Dengan Jeruji Mereka Diuji

 

Selasa Sore, sama seperti pada selasa sore pekan kemarin, halaman kompleks dalam Rutan Kelas IIB Kabupaten Majene tiba-tiba saja dipenuhi dengan ratusan buku yang tergelar diatas karpet bitu. Berbagai judul buku dijajakan dan jadi rebutan lebih seratusan penghuni Rutan. Penghuni Rutan kebanyakan laki-laki dan hanya beberapa tahanan wanita. Dibawah sebuah pohon kersen terdapat sebuah sound yang sengaja disiapkan untuk pengeras suara.

Seorang dari penghuni Lapas yang ditunjuk sebagai MC tiba-tiba memanggil sebuah nama yang tak lain adalah namaku.
“Selamat datang Muhammad Munir, dari Rumah Kopi dan Perpustakaan. Sejenak kami meminta kiranya saudara Munir bersedia memberikan arahan-arahan kepada kami dalam hal keliterasian”. Demikian suara yang mau tidak mau harus saya penuhi.

Masuk di area Rutan hari memang menjadi pengalaman pertama. Kendati 2004 lalu sempat merasai hidup di balik jeruji besi. Nginap selama seminggu lantaran sebuah insiden di Bonne-Binne Kec. Mapilli. Saat itu, seorang anak umur SD tiba-tiba memotong jalan pas dibelakang mobil pete-pete dari arah berlawanan. Tak ayal, anak kecil itu tertabrak. Ia terpental dan jatuh di aspal. Roda dua yang saya kendarai dengan kecepatan 70 Km/jam terguling dan jatuh. Darah meleleh di atas aspal jalan trans Sulawesi. Dengan sisa sisa tenaga, tubuh anak itu saya langkahi untuk berlari menyelamatkan diri dari amukan massa.

Peristiwa 2004 itu terulang kembali dalam ingatanku sembari berjalan diantara para tahanan yang berserakan di atas karpet sambil memvaca buku. Rupanya hari ini menjadi sebuah peristiwa yang mungkin aku tak akan sanggup menjalaninya andai itu menimpaku.

Hari ini, gara-gara literasi aku berpijak di bumi dan berhadapan dengan mereka yang masuk Rutan dari berbagai latar belakang kasus. Kasus mulai dari narkoba, pelecehan seksual, uang palsu dan kasus-kasus lain yang merenggut hak hidup mreka menghirup udara bebas.

Saya kemudian menyapa mereka dengan mesra sembari menyatakan bahwa ini adalah sebuah peristiwa yang mesti kita syukuri. Peristiwa seperti ini andai akan terulang, pasti situasi dan kondisinya akan lain. Hari ini saya datang kesini dengan buku. Maka saudara-saudaraku harus bisa bebas. Bebas melintasi cakrawala, bebas meyebrangi lautan, benua dan bahkan bebas mendesain apa saja yang saudara lakukan. Kalian mesti menjadikan buku sebagai oksigen dan tulisan menjadi nitrogen. Membaca buku dan menulis adalah sebuah kehidupan yang akan membuat kita hidup lebih hidup dan mati hanya satu kali.

Sebuah cerita hari itu saya hadiahkan bersama donasi buku yang sengaja saya titip buat mereka. Cerita tentang seorang natapidana dari Rappogafing Campalagian. Abdul Muttalib namanya. Ia bersepupu dengan bapak saya. Sebuah tragedii tiba-tiba membuatnya harus menjalani kehidupan barunya di penjara lantaran menghilangkan nyawa seseorang. Kendati alasannya adalah membela diri dan untuk memberi pelajaran agar ia tak meremehkan anak muda. Tapi karena ia menghilangkan nyawa maka ia harus mendekam dalam penjara di tahun-tanun 80an.

Abdul Muttalib mulai di tahan di Lapas Polewali, terus dipindahkan ke Majene dan terakhir ia direhabilitasi di Lapas Mamuju. Di Lapas Mamuju, ia mengisi hari-harinya dengan gitar sembari melantunkan lagu sayang-sayang. Ia memang mahir dan piawai memetik gitar dengan petikan Sayang-sayang. Mulai dari padang pasir, kemayoran dan lainnya ia kuasai. Rupanya, diluar penjara, ada seorang gadis yang kerap menikmati lantunan lagu dan petikan gitarnya.

Gadis itu tak lain adalah putri dari Camat Kasiwa Mamuju. Ia jatuh cinta pada pelantun dan pemetik gitar di penjara samping rumahnya. Seiring waktu berjalan, nasib baik menghampiri Abdul Muttalib. Ia dijamin oleh Camat untuk bisa bebas keluar lapas. Tak hanya itu, ia kemudian dinikahkan dengan putrinya. Abdul Muttalib mengawalii hidupnya bersama sang istri tercintanya. Ia terlanjur dikenal pemberani dan ditakuti warga lapas. Seorang Direktur Bank mempercayainya jadi Security. Bukan hanya itu, seorang pengusaha China memberinya kepercayaan untuk menagih nasabah sang Cina tadi. Dari situ ia bisa mandiri dan menghidupi keluarganya, kendati istrinya adalah seorang PNS.

Abdul Muttalib yang belakangan dikenal A’ba Tamsil ini sekarang punya aset di Mamuju berupa Wisma Putra Pirkam Depan Kantor DPRD Mamuju. Ia. Punya aset barang tak bergerak yang lumayan untuk sekedar hidup menikmati masa tuanya. Sampai hari ini, kendati tubuhnya sudah pernah diserang strok, tapi ia masih kelihatan kekar. Tubuhnya yang tinggi dan atletis ini masih sering saya dapati setiap pagi sambil minm kopi di beranda rumahnya yang ada dikompleks Wisma.

Itulah cerita yang kuurai dihadapan para penghuni rutan. Usai saya bicara, mereka bergantian membaca puisi, bercerita tentang kehidupan mereka. Ada yang menemaniku bercerita dan curhat yang sengaja saya biarkan mengalir Buat saya itu adalah serpihan rasa yang menarik untuk ditulis.

Hari pertama bercengkrama dengan mereka memberiku banyak cerita dan pengalaman yang layak dilisan tuliskan.

Adalah Mas’ud yang tiba-tiba saja mendatangiku dengan mengurai cerita. Mas’ud diusianya yang ke 43 tahun harus menjadi penghuni Rutan. Demikian juga Syahrul yang lahir tahun 1969 asal Malunda. Ia punya cukup pengalaman di tahan di Malaysia dan Bruney Darussalam. Ia mendekam disini dengan kasus Money politik pilgub. Belum lagi Bunda Sriana kelahiran 1973 yang kutahu hari-harinya ia lewati dengan indah dan glamour sebab uang terus mengalir dari koceknya hasil narkoba. Cukup terasa menyenangkan mengorek keterangan dari mereka. Tak canggung mereka mengakui perbuatannya. Sama seperti Ibu Hasria Hamid yang dijebloskan ke rutan ini atas kasus uang palsu.

Sungguh sebuah kisah yang menarik untuk dibukukan sebagai bacaan bagi penghuni rutan jika esok atau lusa masuk ke Rutan ini. Kendati masih banyak yang ingin kuinterview, namun adzan magrib rupanya menjadi alasan buat kami beranjak meninggalkan mereka. Semoga agenda-agenda lainnya bisa lebih mendekatkan kita kembali. Terima kasih teman literasi, Pimpinan dan jajaran pegawai Rutan. Sukses Literasi dan salam horatku buat Kepala Rutan Kelas IIB.2

Penggiat Literasi dan Pendiri Rumah Kopi dan Perpustakaan (Rumpita) Tinambung Kab. Polewali Mandar Prov. Sulawesi Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *