Anak Muda Yogya Terancam “Tunabuku”

KOTA YOGYAKARTA, DIY-Keadaan perkotaan di mana pun kini lebih baik buruknya ketimbang kebar bahagia. Seolah langit sudah sangat muram di atas kota-kota ‘modern’ akhir-akhir ini. Hal yang mengundang kepahitan kaum pegiat literasi adalah merebaknya anak-anak muda tanpa buku. Mereka diasuh oleh keinginan besar dengan daya minimalis (tidak punya daya beli terhadap buku bacaan berkualitas).

kost-bali-murah
FOTO:Kamar kost tanpa buku

Harga rumah di Yogyakarta semakin lama akan semakin naik. Sementara itu, banyak pegawai negeri atau pegawai swasta yang ingin membeli rumah. Standar gaji yang memenuhi syarat kelonggaran dalam mencicil rumah diketahui antara Rp4,5-5 juta rupiah perbulan agar bisa ikut program kredit pemilikan rumah (KPR). Lalu, bagaimana nasib anak muda Yogya yang bergaji rata-rata standar upah minimum regional?

 

Begitu kata pembuka laporan yang dilansir tirto.id awal bulan lalu. Sangat provokatif tetapi itulah kenyataan pahit bin getir yang mesti dibayar oleh warga Yogyakarta sebagai ‘pewaris’ paling syah atas wilayah tersebut. Kini kita saksikan, kamar-kamar yang dihuni anak-anak muda Yogya tidak lagi berisi buku-buku bacaan yang dapat menyemai pengetahuan, membawa kesadaran dan pencerahan.

Tulisan serupa sebanarnya juga jauh lebih membasis sebagaimana yang dilangsir di birokreasi.com (terjemahan dari artikel link ini) yang mengkisahkan bagaimana kegetiran life style ala kelas menengah ini juga mengancam anak-anak muda untuk bukan hanya tunawisma tetapi juga tunabuku. Mahasiswa di Yogyakarta tidak sedikit yang ruang kost-kost-an sempitnya itu tanpa hadirnya rak dan buku.

Beban gaya hidup ini tidak bisa dicoret dari daftar pengeluaran mereka: baju-baju dan perawatan tubuh, kongkow dan makan malam di tempat mewah, biaya transport naik taxi karena harus kerja sampai jam satu pagi, dan tagihan kopi Starbucks yang harus dibeli buat ketemu klien. Tidak lupa, sepatu hak tinggi dan gaun dan sebagainya. Ini kayak trade-off meminjam istilah Abdolah Munabari, aktifis Hartonomail.

Kota pendidikan pastilah terancam ketenaranna jika situasi semakin memburuk akibat masalah tak mampu beli rumah untuk keluarga muda dan juga tak mampu membeli buku baik karena alokasi budget habis untuk membayar bulanan KPR atau tak mampu beli buku akibat ikutin trend. “…kota pendidikan menjadi sirna ketika di kamar-kamar kost mahasiswa tanpa ada buku, tanpa diskusi persoalan-persoalan pelik keseharian,” komentar Rifki Sanahdi, dari ROTS.

gpk-magelang-oke

Selain itu satu  hal yang tidak menyenangkan dari anak-anak muda adalah gampang marah di jalanan di Jogja. Orang yang gampang marah mungkin sekali juga karena kebuntuhan ekonomi yang dideritanya. Ini menjadi pembenaran bahwa orang-orang kalah atau tersingkir secara ekonomi cenderung gampang marah dan mudah melakukan kekerasan.

Kesimpulan demikian seringkali didapatkan dari beragam seri diskusi di komunitas di Kota Yogyakarta. Namun demikian, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terkait fenomena manusia “tunabuku” di kota pelajar nan kesohor ini

 

RBK adalah komunitas literasi yang sedang belajar mengamalkan praktik-praktik berkomunitas, menciptakan rumah untuk semua manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *