Langsung ke konten utama

Tindakan Literasi sebagai Tindakan Benar

Perjuangan literasi, di Yogyakarta nampaknya sudah dimulai oleh komunitas-komununitas baca. Salah satunya adalah Rumah Baca Komunitas (RBK).  Komunitas RBK ini menyediakan berbagai jenis bahan bacaane-book yang merupakan koleksi komunitas dan anggota yang dishare secara saka rela. Menariknya kekuatan komunitas ini adalah pada nilai voluntarisme. Jenis buku-buku yang tersedia meliputi buku bacaan umum seperti buku psikologi, social, ekonomi, motivasi, seri remaja, anak-anak, life skill, dan sebagainya.
baik buku, majalah,
Setidaknya ada dua kelebihan dari rumah baca komunitas ini. Pertama, buku-buku selain di kumpulkan dari gerakan hibah. Dimana semua orang dapat menitipkan buku/bacaan tanpa mengubah status kepemilikan. Kedua rumah baca ini sebagai tempat belajar alternatif 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Lebih dari seribu judul buku telah tersedia di rumah baca ini.
Selain menyediakan buku-buku, RBK juga mengadakan diskusi mingguna setiap jumat sore, disingkat dengan DeJure. Juga bedah buku setiap rabo sore. Dan tak yang menarik lagi adalah “RBK on the Street” atau “Perpustakaan Jalanan”. RBK on the Street (ROTS) ini digelar di Alun-alun Kidul (Alkid) Yogyakarta setiap Minggu Pagi. Suasana gelaran buku dari pagi jam 06.00 sampai dengan 10.30 wib cukup memuaskan yang mengunjungi baik yang sekeder melihat judul koleksi, duduk membaca sampai meminjam.
Kegiatan RBK on the street ini dapat memberikan motivasi bagi masyarakat betapa pentingnya budaya literasi. Relawan RBK on the Street ini berasal dari UIN, UAD, UGM, dan UMY. Komunitas literasi ini memiliki nilai penting. Wajib dipelihara dan dilestarikan. Semua orang dapat terlibat membaca atau meminjamkan bahan bacaan tanpa ada skat perbedaan agama, suku, usia, dan  apa pun di dalamnya.  Komunitas inilah adalah cermin dari penerimaan kami atas keberagaman anak bangsa
Dari apa yang telah dilakukan oleh para pegiat literasi di RBK Yogyakarta. Memberikan arti penting bahwa “Gerakan Membaca” adalah suatu gerakan yang harus dipelopori oleh siapa saja dan lebih dari itu, sebagai visi pencerdasan, pemberdayaan, dan pembebasan masyarakat,  maka negara pun tidak boleh absen dari gerakan ini. Tak ada bangsa yang maju tanpa budaya literasi. Tak ada budaya literasi tanpa didukung pemenuhan hak-hak akses buku-buku bacaan. Hak-hak mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi. Hak mengembangkan akal serta melakukan penelitian sebagai pengebdian kepada ilmu pengetahuan.
Peningkatan kemampuan literasi merupakan suatu prasyarat penting bagi pertumbuhan kualitas kehidupan. Memperjuangkan literasi bagi kepentingan orang banyak, merupakan tanggungjawab bersama masyarakat dan negara. Hal itu dapat dilakukan melalui pembentukan komunitas literasi, kampanye hak membaca dan buku murah bagi masyarakat, mendesak subsidi negara terhadap buku, serta berbagai agenda penting lainnya. Perjuangan literasi akan memberi dampak bagi perkembangan budaya literasi masyarakat. Hal tersebut tentu saja akan memberi pengaruh yang sangat signifikan bagi masyarakat di masa yang akan datang. Jihad literasi berarti memperjuangkan kualitas kehidupan yang lebih baik untuk generasi berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpustakaan Jalanan Rumah Baca Komunitas

Catatan kesekian ratus dari Perpustakaan Jalanan RBK

Oleh: Lukman, Pegiat RBK

Hari ini aku bertemu dengan seorang bapak yang sempat mampir ke ROTS untuk mencari buku panduan sholat bahasa jawa. bapak ini menghisap sebatang rokok sambil bercerita tentang sedikit musibahnya dan ternyata ada hal yang cukup mengejutkanku, ternyata ia mengamalkan ilmu ekologis, dari jogja ke jakarta, madiun dan daerah-daerah lainya selalu berjalan kaki, setelah aku bertanya apa motivasinya berjalan kaki sejauh itu bapak ini menjawab "Dunia ini sudah semakin gila dan rusak" entah apa latar belakang ia mengatakan seperti itu tapi kemudian aku terpikirkan bahwa: memangnya kehidupan yang lebih baik itu memang sungguh-sungguh ada?

Keyakinanku tentang “dunia yang semakin membaik” nyaris sirna. Kemudian yang terpikirkan adalah kehidupan setelah mati nanti. Tapi, bukanlah setelah mati nanti, setelah usia kita usai, yang diminta oleh Tuhan adalah laku kita di dunia. Apa yang ditagih nantinya, bisa jadi bukan persoalan ritual peribadatan saja – bukan sekada…

Belajar Bahasa tidak harus berbiaya Uang, Belajar IELTS disini membayar dengan Obrolan