Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Catatan kesekian ratus dari Perpustakaan Jalanan RBK

Oleh: Lukman, Pegiat RBK

Hari ini aku bertemu dengan seorang bapak yang sempat mampir ke ROTS untuk mencari buku panduan sholat bahasa jawa. bapak ini menghisap sebatang rokok sambil bercerita tentang sedikit musibahnya dan ternyata ada hal yang cukup mengejutkanku, ternyata ia mengamalkan ilmu ekologis, dari jogja ke jakarta, madiun dan daerah-daerah lainya selalu berjalan kaki, setelah aku bertanya apa motivasinya berjalan kaki sejauh itu bapak ini menjawab "Dunia ini sudah semakin gila dan rusak" entah apa latar belakang ia mengatakan seperti itu tapi kemudian aku terpikirkan bahwa: memangnya kehidupan yang lebih baik itu memang sungguh-sungguh ada?

Keyakinanku tentang “dunia yang semakin membaik” nyaris sirna. Kemudian yang terpikirkan adalah kehidupan setelah mati nanti. Tapi, bukanlah setelah mati nanti, setelah usia kita usai, yang diminta oleh Tuhan adalah laku kita di dunia. Apa yang ditagih nantinya, bisa jadi bukan persoalan ritual peribadatan saja – bukan sekada…

Memimpin itu Menderita jangan gara gara fitnah pribadi semua Sumber daya negara harus turut sibuk

Memimpin itu Menderita jangan gara gara fitnah pribadi semua Sumber daya negara harus turut sibuk

Rumah Baca Komunitas di Sulawesi Barat

inilah yang disebut mikroba literasi. Suatu virus yang dikehendaki orang orang waras di zaman di mana kebanaran menjadi relatif, keadilan sebagai materi seminar, dan saat era dimana keserakahan berkuasa membabas semua ketahanan alam raya.

/RUMAH MANUSIA/

Selama kuliah, saya berpindah-pindah tempat berteduh. Ada 5 tempat yang menjadi tempat saya berteduh. Cerita tentang tempat berteduh, akan saya posting lima kali berturut-turut selama lima hari. Saya potong-potong supaya tidak terlalu panjang.

Tulisan ini sebagai upaya menyambung silaturahmi, kepada seluruh teman-teman saya, yang kini sudah berkarir di dunianya masing-masing. Karena tidak sekedar tempat teduh, di dalamnya saya juga bertemu dengan buku-buku dan orang-orang pembelajar ulung.

*

Tempat pertama.

Tahun 2012, awal saya  kuliah. Saya nunut di Rumah Baca Komunitas -selanjutnya saya tulis RBK. Di dalamnya saya mewakafkan diri sebagai pustakawan di RBK.
Menjadi pustakawan adalah menjadi teman buku-buku yang terhimpun di RBK. Menatanya di rak sesuai tema, membersihkannya dari debu-debu, dan menemani anak-anak yang bermain di RBK setiap sorenya.

Hal lain adalah, saya bisa numpang berteduh. Saat itu saya tidak mampu untuk bayar kos. Alhamdulillah, ada rumah semua manusia yang saya…