Bedah buku: Merayakan ‘Raya pada Huruf Z’

Diskusi Jum’at Sore Rumah Baca Komunitas Edisi 6 Oktober 2017 ini adalah tamu penulis yang proses ketemunya sangat unik dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Tapi tak apalah, yang penting berita ini turun tanpa takut bos website tak dijual ini.

“Berbarengan dengan itu, dua hari ini seekor capung seolah menjadi teman dari kegelisahanku, seolah ingin menunjukkan pertanda. Hinggap di tembok tanpa bersuara, kepakannya saja yang memberikan nada” (Tamia Bastian, Raya Pada Huruf Z, 2017)

Dejure Rumah Baca Komunitas akan mendiskusikan salah-satu karya fiksi berjudul, Raya Pada Huruf Z yang ditulis oleh seorang penikmat sastra, Tamia Bastian. Raya Pada Huruf Z mengangkat deskripsi dan narasi kronik kehidupan seorang perempuan di kawasan urban, lengkap dengan renungan dan proses intuisi sebagai bagian dari pendalaman kehidupan keseharian. Novel ini dituturkan secara efektif, dan secara hati-hati memperlihatkan kesungguhan sang karakter, Raya, untuk mengolah dan menemukan konstruk identitas sebagai seorang perempuan.

Rumah Baca Komunitas mengundang secara terbuka dalam diskusi novel Raya Pada Huruf Z, bersama penulis: Tamia BasTian, dan moderator: Uswatun Hasanah Sain P(pegiat Rumah Baca Komunitas) pada tanggal 6 Okt, pukul 19.00 Wib, di Padepokan Rumah Baca Komunitas (Dusun Sidorejo, RT 08, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul). Silahkan merapat, karena rapat itu penting sekali untuk memperkuat barisan.

poster by Yoga Mascu Salim

Selang sehari muncul postingan “Intermezo” dari penulis buku ini yang redaksi pikir-pikir penting dibaca dan menjadi pemungkas dari liputan hancur lebur ini:

Di Jumat malam, bersama teman – teman dari Rumah Baca Komunitas (RBK) Jogja.

***
Raya Pada Huruf Z adalah buku pertama saya dalam proses belajar di ruang penulisan. Entah ini menjadi karya yg baik atau tidak. Saya menganggap bahwa buku ini adalah rasa penasaran saya.

Kata mbk Uswatun yg memiliki panggilan Madam malam itu, “tulisan selalu menemukan pembacanya sendiri, jadi tdk perlu sungkan”

Sepertinya kalimat itu yang membuat saya sedikit pede untuk membedah isi dari tulisan pertama saya kala itu.

(Caption ini saya tulis sembari menunggu kereta malam Mutiara Selatan menuju Malang, sebagai persiapan event Pesta Malang Sejuta Buku yg semakin dekat dan ternyata berulang kali mengerjakan event tetap saja membuat perasaan saya gugup. Bagi saya pribadi, mengerjakan event selalu terasa baru dan selalu terasa awal karena memang tidak akan pernah sama. Maka selalu sama gugupnya. Mungkin kegugupan malam itu, bisa saya rasakan kembali malam ini)

Pesta Malang Sejuta Buku 2017 | Ketemu Buku #2 | Ruang Baca, Ruang Bicara || Taman Krida Budaya, 19 – 25 Oktober 2017

RBK adalah komunitas literasi yang sedang belajar mengamalkan praktik-praktik berkomunitas, menciptakan rumah untuk semua manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *