi-Puisi Surya Aqidah

I

Berharap pada suatu kisah
Antara nyata dan khayalan
Nyata yang mebuatku lemah
Khayalan yang membuatku kuat

Berdiri dengan satu tumpuan
Menjaga keseimbangan untuk tak terjatuh
Tapi sulit!!!

Adakah cela untuk keinginan
Adakah cela untuk sebuah rasa
Tapi,
Kenapa sesulit ini untuk meraih

AKU INGIN KALAH!!!

Kuat yang ku bangun
Kini roboh dengan kenyataan

2017

II

Serpihan malam
getaran-getaran halus
menggenggam lurus
dalam detik ini
ingin ku selimuti
bayang-bayang sepi

Aku kehilangan bayangmu
kusapu bekas bayangmu
aku masih seperti kemarin
menanti dalam hening
namun kau tak bergeming
menuju ke arahku

Entahlah…
mungkin aku harus berlalu
mengalah pada waktu
karena aku didirimu
hanya sebagai sosok semu
aku cukup berdiri disini
tanpa segala sesuatu tentangmu

2017

III

Masih pengap dibekam bimbang, nikmati musim dilema panjang. Rasa ingin berganti, enggan lelah sudah bermain peran. Tiap jumpa hujan pertanyaan, acapkali senja dipermainkan oleh selaksa harapan-harapan meruncing pada pemaksaan. Aku alergi lingkunganmu yang bertaburan serbuk emas.
Entahlah, aku tak menahu bila paksakan hati lalu kandas anganku kembali mengambang,tiada kepastian terbentang akan secuil kesungguhan dari belantaranya curahan.
Bila tak bisa, ijinkan kusendiri.
Bila tak sanggup, restui kupergi.
Daripada lama-lama membelukar jadi semak simalakama mengakar.
Sungguh kubimbang!

2017

 

IV

Skak!
Ada tangan di balik bidak
Bergerak, serentak membangun pertahanan menyusun jaringan kawan.
Menukar posisi, meretas agresi.
Peluncur melesat diagonal membuat langkah tak dikenal, benteng mati terpental.
Jangan menyesal. Bidak mundur satusatu, ratu sigap melaju raja mesti terlindung.
Tiada waktu untuk ragu, jangan mungkin langkah terbendung atau tersandung.
Mengatur strategi, menyerang atau mati bertahan atau lari.
Adakah tangan di balik bidak, bergerak serentak mencoba taktertebak.
Tiada mendadak, takpula sontak semua penuh rencana terpikir sebelumnya.
Disana memang di sana letaknya bukan kebetulan semata bukan percuma.
Pion coba melata, jangan jadi buta.

Skak Mat!
Oleh tangan di balik bidak

2017

V

Pengapnya stasiun kereta api. Satu-satunya tempat untuk berharap, bertaruh nyawa di atas kereta, bertaruh tenaga di dalam kereta.
Meski gelap semakin mendekap, mereka tak pernah menyerah, karena rindu tak tertahankan untuk bertemu keluarga tercinta.
Di stasiun kereta itu……
Mereka rela untuk berdesakan, agar dapat sedikit tempat supaya mereka dapat pulang.
Rasa gerah membakar kulit, rasa lelah meremukkan badan, hanya satu yang mereka ingat
Keluarga di kampung halaman.

2017

VI

Tegarlah wahai kau hati, kau sudah banyak melewati segala hinaan serta cacian dari manusia-manusia bersih tanpa dosa.
Tegarlah wahai kau hati, kau sudah merasakan yang namanya patah, kau sudah merasakan yang namanya perjuangan lalu diabaikan.
Tegarlah wahai kau hati, kau sudah merasakan pahit yang tiada tara hingga menusuk kesanubari.
Sekali lagi tegarlah wahai kau hati, Pencipta-Mu diatas segalanya.

2017

VII

Saat Malam datang dengan kesunyian..
Kutanyakan pada lubuk hati yang paling dalam..
Ku mencari sebuah makna kata, yang mengorek kalbu..
Mencari sebuah makna di balik rahasia-MU.

Pegiat literasi di Rumah Baca Pelita. Suka menuliskan coretan-coretan isi kepala ihwal apa saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *