Langsung ke konten utama

Catatan kesekian ratus dari Perpustakaan Jalanan RBK


Oleh: Lukman, Pegiat RBK

Hari ini aku bertemu dengan seorang bapak yang sempat mampir ke ROTS untuk mencari buku panduan sholat bahasa jawa. bapak ini menghisap sebatang rokok sambil bercerita tentang sedikit musibahnya dan ternyata ada hal yang cukup mengejutkanku, ternyata ia mengamalkan ilmu ekologis, dari jogja ke jakarta, madiun dan daerah-daerah lainya selalu berjalan kaki, setelah aku bertanya apa motivasinya berjalan kaki sejauh itu bapak ini menjawab "Dunia ini sudah semakin gila dan rusak" entah apa latar belakang ia mengatakan seperti itu tapi kemudian aku terpikirkan bahwa: memangnya kehidupan yang lebih baik itu memang sungguh-sungguh ada?

Keyakinanku tentang “dunia yang semakin membaik” nyaris sirna. Kemudian yang terpikirkan adalah kehidupan setelah mati nanti. Tapi, bukanlah setelah mati nanti, setelah usia kita usai, yang diminta oleh Tuhan adalah laku kita di dunia. Apa yang ditagih nantinya, bisa jadi bukan persoalan ritual peribadatan saja – bukan sekadar berapa kali salat dan puasa. Lebih dari itu. Tuhan mungkin akan bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan di dunia untuk menjadikannya lebih baik?”

Aku tak pernah berpikir bisa menjadikan dunia lebih baik, memimpin hidup yang lebih baik bagi orang lain. Tapi, di tengah-tengah seluruh krisis kepercayaan dan keyakinan tentang semua itu, aku mulai meyakini satu hal. Dan mungkin, satu hal itu adalah yang tersisa dari semua semangat yang aku pupuk sedari dulu.

Menjadi sesungguhnya dan sepenuh-penuhnya manusia yang baik.

Yang ketika melihat pohon-pohon mulai tumbang dan dijadikan kertas, aku menanam satu bibit di depan halaman rumah. Yang ketika ikan-ikan mulai mati karena sampah plastik, aku berusaha sekuat mungkin mengurangi atau tidak menggunakan sama sekali plastik.  Yang ketika perang-perang tak juga kunjung berhenti, tangisan anak-anak mulai meradang, perempuan dan laki-laki mati tertimbun reruntuhan gedung-gedung, harus selalu ada doa yang terus terpanjatkan – sepanjang waktu – seawet mungkin. Meski, terkadang aku pribadi masih mempertanyakan kepada Tuhan kenapa perang-perang itu masih terjadi, aku masih yakin dengan doa-doa yang selalu terdengar. Sebab hati bisa jadi adalah benda yang memancarkan gelombang. Dan Tuhan selalu tahu bagaimana merengkuh semua gelombang.

Dan tentang sebab yang lain, bahwa doa adalah selemah-lemahnya usaha yang meski upayanya tak terlihat, Tuhan tahu kita sedang berusaha – menangis atas semua pelanggaran kemanusiaan. Marah atas kematian orang-orang tak bersalah. Dan oleh karenanya, Tuhan tahu bagaimana hati nurani kita digedor meski reaksinya hanya sekadar doa.

Tuhan menyaksikan seluruh niat baik, meski kemudian orang-orang di sekitarmu berkata bahwa apa yang kamu lakukan adalah kesia-siaan.

Tetapi, Tuhan menyaksikan seluruh niat baik. Tuhan melihat semuanya. Sekecil apapun. Tuhan melihatnya.

Dan jika seluruh upayaku terhadap kemanusiaan adalah kesia-siaan bagi manusia lainnya karena tak memiliki dampak besar, Tuhan tahu segalanya. Tahu segalanya. Tahu segalanya.

Bukankah, kita memang tak perlu membuat orang-orang tahu apa yang kita lakukan selama ini?

Meski belum bisa menciptakan dunia yang lebih baik, mari sama-sama tak berkontribusi atas semua kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelumnya. Seluruh keruwetan yang terjadi masa lampau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpustakaan Jalanan Rumah Baca Komunitas

Belajar Bahasa tidak harus berbiaya Uang, Belajar IELTS disini membayar dengan Obrolan