Deklarasi Perang: Puisi-Puisi Aris Munandar

Rain-Du

Aku pernah begitu mencintai hujan.
Bercinta dengannya meski sedikit asin.
Berjam-jam dalam rasa lalu padam tanpa kata, hujan.

Aku pernah begitu mencintai hujan.
Setia meski tak diharapkan.
ia bisa saja merasakan sakit karena tekanan.
Selalu sabar dalam pengabdian dan harapan.
meski tau pasti akan pergi dengan terpaan.

Aku memang mencinta hujan.
Iya, saat kamu sayang, masih bersama dalam pelukan.
Saat kamu masih menggenggam tangan
Saat kamu masih menari dalam pikiran.
Saat aku tau kamu tidak pernah punya payung atau jas hujan.

Aku tau aku tak lagi mencintai hujan
hilang diantara hati dan pikirian.
pergi bersama angin.
mati dalam pelukan.
bersamamu dengannya pergi dalam hujan.

Yogyakarta, 12 Februari 2018

 

Deklarasi Perang

Hampir saja malam berlalu.
bersama senja yang hilang begitu saja.
oh lupa! memang senja tidak menampakkan diri.
Seperti bersembunyi dibalik ombak yang mendayu-dayu bersama angin.

lalu Jogja dirundung rindu.
ketika langit mulai terbuka memuntahkan peluru air.
Mendeklarasikan perang
bersama aku yang tak lagi riang.
tak ada yang bisa mengelak.
aku berperang layaknya prajurit.
aku berpikir tidak akan gugur begitu saja hanya karena jutaan peluru.
hanya karena hentaman rindu.

Jogja belum juga tersenyum.
Aku tau aku juga demikian.
Aku bersama langit menjadi satu rasa yang padu.
bedanya dia karena banyak hal.
sementara aku hanya karena senja itu tak nampak lagi dipelupuk mata.

Aku seperti masih menunggu.
meski kutau menunggu tak mungkin menyenangkan.
Seperti berada diantara gelap dan sepi.

Aku mendengar Jogja itu istimewa.
Ada malioboro, ada alun-alun, ada gudeg.
bukan! bukan itu.
Ada kamu, sayang Jogja menjadi semakin istimewa.
Ada kamu Jogja menjadi riang.
Tanpa kamu Jogja akan rindu.
Tanpa kamu Jogja hanyalah Jogja.

Yogyakarta, 12 Februari 2018

Pegiat Perpustakaan Jalanan (ROTS) Rumah Baca Komunitas; Mahasiswa UMY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *