Langsung ke konten utama

/RUMAH MANUSIA/



Selama kuliah, saya berpindah-pindah tempat berteduh. Ada 5 tempat yang menjadi tempat saya berteduh. Cerita tentang tempat berteduh, akan saya posting lima kali berturut-turut selama lima hari. Saya potong-potong supaya tidak terlalu panjang.

Tulisan ini sebagai upaya menyambung silaturahmi, kepada seluruh teman-teman saya, yang kini sudah berkarir di dunianya masing-masing. Karena tidak sekedar tempat teduh, di dalamnya saya juga bertemu dengan buku-buku dan orang-orang pembelajar ulung.

*

Tempat pertama.

Tahun 2012, awal saya  kuliah. Saya nunut di Rumah Baca Komunitas -selanjutnya saya tulis RBK. Di dalamnya saya mewakafkan diri sebagai pustakawan di RBK.
Menjadi pustakawan adalah menjadi teman buku-buku yang terhimpun di RBK. Menatanya di rak sesuai tema, membersihkannya dari debu-debu, dan menemani anak-anak yang bermain di RBK setiap sorenya.

Hal lain adalah, saya bisa numpang berteduh. Saat itu saya tidak mampu untuk bayar kos. Alhamdulillah, ada rumah semua manusia yang saya bisa nunut di dalamnya. Hahaha. . .

*

Kenapa saya tidak mampu membayar kos? Jadi begini ceritanya. Pertengahan tahun 2012, saya berpamitan kepada orang tua untuk pergi ke Yogya, dalam rangka bekerja. Tidak ada rencana kuliah. Kemudian saya bekerja sebagai marketing di usaha konveksi. Untuk biaya selama saya di Yogya, ditanggung sendiri.

Singkat cerita, si pemilik usaha konveksi tempat saya bekerja, juga salah satu perintis RBK. Saya pun diajak untuk menjadi pegiat di RBK.

*

Selama di RBK itulah, rencana saya berubah. Saya mendapat nasehat untuk melanjutkan kuliah. Nasehat itu dari bos konveksi tempat saya bekerja. Nasehat juga datang dari seorang sarjana psikologi UGM, saat diajak makan siang bersamanya.
Bos saya itu yang kelak menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Selain nasehat, seluruh pegiat di RBK adalah mahasiswa. Hal itu yang menjadikan saya terdorong untuk mendaftar kuliah. Singkat cerita lagi, saya mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Ahmad Dahlan. Lain waktu saya ceritakan.

*

Saya merasakan dunia baru. Berkenalan dengan buku dan orang-orang hebat di bidang keilmuan yang mereka tekuni. Jadi, sebelum kuliah, saya sudah diajak berfikir yang aneh-aneh. Merencang sesutau yang besar. Kemudian memulainya dari langkah kecil. Diajak pula merayakan kemenangan-kemengana kecil.

Berkenalan dengan buku, juga berjualan buku. Selama bulan Ramadhan Tahun 2012, saya pernah diajak untuk membuka lapak buku di halaman Masjid Syuhada. Sore sampai malam melapak, dan siangnya tidur. Saya jadi punya uang untuk mudik, dan membeli baju koko.

*

Saya merasa menjadi pegiat RBK (waktu itu belum ramai istilah pegiat literasi) setelah di tawari gorengan oleh Mahasiswa yang baru beberapa hari pulang dari Amerika. Saya menolaknya. Saya masih malu-malu. Beliau adalah orang hebat, jadi saya yang sales ini, minder di hadapan gorengan yang di suguhkannya. Mahasiswa yang memberi saya gorengan itu, yang kelak jadi Presiden Bagi Pegiat Literasi Muhammadiyah se-dunia.

*

“berfikirlah di luar kotak, tapi berbuatlah di dalam kota”. Saya mendapat nasehat itu dari seorang pegiat RBK. Beliau seorang peneliti, yang kelak akan menjadi dosen hebat di Bengkulu sana.

Dan, saya adalah orang yang sering dijadikan ekspreimen psikologi dan hipnotis dari seorang mahasiswa psikologi, yang sekarang mengabdi di Tanah Papua.

*

Pegiat RBK tidak sedikit. Mereka datang silih berganti. Semuanya adalah guru-guru saya. Sebagai pegiat yang paling muda, saya bersyukur bisa bersama orang-orang yang sudah melalui tempaan dalam hidupnya. Sehingga banyak nasehat dan pelajaran yang bisa saya terima. “Setiap orang yang saya temui, perlu saya apresiasi pertemuannya dengan saya”, begitu nasehat salah seorang pagiat RBK dari Manado.

*

RBK adalah tempat untuk berteduh bagi siapa saja. Bergetar hati saya menuliskan ini. Mohon maaf jika saya gagal menggambarkan situasinya. Tapi bagi yang pernah datang ke RBK, semoga ini perlahan bisa membangkitkan memori. Bahwa kita pernah berproses bersama, di RUMAH MANUSIA [Fikri Fadhilah]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpustakaan Jalanan Rumah Baca Komunitas

Catatan kesekian ratus dari Perpustakaan Jalanan RBK

Oleh: Lukman, Pegiat RBK

Hari ini aku bertemu dengan seorang bapak yang sempat mampir ke ROTS untuk mencari buku panduan sholat bahasa jawa. bapak ini menghisap sebatang rokok sambil bercerita tentang sedikit musibahnya dan ternyata ada hal yang cukup mengejutkanku, ternyata ia mengamalkan ilmu ekologis, dari jogja ke jakarta, madiun dan daerah-daerah lainya selalu berjalan kaki, setelah aku bertanya apa motivasinya berjalan kaki sejauh itu bapak ini menjawab "Dunia ini sudah semakin gila dan rusak" entah apa latar belakang ia mengatakan seperti itu tapi kemudian aku terpikirkan bahwa: memangnya kehidupan yang lebih baik itu memang sungguh-sungguh ada?

Keyakinanku tentang “dunia yang semakin membaik” nyaris sirna. Kemudian yang terpikirkan adalah kehidupan setelah mati nanti. Tapi, bukanlah setelah mati nanti, setelah usia kita usai, yang diminta oleh Tuhan adalah laku kita di dunia. Apa yang ditagih nantinya, bisa jadi bukan persoalan ritual peribadatan saja – bukan sekada…

Belajar Bahasa tidak harus berbiaya Uang, Belajar IELTS disini membayar dengan Obrolan